googleb2757ebb443295f5 Masa Depan Cerah: Waspada SpongeBob! Kasar, brutal dan cabul.

Kamis, 15 Maret 2012

Waspada SpongeBob! Kasar, brutal dan cabul.

Tapi kini ditayangkan sebuah stasiun TV nasional sampe empat kali sehari. Tokoh sentral dari tontonan kartun ini bernama Bob, sosok berupa busa atau bentuk persegi, dan berwarna kuning. Bersama kawan-kawannya, semisal Patrick dan Garry, Bob melakukan hal-hal konyol, lucu dan kadang di luar dugaan. Film kartun keluaran Nickelodeon Channel ini, beberapa saat setelah pemutarannya, memang cukup menyita perhatian. Banyak pemirsa, bukan cuma di negara asalnya AS, tapi juga negara-negara lain dimana film ini disiarkan, kepincut sama para tokoh dan cerita dalam film kartun ini. Bersaing sama film animasi lainnya, seperti Micky Mouse yang keluaran Walt Disney, SpongeBob SquarePants masuk sepuluh besar kartun terkaya dan nangkring di posisi tujuh versi majalah Forbes. Di Indonesia sendiri, peminatnya bukan cuma anak-anak, tapi juga orang dewasa. Dewi Rezer, artis yang juga mantan VJ MTV itu, di satu acara infotainment ngaku sebagai pecandu berat SpongeBob. Dan kenyataanya, nih, beberapa orang kantoran buka kartu ke Rajawali kalau kartun yang disiarin di Lativi setiap hari dengan empat kali penayangan itu adalah tontonan favorit mereka.

Tapi, ada enggak, sih, sesuatu yang lain di balik kelucuan dan tampang imut tokoh-tokoh kartun ini? Ternyata, di samping banyak orang suka, SpongeBob juga banyak dapat kritikan. Tontonan ini dinilai bisa nularin sesuatu yang buruk lantaran tokoh-tokohnya enggak jarang ngeluarin kata-kata makian dan kadang berkelakuan 'brutal'. Misalnya dalam satu episode, Bob dan sahabatnya, Patrick, baku hantam pakai balok kayu. Dan yang astaga, belakangan baru ketahuan kalau kartun SpongeBob banyak berisikan lambang-lambang cabul

Keluhan Buat Sponge Bob dkk

Pdt. Deacon Fred dari Gereja Landover secara enggak sengaja nemuin sesuatu yang menjijikkan dalam SpongeBob, saat dia nemenin cucunya nonton film kartun tersebut. Waktu dia sadar apa itu, secara spontan Deacon merebut remote control dari tangan cucunya untuk mengganti channel Deacon lalu mempresentasikan temuannya tersebut di depan jemaatnya.

Menurutnya, film tersebut banyak menyampaikan pesan-pesan seks dan cabul secara terselubung. Contoh yang paling jelas adalah Sponge Bob sendiri, yang kalau posisi tubuhnya di balik, hidung dan matanya, akan terlihat seperti (ups! sorry...) penis dengan dua testikalnya (kalo kamu perhatiin baik-baik, ini ada benarnya, lho). Begitu juga dengan makhluk berwarna merah lembayung yang juga berbentuk penis, Patrick, yang kalau ketemu sama satu dari teman-temannya selalu mengeluarkan suara mengerang-ngerang yang datar dan tertawa genit enggak terkendali. Dia seperti sedang memasturbasikan dirinya ke teman-temannya.

Deacon lalu meminta tim khusus yang dipimpin oleh Dr. Jonathan Edward untuk melakukan penyelidikan terhadap kartun ini. Hasil temuan dari penyelidikan tersebut, it's totaly make them shock! Bahkan terlalu mengejutkan buat diungkapin dengan kata-kata. Dr. Edward mengatakan, hampir semua tokoh dan bagian dari film kartun tersebut, seperti pohon, rumah, etc, berbentuk seperti organ-organ seks. "Mereka bergelantungan di mana-mana dan berbicara omong kosong," kata Edward. Bahkan, muncul beberapa asumsi yang bilang kalau film kartun SpongeBob mempromosikan kehidupan gay pada masyarakat, khususnya pada anak-anak (sekedar informasi, tuduhan mempromosikan homoseksual ini juga pernah menimpa kartun Teletubbies).

Btw, bukan cuma di negerinya sendiri, SpongeBob di lndonesia juga enggak lepas dari keluhan. Walaupun enggak seheboh yang dikemukakan sama Pdt. Deacon dan Dr.Edward, kritikan yang umumnya terlontar dari para ortu ini cukup penting, lho.

Kritikannya antara lain menyangkut jam tayang yang berlebihan buat kartun SpongeBob dan beberapa terjemahan bahasanya yang kasar seperti “kiss my butt” (cium bokong saya). Kritikan dari masyarakat ini terungkap saat Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Jabar, Dadang Rahmat, dan Ketua Bidang P3 SPS Dr. Atie Rachmiati, MSi meyampaikan temuannya pada koran Pikiran Rakyat di Bandung beberapa waktu lalu. Kata mereka, keluhan-keluhan tersebut disampaikan masyarakat dalam bentuk keluhan langsung melalui sambungan telpon atau surat tertulis atas nama individu dan kelompok. Umumnya keluhan datang dari kaum ibu yang ngerasain langsung efek dari tayangan tersebut pada anak-anak mereka.

Tanpa bermaksud bikin heboh dan nakut-nakutin, ada baiknya, deh, saat kamu nonton film kartun ini kamu mencermatinya lagi. Sekalipun belum ke-luar komentar resmi dari pihak terkait yang mengatakan SpongeBob SquarePant memang tayangan yang merusak dan perlu diwaspadai, keluhan-keluhan yang ditujukan buat Bob dkknya itu perlu banget buat kamu jadiin pertimbangan. Yang artinya, kamu juga harus berpikir dua, tiga atau bahkan empat kali buat 'menyantap' tontonan kartun ini sebagai tontonan favorit kamu. Begitu juga, kalau kamu punya adik kecil yang mungkin usianya masih balita. Kamu perlu mengingatkan dan mendampingi saat mereka nonton ini acara.

Tahu, kan, dalam ilmu komunikasi yang bilang kalau stimuli yang kita terima dari luar bisa mempengaruhi diri kita. Artinya, apa yang kita lihat atau dengar, apalagi kalau itu terjadi dalam intensitas yang enggak sedikit, akan terekam dalam memori kita, yang enggak mustahil, lambat laun bakal mempengaruhi cara berpikir atau tingkah laku kita kelak. Entah itu sesuatu yang baik atau buruk. Nah, kalau benar apa yang dituduhkan Dr. Edward, Pdt. Deacon, dan para orangtua itu, dengan nonton si Mr. SpongeBob dkknya ini, berarti kamu sudah ngebiarin sesuatu yang buruk masuk ke dalam pikiran kamu. Aware, deh!

Sumber: salib.net

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan menuliskan komentar Anda. Kami akan segera menanggapinya. Terimakasih, Tuhan memberkati.