googleb2757ebb443295f5 Masa Depan Cerah: Kimiawi Darah #11: Anak Allah yang sempurna

Kamis, 22 Maret 2012

Kimiawi Darah #11: Anak Allah yang sempurna

Darah lembu jantan, kambing jantan, dan domba jantan tidak dapat menebus dosa, tetapi hanya menunjuk ke masa depan, yakni kepada Seseorang yang akan datang pada akhir zaman untuk menghapus dosa dengan jalan mengorbankan diri-Nya sendiri. Jadi sesuai dengan rencana Allah, Ia mengutus Anak-Nya ke dalam dunia dan dilahirkan dari seorang perempuan, dan pada akhir hidup-Nya Ia mencurahkan darah-Nya yang kekal dan kudus satu kali dan untuk selamanya. Setelah itu tidak ada lagi pengorbanan. Darah dari hewan yang dikorban¬kan di dalam Perjanjian Lama sifatnya sia-sia dan kotor dan segera hilang, tetapi darah yang tercurah di Kalvari adalah darah yang kekal yang disebut darah yang kudus. Rasul Petrus mengatakan,

[18] Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyang-mu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, [19] melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus.... 1 Petrus 1:18-19

Darah Tuhan Yesus adalah darah yang tidak berdosa, dan karena tidak berdosa, Ia adalah suci, sebab dosa membawa kesia-sisan dan di mana tidak ada dosa di sana tidak ada kesia-sisan. Pada bagian lain dari buku ini kita akan melihat mengapa darah yang mengalir di dalam tubuh Yesus adalah darah yang tidak berdosa. Setiap tetes darah yang mengalir di dalam tubuh Yesus tetap hidup dan tetap segar ketika ia mengalir keluar dari punggung, tangan, kaki, dan lambung-Nya yang terluka.

Darah yang mengucur dari tubuh-Nya di taman Getsemani, darah yang membasahi punggung-Nya ketika Ia disiksa dengan cambuk yang ujung-ujungnya berbentuk bola-bola kecil berduri dan terbuat dari besi sehingga mencabik-cabik tubuh-Nya. Seperti momok yang menyeramkan bagi-Nya, darah yang keluar dari kepala-Nya ketika ditancapkan mahkota duri, yang me¬ngucur ke tangan-Nya, ke kaki-Nya tidak pernah binasa karena darah-Nya adalah darah yang kudus. Daud memuji Dia di dalam kitab Mazmur 16, yang juga dikutip oleh rasul Petrus di dalam kitab Kisah Para Rasul 2, yang berbunyi:

[27] Sebab Engkau tidak menyerahkan aku kepada dunia orang mati, dan tidak membiarkan orang kudus-Mu melihat kebinasaan. Kisah Para Rasul 2:27.

Walaupun tubuh Tuhan Yesus Kristus terbaring di dalam kubur selama tiga hari tiga malam, tidak ada kebinasaan karena darah-Nya mengandung darah yang kekal. Lazarus yang telah mati selama empat hari, menurut saudaranya telah berbau, tetapi tubuh Tuhan Yesus tidak binasa, karena yang menyebabkan kebinasaan adalah darah yang berdosa dan itu tidak terdapat di dalam tubuh-Nya. Setiap tetes darah-Nya tetap hidup. Mungkin ketika Imam Besar kita naik ke surga, Ia masuk ke dalam ruangan Maha Kudus, di dalam hadirat Allah, untuk memercikkan darah ke atas tabut Perjanjian di surga, seperti halnya yang dilakukan oleh imam besar di dalam Perjanjian Lama. Di dalam kitab Ibrani kita membaca:

[23]Jadi segala sesuatu yang melambangkan apa yang ada di surga haruslah ditahirkan secara demikian, tetapi benda-¬benda surgawi sendiri oleh persembahan-persembahan yang lebih baik daripada itu. [24] Sebab Kristus bukan masuk ke dalam tempat kudus buatan tangan manusia yang hanya merupakan gambaran saja dari yang sebenarnya, tetapi ke dalam surga sendiri untuk menghadap hadirat Allah guna kepentingan kita. [25] Dan la bukan masuk untuk berulang-ulang mempersembahkan diri-Nya sendiri, sebagaimana Imam Besar setiap tahun masuk ke dalam tempat kudus dengan darah yang bukan darahnya sendiri. "Sebab jika demikian la harus berulang-ulang menderita sejak dunia ini dijadikan. Tetapi sekarang la hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya, pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa oleh korban-Nya. Ibrani 9:23-26.

