googleb2757ebb443295f5 Masa Depan Cerah: Karunia Bahasa Roh

Kamis, 12 April 2012

Karunia Bahasa Roh

Note: Artikel ini hanya membahas bukti Alkitabiah untuk bahasa roh, (tanpa membicarakan ‘gerakan kharismatik’ modern)

1. Pengertian

Bahasa Roh atau bahasa lidah, Yunani (glôssolalia, Yunani), -- ungkapan ini tidak ada dalam Perjanjian Baru Yunani -- merupakan gabungan dari kata glôssa yang berarti lidah, organ tubuh yang digunakan untuk berbicara, dan kata kerja laleô, berbicara, berkata, mengeluarkan suara dari mulut.


* Markus 16:17
LAI TB, Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka,
KJV, And these signs shall follow them that believe; In my name shall they cast out devils; they shall speak with new tongues;
TR, σημεια δε τοις πιστευσασιν ταυτα παρακολουθησει εν τω ονοματι μου δαιμονια εκβαλουσιν γλωσσαις λαλησουσιν καιναις
Translit. interlinear, sêmeia {tanda-tanda (ajaib)} de {lalu} tois {(orang-orang yang)} pisteusasin {percaya} tauta {ini} parakolouthêsei {akan menyertai} en {demi} tô onomati mou {namaku} daimonia {roh-roh jahat} ekbalousin {mereka akan mengusir } glôssais {dengan bahasa-bahasa (dengan lidah-lidah)} lalêsousin {mereka akan bicara} kainais {baru}

Istilah ‘bahasa lidah’, ‘bahasa asing’, ‘bahasa roh’, dalam Perjanjian Baru menggunakan kata yang sama yaitu 'γλωσσα - glôssa', "lidah". Markus 16:17 menulis 'γλωσσαις λαλησουσιν καιναις ; glôssais lalêsousin kainais', "berbicara dengan lidah yang 'baru'"; Kisah Para Rasul 2:4 menulis 'lalein heterais glôssais', "berbicara dengan lidah yang 'lain'"

Mulai Kisah Para Rasul 10:45 dan seterusnya tidak ada lagi kata 'heterôs' (yang lain) maupun 'kainos' (yang baru), melainkan kata kerja λαλεω - laleô, "berbicara" dan 'γλωσσα - glôssa', "lidah".

Jadi, baik dalam Kisah Para Rasul maupun surat Korintus menggunakan kata dan ungkapan yang sama yang dewasa ini dikenal dengan 'γλωσσολαλια - glôssolalia'.

Ada dua jenis bahasa lidah, yaitu bahasa lidah yang dimengerti oleh orang lain (Kisah 2:4) dan bahasa lidah yang harus ditafsirkan karena tidak dimengerti oleh orang lain (1 Korintus 14:2) :

* Kisah 2:4
LAI TB, Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya
KJV, And they were all filled with the Holy Ghost, and began to speak with other tongues, as the Spirit gave them utterance.
TR, και επλησθησαν απαντες πνευματος αγιου και ηρξαντο λαλειν ετεραις γλωσσαις καθως το πνευμα εδιδου αυτοις αποφθεγγεσθαι
Translit. interlinear, kai {lalu} eplêsthêsan {mereka dipenuhi} apantes {semua} pneumatos {(oleh) Roh} hagiou {kudus} kai {dan} êrxanto {mulai} lalein {berkata-kata} heterais {lain/ asing} glôssais {dalam bahasa-bahasa (lidah-lidah)} kathôs {menurut} to {(itu)} pneuma {Roh} edidou {memberikan} autois {kepada mereka} apophtheggesthai {untuk mengatakan}

* 1 Korintus 14:2
LAI TB, Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorang pun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia.
KJV, For he that speaketh in an unknown tongue speaketh not unto men, but unto God: for no man understandeth him; howbeit in the spirit he speaketh mysteries. {understandeth: Gr. heareth}
TR, ο γαρ λαλων γλωσση ουκ ανθρωποις λαλει αλλα τω θεω ουδεις γαρ ακουει πνευματι δε λαλει μυστηρια
Translit interlinear, ho {(orang yang)} gar {karena} lalôn {berkata-kata} glôssê {dengan (bahasa) lidah} ouk {tidak} anthrôpois {kepada manusia-manusia} lalei {berkata-kata} alla {tetapi} tô theô {kepada Allah} oudeis {tidak satupun} gar {sebab} akouei {mengerti} pneumati {dalam Roh} de {tetapi} lalei {mengatakan} mustêria {rahasia-rahasia}

