googleb2757ebb443295f5 Masa Depan Cerah: IT IS WELL WITH MY SOUL

Jumat, 09 Maret 2012

IT IS WELL WITH MY SOUL

Oleh: Julita Manik (Penyanyi dan pencipta lagu Kristiani)

Beberapa waktu lalu saya turut menghadiri gathering keluarga. Dan pada kesempatan itu seorang keponakan bersuara emas menyanyikan dua buah pujian. Salah satu lagu yang dinyanyikan adalah sebuah lagu hymne :
"It is well with my soul": When peace, like a river, attendeth my way, When sorrows like sea billows roll; Whatever my lot, Thou has taught me to say,

It is well, it is well, with my soul. * Refrain: It is well, with my soul, It is well, it is well, with my soul.

Semua keluarga yang hadir sangat terharu mendengar setiap lirik yang dinaikkan gadis kecil ini. Bahkan banyak juga yang meneteskan air mata.

Bagaimana tidak ?

Beberapa bulan sebelumnya, akhir Januari sampai awal Maret 2011 gadis kecil ini terbaring di ICU selama 1.5 bulan.

Kehidupan keluarganya digoncangkan karena penyakit Encephalitis yang tiba-tiba menyerang otaknya.

Dari seorang anak kecil yang pintar, lincah, dan bersuara emas (sering memenangkan lomba nyanyi), mendadak menjadi tidak berdaya di ICU dengan selang-selang infus yang memenuhi sekujur tubuhnya.

Bernafaspun harus memakai alat bantu. Tubuhnya terpaksa di-knockdown oleh tim medis, karena kalau tidak, setiap beberapa menit akan mengalami kejang-kejang. Kehidupan yang berbalik 180 derajat terjadi dengan sangat tiba-tiba. Tanpa peringatan apa-apa.

Dokter berpendapat sudah tidak ada harapan. Bahkan kalaupun nanti gadis kecil ini bisa sadar kembali, maka resikonya adalah cacat mental.

Keluar dari ICU, masih harus menjalani perawatan di Rumah Sakit selama 2 bulan dengan kondisi masih harus belajar bernafas, dan harus belajar lagi untuk makan, duduk, bicara dan berjalan. Belajar dari awal lagi untuk mengenali orang-orang yang mengasihinya.

Kondisi otaknya benar-benar seperti baru di ctrl-alt-del.

Tapi Tuhan Yesus Maha Besar (dan tidak ada yang seperti Dia).

11 Juni 2011, kami mendengar gadis kecil ini menyanyikan "it is well.... it is well... with my soul'.

Suaranya masih bening dan indah seperti dulu. Dan yang mengherankan, ia hafal seluruh lirik lagu pujian ini dari awal sampai akhir.

Masih panjang dan berat perjalanan pemulihan tubuhnya, tapi gadis kecil ini berkata, "it is well, it is well with my soul."

Sebuah makna pengucapan syukur yang amat sangat sangat sangat dalam, because she sang a thanksgiving from the desert.


"IT IS WELL WITH MY SOUL" (story behind the song)

Saya penasaran sekali siapa yang menciptakan lagu hymne "It is Well with My Soul" yang sudah menjadi berkat bagi orang percaya selama ratusan tahun.


Dan akhirnya saya mengerti kenapa lagu ini begitu luar biasa memberkati.
He wrote a thanksgiving song from the desert.

Nama penulis lagu ini adalah HORATIO G. SPAFFORD (1828-1888).
Seorang lawyer di Chicago yang kaya dan sukses. Tentunya kita berpikir bahwa statement "it is well with my soul" itu diciptakan dalam masa-masa kegemilangannya. X X X. Salah besar. Justru lagu tersebut diciptakan dalam titik terendah dalam kehidupannya.



WHEN STORM STRIKES

Horatio Spafford bukan hanya kaya, tetapi juga seorang percaya yang sangat mendukung pelayanan tubuh Kristus. Salah seorang penginjil besar pada masa itu yang didukung oleh Horatio adalah D.L Moody.

Tahun 1870, anak laki-laki satu-satunya, meninggal karena penyakit scarlet fever. Seperti belum cukup badai menerpa, setahun sesudahnya, tahun 1871 investasi Horatio di bidang real estate di Lake Michigan tersapu bersih oleh kebakaran besar yang melanda Chicago.

