googleb2757ebb443295f5 Masa Depan Cerah: Kasih SetiaNya besar (Mazmur 5:8)

Kamis, 22 Maret 2012

Kasih SetiaNya besar (Mazmur 5:8)

Oleh Ir. Lilik Logari

Hidup untuk percaya dan percaya untuk menderita merupakan dua sisi kehidupan yang kurang sepadan nampaknya. Sebagian orang ingin hidup untuk percaya saja dan tidak menghendaki penderitaan sebagai akibat yang timbul dari kepercayaan, sebagian orang lain ingin menderita saja dan mengklaim suatu kebenaran bahwasanya penderitaanlah bukti apakah seseorang percaya atau tidak.

Beberapa ahli ilmu sosial percaya bahwa kemiskinan menjauhkan manusia dari Tuhan maksudnya ialah, didalam kemiskinan yang berlarut-larut, manusia bisa apatis dan tidak mau percaya kepada Allah yang Maha Kasih, sulit bagi mereka untuk bisa percaya berita bahwa Allah mengasihi mereka, bila mereka selalu menghadapi piring yang kosong dan dapur yang tak berasap, walau tak sedikit pula manusia yang kehilangan Tuhan, atau lebih tepat menghilang dari persekutuan, ketika segala kelimpahan memenuhi hidupnya dan kesuksesan menyapa dengan ramah, tidak punya lagi waktu untuk berdoa apalagi membaca Firman Tuhan.

Hidup untuk percaya dan percaya untuk menderita merupakan dua bidang kehidupan yang dianugerahkan Allah didalam pribadi Yesus Kristus, hidup untuk percaya adalah berkat utama dari proklamasi Injil, sementara percaya untuk menderita adalah miniatur atau berkat yang mengikuti berkat utama, dimana didalamnya Tuhan Yesus Kristus berdiri sebagai figur utama. Hidup untuk percaya dan percaya untuk menderita merupakan dua iklim kehidupan Kristen yang sama intensitasnya, karena hidup untuk percaya adalah kerinduan universal Allah terhadap dunia yang berarti bagi setiap orang yang meresponi Injil, tetapi percaya untuk menderita adalah peristiwa kedua setelah hidup untuk percaya menjadi bagian seseorang.

Jadi tidak benar bahwa setiap orang percaya pasti akan menderita, tetapi pada saat penderitaan itu datang sebagai akibat dari berita Injil, maka secara bersamaan hidup untuk percaya dan percaya untuk menderita harus diterima sebagai dua momentum kehidupan yang sama dari segi kuantitas dan kualitas. Yang menjadi pertanyaan, mampukah jemaat dalam keadaan sulit dan gelap seperti itu mengatakan, "Mengucap syukurlah dan bersukacitalah kepada Tuhan" atau "Satu hal saja yang kuminta, agar ku dapat diam di rumah Tuhan".

Wah luar biasa, tidak seperti cinta manusia, kasih Tuhan itu kekal senantiasa. Kasih setia Tuhan selalu memenuhi hari-hari di sepanjang hidup kita, kita bisa bangun pagi, bernafas, bergerak, bekerja, makan dan menikmati rezeki yang menjadi bagian bagi kita, bukankah semua itu kasih setia Tuhan? Hidupkan kembali api kerinduanmu apabila telah padam, masuklah dan sujud menyembahlah dalam baitNya, karena kasih setiaNya besar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan menuliskan komentar Anda. Kami akan segera menanggapinya. Terimakasih, Tuhan memberkati.