Baik bahasa "lidah" atau karunia "lidah" dengan bahasa "roh" itu sama saja. Kedua-duanya diterjemahkan dari kata Yunani ‘glôssa’. Istilah bahasa lidah atau karunia lidah akrab bagi kalangan tempo doeloe yang akrab dengan Alkitab Terjemahan Lama, yaitu sebelum tahun 1974. Karunia roh dalam Kisah Para Rasul (dimengerti oleh orang lain) dan surat kiriman Paulus (tidak dimengerti oleh orang lain) menggunakan kata yang sama yaitu ‘glôssa’. Dalam ayat-ayat sebelumnya sudah disinggung, namun marilah kita perhatian terjemahan berikut ini :

* 1 Korintus 12:10
LAI TB, Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan 'BAHASA ROH', dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan 'BAHASA ROH' itu.
LAI TL, dan kepada orang lain, perbuatan mudjizat, dan kepada jang lain nubuat, dan kepada jang lain membedakan segala roh, dan kepada orang lain berdjenis-djenis 'KARUNIA LIDAH', dan kepada jang lain pengetahuan mengartikan makna 'LIDAH' itu.
KJV, To another the working of miracles; to another prophecy; to another discerning of spirits; to another divers kinds of tongues; to another the interpretation of tongues:
TR, αλλω δε ενεργηματα δυναμεων αλλω δε προφητεια αλλω δε διακρισεις πνευματων ετερω δε γενη γλωσσων αλλω δε ερμηνεια γλωσσων
Translit. interlinear, allô de{(dan kepada yang lain)} energêmata {perbuatan2} dunameôn {(yang menghasilkan) mujizat2} allô {yang lain} de {dan} prophêteia {karunia memberi pesan (nubuat)} allô {(kepada) yang lain} de {dan} diakriseis {membedakan} pneumatôn {roh-roh} heterô {yang lain} de {dan} genê {jenis-jenis} glôssôn {bahasa-bahasa lidah} allô {(kepada) yang lain} de {dan} hermêneia {penerjemahan/ penafsiran} glôssôn {bahasa-bahasa lidah (bahasa-bahasa roh)}

Bahasa lidah pertama kali dalam Kisah Para Rasul pasal 2 merupakan "bahasa-bahasa" (bentuk jamak), tidak berbeda dengan bahasa lidah dalam jemaat Korintus. Kedua-duanya tidak dimengerti oleh pembicara, dalam Kisah Para Rasul hanya dimengerti oleh orang lain, sedangkan dalam Korintus tidak dimengerti orang lain, oleh karena itu memerlukan penafsiran dan/atau penerjemahan. Kata Yunani 'hermêneia' di samping bermakna menafsirkan juga bermakna menterjemahkan (lihat, Yohanes 1:38; 1:42; 9:7; Ibrani 7:2).


2. Karunia Roh – Karunia Bahasa Lidah

Tatkala murid-murid yang telah berkumpul dipenuhi dengan Roh Kudus pada hari Pentakosta, mulailah mereka ‘berkata kedalam bahasa-bahasa (glôssai) lain’ seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk dikatakannya :

* Kisah 2:4-11
2:4 Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.
2:5 Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit.
2:6 Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri.
2:7 Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: "Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea?
2:8 Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita:
2:9 kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia,
2:10 Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma,
2:11 baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah."

Sehingga banyak orang Yahudi dari luar Palestina tercengang mendengar puji-pujian bagi Allah yang dalam bahasa (glôssa, Kisah 2:11) dan dialek-dialek (dialektos, Kisah 2: 6-8) yang dipakai di negeri mereka sendiri. Walaupun umum diterima bahwa Lukas melaporkan murid-murid itu berbicara dengan bahasa-bahasa asing, namun keterangan ini tidak diterima oleh seluruh orang. Sejak dari zaman bapa-bapa Gereja, ada yang menafsirkan ayat 8 itu sebagai mujizat pendengaran, yang dikerjakan dalam diri pendengar-pendengar.