Setelah Kristus melakukan penebusan, Dia bangkit dari liang kubur, dan kemudian, sebagai Imam Besar Yang Kekal, Ia naik ke surga untuk mempersembahkan darah di dalam kekudusan di tempat Allah bersemayam, dan darah itu ada di sana saat ini, membela dan menguduskan kita. Imam di dalam Kemah Suci tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun. Yang dilakukan-nya hanyalah mempersembahkan darah, dan cukup sampai di situ.

Mungkin ada cawan emas di surga yang berisikan setiap tetes darah yang tetap hidup, murni, berkuasa, dan segar seperti dua ribu tahun yang lalu. Imam di dalam Kemah Suci di dunia harus terus-menerus mengulangi kewajibannya, yaitu memercikkan darah, dan ini merupakan fakta yang jelas bahwa di antara semua perabotan di dalam Kemah Suci tidak ditemukan adanya kursi. Kita melihat adanya mezbah, meja, lampu, dan tabut Allah, tetapi tidak disebutkan tentang adanya kursi di dalam Kemah Suci bangsa Israel. Secara sederhana fakta ini menunjukkan bahwa tugas seorang imam di atas muka bumi yang memercikkan darah hewan korban tidak akan pernah berhenti. Ia tidak bisa duduk untuk beristirahat. Pekerjaannya tidak akan pernah selesai. Namun tentang Imam Besar Yesus Kristus, kita membaca:

[12]Tetapi la, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, la duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah... ""Sebab oleh satu korban saja la telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang la kuduskan. Ibrani 10:12, 14.

Darah telah dicurahkan -- darah yang tidak binasa, kekal, berkuasa, tidak berdosa, mahal, dan yang mengalahkan Iblis. la berlaku pada masa lalu, dan juga pada masa kini dan selama-lamanya kuasanya tidak akan pernah hilang.

Karena semua inilah, darah di dalam Alkitab disebutkan di dalam beberapa istilah. "Darah yang mahal," kata rasul Petrus. "Darah yang tidak binasa," kata Daud. "Darah yang mengalahkan," kata rasul Yohanes di dalam kitab Wahyu, karena mereka mengalahkan dia (Sela) oleh darah Anak Domba dan oleh perkataan kesaksian mereka. Itulah sebabnya Iblis sangat membenci darah dan ia akan melakukan apa saja untuk menghancurkan kuasa darah Kristus!

Saat ini kebenaran yang berlaku bagi bangsa Israel berlaku juga bagi kita, yaitu tidak ada pengampunan tanpa darah. Sampai saat ini karakter hukum ini tidak berubah; demikian juga halnya dengan darah. Hukum itu tetap merupakan pelayanan yang; memimpin kepada kematian (2 Korintus 3:7).

Kebenaran ini juga masih berlaku bahwa "terkutuk¬lah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat" (Galatia 3:10). Mereka, yang hidup di bawah hukum Taurat, hidup di bawah kutuk. Hukum yang tertulis mematikan (2 Korintus 3:6). Allah berfirman kepada bangsa Iarael dan kepada kita, "Apabila Aku melihat darah itu maka Aku akan lewat dari pada kamu" (Keluaran 12:13). Ia tidak berkata, "Apabila Aku melihat kebaikanmu, kesalehanmu, pekerjaanmu, kehidupan ibadahmu yang teratur, ketaatanmu dalam mematuhi Sepuluh Hukum atau mematuhi hukum Taurat, maka Aku akan lewat daripadamu."

Tidak, hanya seperti berikut ini: Apabila Aku melihat darah, maka Aku akan lewat daripadamu. Apakah saudara kira saya terlalu menekankan pentingnya darah, bahwa saya terlalu melebih lebihkan akan makna darah itu sendiri?

Dengarkan, darah disebutkan di dalam Alkitab kurang lebih 700 kali mulai dari kitab Kejadian sampai kitab Wahyu, dan bila kita melihat di dalam kitab Wahyu orang banyak di surga yang telah ditebus, kita mendengar mereka menyanyikan pujian, bukan tentang kebaikan mereka, bukan pula tentang ketaatan dan kesetiaan mereka dalam memelihara hukum Taurat, tetapi nyanyian berikut:

[5]"Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan
kita dari dosa kita oleh darah-Nya--" Wahyu 1:5.


Klik disini untuk melanjutkan membaca Kimiawi Darah #12: Kelahiran Suci & Ketidakberdosaan Yesus

Sumber:
Buku saku “KIMIAWI DARAH” oleh M.R. DeHaan, M. D.
penuai.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan menuliskan komentar Anda. Kami akan segera menanggapinya. Terimakasih, Tuhan memberkati.