googleb2757ebb443295f5 Masa Depan Cerah: Untuk menanggung murka Allah

Rabu, 21 Maret 2012

Untuk menanggung murka Allah

Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!" - [Galatia 3:13].
Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian (propisiasi) karena iman, dalam darahNya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya - [Roma 3:25].

Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian [propisiasi] bagi dosa-dosa kita - [1 Yohanes 4:10].

Andaikata Allah tidak adil, tidak akan ada tuntutan terhadap Anak-nya untuk menderita dan mati. Andaikata Allah tidak kasih, tidak akan ada kerelaan untuk mengaruniakan Anak-Nya untuk menderita dan mati. Tetapi Allah adalah adil dan kasih. Oleh karena itu, kasih-Nya rela untuk memenuhi tuntutan keadilan-Nya.

Hukum Allah menuntut, "Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu" (Ulangan 6:5). Tetapi kita lebih mengasihi hal lain. Inilah dosa - tidak menghormati Allah dengan lebih memilih hal lain daripada diri-Nya, dan bertindak berdasarkan pilihan tersebut. Oleh karena itu, Alkitab berkata, "Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah" (Roma 3:23). Kita mendahulukan apa yang paling kita sukai. Sayangnya, yang kita sukai bukanlah Allah.

Oleh sebab itu, dosa bukan perkara kecil, karena dosa bukan melawan Pemegang Kedaulatan yang kecil. Seriusnya hinaan meningkat sesuai dignitas pihak yang dihina. Sang Pencipta alam semesta seharusnya berhak mendapatkan hormat dan pujian serta loyalitas yang tak terbatas. Oleh karena itu, kegagalan dalam mengasihi Dia bukanlah perkara yang sepele - ini adalah pengkhianatan. Kegagalan ini mencoreng nama baik Allah dan menghancurkan kebahagiaan manusia.

Karena Allah itu adil, Dia tidak serta merta mengabaikan kejahatan ini. Dia merasakan murka yang kudus terhadap kejahatan ini. Kejahatan ini layak dihukum, dan dia menegaskannya: "Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita" (Roma 6:23). "Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati" (Yehezkiel 18:4).

Terdapat kutuk yang kudus yang membayangi semua dosa. Tidak menghukum dosa berarti melakukan ketidakadilan. Ini akan menyebabkan didukungnya sikap menghina Allah. Kebohongan akan merajalela dalam kehidupan nyata. Oleh sebab itu, Allah berkata, "Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam Kitab hukum Taurat" (Galatia 3:10; Ulangan 27:26).

Tetapi kasih Allah tidak terhenti karena kutuk yang membayangi manusia yang telah berdosa. Allah tidak puas dengan menyatakan murka, tidak peduli dengan kudusnya murka tersebut. Maka Allah mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk menanggung murka-Nya dan menanggung kutuk tersebut demi semua manusia yang percaya kepada-Nya. "Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita" (Galatia 3:13).

Inilah arti dari "jalan pendamaian" atau propisiasi dalam kutipan ayat diatas (Roma 3:25). Propisiasi berarti murka Allah diredakan karena telah disediakan pengganti yang setimpal yang menanggung murka tersebut. Pengganti itu disediakan oleh Allah sendiri. Sang Pengganti, Yesus Kristus, tidak hanya tidak hanya membatalkan penanggungan murka Allah kepada orang berdosa; Dia menanggung murka tersebut dengan mengalihkannya kepada diri-Nya. Murka Allah itu adil, dan murka itu telah dipuaskan, bukannya ditiadakan.

Marilah kita jangan bermain-main dengan Allah atau meremehkan kasih-Nya. Kita tidak akan pernah terkesima akan kasih Allah sampai kita menyadari betapa seriusnya dosa kita dan keadilan murka-Nya terhadap kita. Tetapi, ketika oleh anugerah, kita disadarkan akan ketidaklayakan kita, kita boleh melihat kepada penderitaan dan kematian Kristus dan berkata, "Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian (propisiasi) bagi dosa-dosa kita (1 Yohanes 4:10).

Sumber: Buku The Passion of Jesus Christ oleh John Piper.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan menuliskan komentar Anda. Kami akan segera menanggapinya. Terimakasih, Tuhan memberkati.