Yang dimaksud dengan bahasa lidah disini adalah bahasa lidah yang "benar-benar" merupakan karunia Roh Kudus, bukan bahasa lidah yang dibuat-buat, dipelajari, atau ditiru. Berbicara dalam bahasa roh ialah karunia Roh yang disebut dalam ayat-ayat berikut ini :

* Kisah 10:44-46
LAI TB,
10:44 Ketika Petrus sedang berkata demikian, turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu.
10:45 Dan semua orang percaya dari golongan bersunat yang menyertai Petrus, tercengang-cengang, karena melihat, bahwa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga,
10:46 sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah.
KJV,
10:44 While Peter yet spake these words, the Holy Ghost fell on all them which heard the word.
10:45 And they of the circumcision which believed were astonished, as many as came with Peter, because that on the Gentiles also was poured out the gift of the Holy Ghost.
10:46 For they heard them speak with tongues, and magnify God. ….

TR translit. interlinear,
10:44 eti {masih} lalountos {ketika mengatakan} tou petrou {petrus} ta rêmata {kata-kata} tauta {ini} epepesen {turun} to pneuma {Roh} to hagion {Kudus} epi {ke atas} pantas {semua} tous {(orang-orang yang)} akouontas {mendengarkan} ton logon {(itu) pemberitaan}
10:45 kai {dan} exestêsan {tercengang-cengang} hoi ek {dari} peritomês {golongan yg bersunat} pistoi {(orang-orang) yang percaya} hosoi {semua} sunêlthon {(yang) pergi bersama} tô petrô {petrus} hoti {karena} kai {juga} epi {ke atas} ta ethnê {bangsa-bangsa(bukan Yahudi)} ê dôrea {(sebagai) pemberian} tou hagiou {kudus} pneumatos {Roh} ekkekhutai {telah dicurahkan}
10:46 êkouon {mereka mendengar} gar {sebab} autôn {mereka} lalountôn {berkata-kata} glôssais {dalam bahasa lidah } kai {dan} megalunontôn {memuji kebesaran} ton theon {Allah}. ….

* Kisah 19:6
LAI TB, Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat.
KJV, And when Paul had laid his hands upon them, the Holy Ghost came on them; and they spake with tongues, and prophesied.
TR, και επιθεντος αυτοις του παυλου τας χειρας ηλθεν το πνευμα το αγιον επ αυτους ελαλουν τε γλωσσαις και προεφητευον
Translit. interlinear, kai {lalu} epithentos {ketika menumpangkan } autois {pada mereka} tou paulou {paulus} tas kheiras {tangan-tangan} êlthen {datang} to pneuma {Roh} to hagion {kudus} ep {ke atas} autous {mereka} elaloun {mereka berkata-kata} te {dan} glôssais {dengan (bahasa) lidah} kai {dan} proephêteuon {penyampaikan pesan Allah (bernubuat)}

* Kisah 10:45
LAI TB, Dan semua orang percaya dari golongan bersunat yang menyertai Petrus, tercengang-cengang, karena melihat, bahwa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga,
TR, και εξεστησαν οι εκ περιτομης πιστοι οσοι συνηλθον τω πετρω οτι και επι τα εθνη η δωρεα του αγιου πνευματος εκκεχυται
Translit. interlinear, kai {dan} exestêsan {tercengang-cengan} hoi ek {dari} peritomês {golongan yang bersunat} pistoi {(orang-orang) yang percaya} hosoi {semua} sunêlthon {(yang) pergi bersama} tô petrô {petrus} hoti {karena} kai {juga} epi {ke atas} ta ethnê {bangsa-bangsa (non Yahudi)} hê dôrea {(sebagai) pemberian} tou hagiou {Kudus} pneumatos {Roh} ekkekhutai {telah dicuhahkan}

Kepenuhan Roh Kudus itu dapat terjadi lebih dari satu kali, bandingkan ayat Kisah Para Rasul 2:4 diatas dengan Kisah 4:31 ini :