Akhir tahun 1873, untuk menghibur keluarganya, Horatio dan Anna istrinya berniat untuk berlibur ke Eropa bersama 4 orang anak perempuannya, Annie, Maggie, Bessie and Tanetta. Horatio menunda keberangkatannya karena mendadak ada urusan bisnis yang tidak bisa ditinggalkan. Hanya Anna dan anak-anak saja yang ikut dalam kapal tersebut.



Pada tanggal 22 November 1873 kapal Ville de Havre yang ditumpangi Anna dan ke 4 anak perempuannya bertabrakan dengan kapal The Lochearn.

Dalam tempo 12 menit kapal ini tenggelam ke dasar laut dengan korban jiwa 226 orang. Bagaimana dengan nasib Anna dan ke 4 anak perempuannya?

"SAVED ALONE......"

Sebelum kapal itu tenggelam, Anna berdiri di dek kapal, berpegangan erat dengan Annie, Maggie, Bessie and Tanetta. Dan akhirnya mereka harus menyerah kepada kekuatan ombak laut.


Horatio menerima telegram dari istrinya Anna,

"Saved alone..., what shall I do?"

Suatu kenyataan yang sangat pahit. Tidak satupun anak mereka yang selamat. Horatio segera menyusul istrinya, dan di tengah perjalanan, kapten kapal memanggil Horatio dan menunjukkan lokasi dimana kapal Ville de Havre tenggelam. Horatio menatap laut yang dalamnya hampir 5 km, tempat dimana ke empat jasad anak perempuannya terkubur.

Yang dilakukan selanjutnya oleh Horatio membuka babak baru dalam kehidupannya. Dia tidak menangis menggerung-gerung, tidak marah-marah dan menyerapahi Tuhan, tapi....

dia kembali ke kabinnya, mengambil pena dan secarik kertas, dan menulis kata demi kata......


When peace like a river, attendeth my way,
When sorrows like sea billows roll;
Whatever my lot, Thou hast taught me to say,
It is well, it is well with my soul.
.................................
................................

HE TAUGHT EVERYONE IN THE DESERT TO GIVE THANKS IN EVERYTHING


Dalam kurun waktu 3 tahun, Horatio kehilangan semua anaknya (1 anak laki-laki dan 4 anak perempuan), juga harta kekayaannya.

Sungguh suatu penderitaan yang hampir setara dengan penderitaan Ayub.

Yang membedakan dengan Ayub, Horatio tidak mengalami sakit penyakit dan istrinya tetap setia mendampinginya.

Coba renungkan.......

Horatio tidak punya alasan untuk bersyukur, namun ia bersyukur.
Horatio memiliki banyak alasan untuk menggerutu, namun ia bersyukur.
Horatio memiliki cukup alasan untuk tidak percaya dan meninggalkan Tuhan, namun ia tetap setia.

Horatio memiliki cukup alasan untuk kecewa dan tidak lagi melayani Tuhan karena pernyataan saudara seiman yang berkata "kesalahan apa yang dilakukan oleh Anna dan Horatio, sehingga mengalami tragedi ini?" Namun ia tidak kecewa dan tetap gigih melayani Tuhan hingga akhir hayatnya. Yang dilakukannya hanya mengucap syukur di padang gurun.

Dan melalui lagu yang dia tulis, Horatio mengajarkan banyak orang percaya yang diijinkan mengalami padang gurun untuk bersyukur.

Sekalipun tidak mengerti, kenapa semuanya terjadi.

Lagu hymne ini sudah berumur 135 tahun, dan menjadi sebuah lagu abadi sepanjang masa.

Sudah sangat terbukti memberkati jutaan demi jutaan orang percaya untuk bertahan dalam iman dan kesetiaan kepada Tuhan, bahwa Tuhan tidak pernah merancangkan kecelakaan kepada umatNya.


Friends, God has reasons we cannot see.

"All that we can do is : in everything give thanks; for this is the will of God in Christ Jesus for you." 1 Thessalonians 15:8 / NKJV

Dikutip dari Sumber asli: http://julitamanik.blogspot.com/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan menuliskan komentar Anda. Kami akan segera menanggapinya. Terimakasih, Tuhan memberkati.