* Kisah 4:31
LAI TB, Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani
TR, και δεηθεντων αυτων εσαλευθη ο τοπος εν ω ησαν συνηγμενοι και επλησθησαν απαντες πνευματος αγιου και ελαλουν τον λογον του θεου μετα παρρησιας
Interlinear, kai {lalu} deêthentôn {setelah berdoa} autôn {mereka} esaleuthê {digoyang} ho topos {tempat} en {(dimana)} hô êsan sunêgmenoi {mereka berkompul} kai {dan} eplêsthêsan {mereka dipenuhi} hapantes {Semua} pneumatos {Roh} hagiou {Kudus} kai {lalu} elaloun {mengatakan} ton logon {kabar (baik)} tou theou {dari Allah} meta {dengan} parrêsias {berani}


3. Penolakan Karunia Bahasa Lidah

Tokoh Kristen Gregorius dari Nasianzus (Orat, 41.10, In Pantecosten) menolak bahwa karunia bahasa lidah adalah karunia Roh Kudus, penolakan ini dengan dasar bahwa pandangan ini mengalihkan mujizat dari murid-murid ke orang banyak yang tidak percaya, dan mengabaikan juga kenyataan bahwa berbicara dengan bahasa roh itu sudah mulai sebelum ada pendengar-pendengar (Kisah 2:4, bandingkan dengan ayat dalam Kisah 2:6) :

* Kisah 2:4
Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.

* Kisah 2:6
Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri.

Banyak ahli modern yang bercorak rasionalistis berpendapat bahwa glôssolalia, dalam Kisah 2:1-13 serupa dengan yang diterangkan Rasul Paulus dalam 1 Korintus pasal 12 s/d pasal 14, dan merupakan pengungkapan orang yang kesurupan yang tak dapat dimengerti. Mereka menduga bahwa apa yang mereka sebut ‘berita asli’ tentang hari Pentakosta (Kisah 2:1-6a, 12 dan ayat selanjutnya, tanpa ‘heterais’, dalam Kisah 2:4) hanya menceritakan pengungkapan yang bersifat kesurupan, dan Lukas sendiri menyisipkan singgungan bahasa-bahasa lain. Maksudnya menurut mereka adalah, atau memberi keterangan yang lebih enak pada saat ketika glôssolalia tidak dihormati lagi (inilah pendapat H. Weinel, dalam bukunya Die Wirkungen des Geistes und der Geister, 1899, p 74 dab), atau sebagai tafsiran yang merupakan lambang pembalikan dari kutuk di menara Babel (Kejadian 11:1-9), atau sebagai kesejajaran dengan pemberian hukum Taurat di Gunung Sinai dalam 70 bahasa umat manusia (ini adalah cerita dalam Midrasy Tankhuma, 25c: Lihat FJ Foakes-Jackson dan K Lake, The Beginning of Christianity, p 114 dab).

Tapi pandangan-pandangan ini merupakan ketidak-percayan belaka. Tidak ada bukti dalam Kitab Kisah Para Rasul untuk mendasarinya, dan tidak masuk akal bahwa Lukas dapat salah mengerti kodrat glôssolalia. Kesejajaran yang jelas mengingat bahwa ingatannya pasti dipengaruhi oleh kenyataan, dan bahwa para murid secara nyata berbicara dengan bahasa-bahasa lain. Sampai berapa jauh hal itu terjadi tidak diketahui dengan pasti, sebab kebanyakan pendengar agaknya mengerti bahasa Yunani atau bahasa Aram, tapi paling sedikit logat Galilea mereka dibebaskan dari sifat-sifatnya yang khas, sehingga dapat dimengerti oleh orang banyak yang berbicara jamak itu (ayat Kisah 2:7, bandingkan dengan Markus 14:70)

* Markus 14:70
LAI TB, Tetapi Petrus menyangkalnya pula. Tidak lama kemudian orang-orang yang ada di situ berkata juga kepada Petrus: "Engkau ini pasti salah seorang dari mereka, apalagi engkau seorang Galilea!"
KL 1870, Tetapi bersangkallah ija poela. Maka sabentar lagi kata orang jang berdiri dekat itoe poela kapada Peteroes: Sasoenggoehnja engkau sa’orang kawan mareka-itoe, karena engkaulah orang Galilea, dan behasamoe pon bagitoe djoega.
KJV, And he denied it again. And a little after, they that stood by said again to Peter, Surely thou art one of them: for thou art a Galilaean, and thy speech agreeth thereto.
TR, ο δε παλιν ηρνειτο και μετα μικρον παλιν οι παρεστωτες ελεγον τω πετρω αληθως εξ αυτων ει και γαρ γαλιλαιος ει και η λαλια σου ομοιαζει
Translit Interlinear, ho {(ia)} de {tetapi} palin {pula} êrneito {menyangkal} kai {lalu} meta {sesudah} mikron {sedikit (waktu)} palin {pula} hoi {(orang-orang yang)} parestôtes {berdiri di samping } elegon {berkata} tô petrô {kepada petrus} alêthôs {benar} ex {(dari)} autôn {mereka} ei {(engkau berasal)} kai {memang} gar {karena} galilaios {orang galilea} ei {engkau adalah} kai {dan} hê lalia {bahasa (dialect/ mode of speech/ pronunciation)} sou {engkau} omoiazei {seperti itu}

* Markus 16:17
LAI TB, Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka,
KJV, And these signs shall follow them that believe; In my name shall they cast out devils; they shall speak with new tongues;
TR, σημεια δε τοις πιστευσασιν ταυτα παρακολουθησει εν τω ονοματι μου δαιμονια εκβαλουσιν γλωσσαις λαλησουσιν καιναις
Translit. interlinear, sêmeia {tanda-tanda (ajaib)} de {lalu} tois {(orang-orang yang)} pisteusasin {percaya} tauta {ini} parakolouthêsei {akan menyertai} en {demi} tô onomati mou {namaku} daimonia {roh-roh jahat} ekbalousin {mereka akan mengusir } glôssais {dengan bahasa-bahasa (dengan lidah-lidah)} lalêsousin {mereka akan bicara} kainais {baru}

Berbicara dalam bahasa (lidah) yang baru ('glôssais lalêsousin kainais' disebut dalam Markus 16:17 ini sebagai tanda yang akan menyertai iman kepada Tuhan Yesus Kristus. Tanda itu menyertai pencurahan Roh Kudus kepada orang-orang non-Yahudi pertama yang bertobat (Kisah 10:44-46; Kisah 11:15) dan pasti merupakan salah satu penjelmaan yang kelihatan di tengah-tengah orang-orang percaya pertama kepada Mesias tanpa menyadari tentang pentakosta berbicara dalam bahasa roh, tatkala Roh Kudus turun kepada mereka (Kisah 19:6). Dalam setiap peristiwa glôssolalia yang umum menyuguhkan dimasukkannya golongan orang percaya baru ke dalam Gereja Yahudi Kristen yang berhati-hati itu (bandingkan Kisah 10:47; Kisah 11:17-18 ).


4. Menafsirkan/ Menterjemahkan Bahasa Lidah

Glôssolalia yang timbul di Korintus dalam beberapa segi berbeda dari yang diterangkan dalam Kitab Kisah Para Rasul di Yerusalem, seperti yang di Kaisarea dan Efesus, seluruh kumpulan menerima karunia yang diinginkan itu (1 Korintus 12:10,30). Nampaknya dalam Kitab Kisah glôssolalia merupakan pengalaman mula-mula yang bersifat sementara dan yang tak dapat ditolak, tetapi di Korintus terletak dibawah kuasa si pembicara dalam bahasa roh itu (1 Korintus 14:27-28).

Saat Pentakosta ‘kata-kata Roh’ itu segera dimengerti oleh pendengar, tapi di Korintus karunia tambahan untuk menafsirkannya harus ada untuk membuatnya dapat dimengerti (Ayat 5,13,27). Hanya pada peristiwa Pentakosta berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain disebut secara khusus. Tapi dimana-mana glôssolalia dilukiskan sebagai terdiri dari ucapan yang jelas dan bermakna, yang diilhamkan Roh Kudus dan digunakan terutama dalam ibadah (Kisah 2:11; Kisah 10:46; 1 Korintus 14:2, 14-17, 28 ).

Bahasa-bahasa roh, bermacam-macam sifatnya (1 Korintus 12:10). Di Korintus agaknya bahasa roh itu bukan bahasa asing, yang dinamai Paulus dengan kata lain (phone , 1 Korintus 14:10-11), sebab yang harus ada untuk memahaminya bukanlah kepandaian ilmu bahasa, tetapi suatu karunia khusus :

* 1 Korintus 14:10-19
14:10 Ada banyak -- entah berapa banyak -- macam bahasa di dunia; sekalipun demikian tidak ada satu pun di antaranya yang mempunyai bunyi yang tidak berarti.
14:11 Tetapi jika aku tidak mengetahui arti bahasa itu, aku menjadi orang asing bagi dia yang mempergunakannya dan dia orang asing bagiku.
14:12 Demikian pula dengan kamu: Kamu memang berusaha untuk memperoleh karunia-karunia Roh, tetapi lebih dari pada itu hendaklah kamu berusaha mempergunakannya untuk membangun Jemaat.
14:13 Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia untuk menafsirkannya.
14:14 Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa.
14:15 Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku.
14:16 Sebab, jika engkau mengucap syukur dengan rohmu saja, bagaimanakah orang biasa yang hadir sebagai pendengar dapat mengatakan "amin" atas pengucapan syukurmu? Bukankah ia tidak tahu apa yang engkau katakan?
14:17 Sebab sekalipun pengucapan syukurmu itu sangat baik, tetapi orang lain tidak dibangun olehnya.
14:18 Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih dari pada kamu semua.
14:19 Tetapi dalam pertemuan Jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh.

Bahasa roh itu bukan hanya suara-suara yang tak berarti yang bersifat kesurupan, walaupun nalar budi si pembicara tidak berkenan (ayat 13-14) dan ucapan-ucapannya tetap tidak dapat dimengerti bahkan olehnya sendiripun, jika tiada yang menafsirkan, sebab kata-kata (ayat 19) dan maknanya (ayat 14-17) tetap diakui, dan bahasa roh yang sudah ditafsirkan sama nilainya dengan nubuat (ayat 5). Suatu bentuk bahasa tertentu diisyaratkan oleh kata Yunani untuk ‘menafsirkan’, yang dimanapun dalam PB terkecuali Lukas 24:27, selalu berarti ‘menterjemahkan’. Sekarang kita kaji ayat berikut ini:

* 1 Korintus 12:10
LAI TB, Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan 'BAHASA ROH', dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan 'BAHASA ROH' itu.
LAI TL, dan kepada orang lain, perbuatan mudjizat, dan kepada jang lain nubuat, dan kepada jang lain membedakan segala roh, dan kepada orang lain berdjenis-djenis 'KARUNIA LIDAH', dan kepada jang lain pengetahuan mengartikan makna 'LIDAH' itu.
KJV, To another the working of miracles; to another prophecy; to another discerning of spirits; to another divers kinds of tongues; to another the interpretation of tongues:
TR, αλλω δε ενεργηματα δυναμεων αλλω δε προφητεια αλλω δε διακρισεις πνευματων ετερω δε γενη γλωσσων αλλω δε ερμηνεια γλωσσων
Translit. interlinear, allô de{(dan kepada yang lain)} energêmata {perbuatan2} dunameôn {(yang menghasilkan) mujizat2} allô {yang lain} de {dan} prophêteia {karunia memberi pesan (nubuat)} allô {(kepada) yang lain} de {dan} diakriseis {membedakan} pneumatôn {roh-roh} heterô {yang lain} de {dan} genê {jenis-jenis} glôssôn {bahasa-bahasa lidah} allô {(kepada) yang lain} de {dan} hermêneia {penerjemahan/ penafsiran} glôssôn {bahasa-bahasa lidah (bahasa-bahasa roh)}

Ada hal menarik jika ingin mengkaji kata "yang lain" menurut 1 Korintus 12:10. Bahasa Yunani menggunakan dua kata yang bermakna "yang lain" yaitu 'allôs' dan 'eterôs'. Ilustrasinya demikian:

Jika seseorang menawarkan buah mangga kepada saya dan saya minta 'allôs', berarti saya minta "mangga" yang lain, namun jika saya minta 'eterôs', berarti saya minta "buah" yang lain (yang bukan mangga), barangkali jambu. Nah, baik mujizat, nubuat, dan penafsiran bahasa lidah menggunakan kata 'allôs', "yang lain" dari jenis yang sama, tetapi khusus untuk bahasa lidah itu sendiri menggunakan kata 'eterôs', "yang lain" dari jenis yang berbeda.

Yang tidak kalah menarik adalah bentuk tunggal dan jamak, hanya dua saja yang ditulis dalam bentuk tunggal yaitu 'prophêteia', "nubuat", dan 'hermêneia', "penafsiran"; yang lain ditulis dalam bentuk jamak. Jadi, seseorang dapat mengadakan banyak mujizat, yang lain dapat berkata dalam banyak bahasa lidah, tetapi hanya satu nubuat dan satu penafsiran saja bagi yang lain pula.


5. Tanda bagi orang yang tidak beriman?

* 1 Korintus 14:22
LAI TB, Karena itu karunia bahasa roh adalah tanda, bukan untuk orang yang beriman, tetapi untuk orang yang tidak beriman; sedangkan karunia untuk bernubuat adalah tanda, bukan untuk orang yang tidak beriman, tetapi untuk orang yang beriman.
TR, ωστε αι γλωσσαι εις σημειον εισιν ου τοις πιστευουσιν αλλα τοις απιστοις η δε προφητεια ου τοις απιστοις αλλα τοις πιστευουσιν
Translit. interlinear, hôste {karena itu} hai glôssai {bahasa-bahasa lidah} eis {(sebagai)} sêmeion {tanda (peringatan)} eisin {(berfungsi)} ou {bukan} tois {(bagi orang-orang yang)} pisteuousin {percaya} alla {melainkan} tois {(bagi orang-orang)} apistois {yang tidak percaya} hê de {dan} prophêteia {karunia memberi pesan Allah (nubuat)} ou {bukan} tois {(bagi orang-orang)} apistois {yang tidak percaya} alla {melainkan} tois{(bagi orang-orang)} pisteuousin{percaya}

Bahasa roh dalam pertemuan jemaat bisa menjadi suatu tanda yang negatif kepada orang yang tidak percaya karena bahasa roh itu menunjukkan bahwa orang yang tidak percaya itu terpisah dari Allah dan tidak dapat mengerti apa yang sedang terjadi. Akan tetapi, nubuat adalah suatu tanda bagi orang percaya, karena mereka menyadari bahwa itu merupakan karya Roh Kudus yang adikodrati dan bukti bahwa Allah sedang bekerja di dalam jemaat. Bahasa roh bisa menjadi tanda juga bagi orang percaya yang menunjukkan bahwa Roh sedang dicurahkan dan dimanifestasikan di antara umat Allah.


6. Penggunaan Bahasa Lidah

Secara Pribadi:

* 1 Koritus 14:15
"Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku."

Paulus menunjuk kepada pengalaman pribadinya, kepada penggunaan bahasa roh secara pribadi.

"Aku berdoa dengan rohku" berarti berdoa dengan bahasa roh, dengan menggunakan rohnya sendiri oleh dorongan Roh Kudus. Roh orang percaya berdoa sementara Roh Kudus memberikan apa yang harus dikatakannya. Di sini Paulus membicarakan tentang penggunaan bahasa roh secara pribadi yang ditujukan kepada Allah. Paulus menggunakan bahasa roh tidak hanya untuk berdoa, tetapi juga untuk menyanyi, memuji, dan mengucapkan syukur kepada Allah.

"Berdoa dengan akal budiku" berarti berdoa dan memuji dengan akal budinya sendiri dalam bahasa yang telah dipelajarinya, juga oleh dorongan Roh Kudus.

* 1Korintus 14:2
Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorangpun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia.

Pada dasarnya ada dua cara untuk memahami ayat ini.

Pertama, beberapa orang percaya bahwa ayat ini menunjukkan bahwa penggunaan utama bahasa roh, baik dalam jemaat maupun secara pribadi, adalah terutama untuk berbicara kepada Allah dan bukan kepada manusia.

Ketika bahasa roh ditujukan kepada Allah, maka pembicara itu sedang berhubungan dengan Allah oleh Roh Kudus dalam bentuk doa, pujian, nyanyian, ucapan berkat, dan ucapan syukur. Yang diucapkan itu adalah "hal-hal yang rahasia", yaitu hal-hal yang tidak dapat dipahami oleh pembicara itu dan oleh para pendengar. Penafsiran ucapan dalam bahasa roh itu mengizinkan jemaat untuk masuk ke dalam manifestasi dari penyembahan yang dipimpin Roh sehingga mereka dapat berkata "Amin" kepada doa atau pujian yang diilhami Roh.

Kedua, pada pihak lain, pernyataan Paulus itu bisa berarti bahwa hanya Allah yang mengerti bahasa roh itu (kecuali itu ditafsirkan). Implikasinya adalah bahwa bahasa roh, bila ditafsirkan, diarahkan kepada manusia. Pandangan ini didukung oleh pernyataan Paulus yang menyatakan bahwa berkata-kata dengan bahasa roh tidak diucapkan kepada manusia karena "tidak ada seorang pun yang mengerti".

Didepan Umum :

Penggunaan karunia ini harus diawasi oleh kehendak pembicara, sekalipun bahasanya tidak dimengerti. Bahasa Lidah boleh dipakai didepan umum, hanya bila ada yang hadir yang dapat menafsirkannya :

* 1 Korintus 14:27-28
14:27 Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya.
14:28 Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan Jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah

Pada ayat selanjutnya (1 Korintus 14:29-30 dab) dijelaskan mengenai karunia nubuat, yang ada syaratnya. Berita perantaraan (pernyataan Allah) atau nubuat ini tidak seharusnya diterima tanpa kritik, melainkan harus diuji (bandingkan dengan 1 Tesalonika 5:21), artinya untuk meyakinkan bahwa sumbernya adalah dari Allah dan bukan dari Iblis (bandingkan dengan 1 Korintus 12:10, Ulangan 18:22 dan 1 Yohanes 4:1). Sekalipun ada pembatasan-pembatasan yang ditekankan oleh Paulus, semua yang dapat bernubuat akan beroleh kesempatan menggunakan karunia mereka pada suatu waktu, supaya semua jemat mendapat berkat dari pelayanan Roh Kudus ini. Sama halnya seperti mereka yang berbahasa lidah, ada yang mampu berdiam diri (jika perlu, 1 Korintus 14:28 ), demikianlah nubuat diawasi oleh umat Tuhan. Allah adalah sumber ilham segala karunia-karunia ini, maka tiap ‘kekacauan’, atau tidak adanya ‘pengekangan diri’, dan pemakaian karunia secara ugal-ugalan yang mungkin ada (atau bahkan sering) dalam kumpulan jemaat, tidak akan mungkin sesuai kehendakNya atau disebabkan oleh Roh Kudus. Umat Tuhan harus bijaksana dalam kebebasannya menggunakan karunia Roh Kudus. Dan Paulus manasehatkan bahwa semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun.


7. Penutup

Bahasa roh adalah bahasa istimewa, yang tidak mempunyai sifat bahasa biasa, tetapi diilhamkan oleh Roh Kudus untuk ibadah, sebagai ‘tanda’ bagi orang-orang yang belum percaya (1 Korintus 14:22), dan jika sudah ditafsirkan, untuk membangun orang-orang percaya. Orang-orang Korintus menambahkan nilai lebih dan menyalahgunakan glôssolalia sedemikian rupa, sehingga Paulus dengan tegas membatasi pemakaiannya di muka umum (1 Korintus 14:27-28 ), dan menekankan keunggulan nilai nubuat bagi seluruh gereja (ayat 1, 5). Tak dapat dipastikan apakah penjelmaan glôssolalia zaman ini benar-benar menyerupai bentuk-bentuknya seperti apa yang tercatat dalam kitab PB.

Haruskah seseorang berbahasa lidah?. Sebenarnya, bukan hanya dengan berbahasa lidah, kita memuliakan Allah, melainkan dalam segala sesuatu :

* 1 Korintus 10:31
"Aku menjawab: 'Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.'"

Bahkan dengan tubuh kita sendiri:

* 1 Korintus 6:20
"Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!"

Sumber: Sarapanpagi.org

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan menuliskan komentar Anda. Kami akan segera menanggapinya. Terimakasih, Tuhan memberkati.