googleb2757ebb443295f5 Masa Depan Cerah: Kata Pengantar: Penglihatan Sadhu Sundar Singh

Rabu, 18 April 2012

Kata Pengantar: Penglihatan Sadhu Sundar Singh

Oleh : Rt. Rev. A.J. APPASAMY, D. Phil. D.D (Mantan USKUP Kombatur)

Apakah yang terjadi sesudah mati ? Kesukaan macam apakah yang dinikmati oleh orang-orang
saleh ? Macam hukuman apakah yang akan diberikan kepada orang-orang jahat? Bagaimana Allah yang Maha Kasih memenuhi tuntutan-tuntutan kasih dan keadilan dalam menghadapi orang-orang jahat ?. Apakah hidup singkat di dunia ini menentukan secara lengkap tujuan hidup sesudahnya ? Untuk pertanyaan-pertanyaan semacam ini dan juga yang lain mengenai hidup yang akan datang, Sadhu Sundar Singh berusaha menjawab dalam bukunya "Penglihatan-penglihatan perihal dunia roh".

Setiap kali apabila Sundar Singh bingung tentang apapun, ia menghadap Tuhan dalam doa yang sungguh dan minta penerangan untuk pokok itu, maka ia menerima jawaban yang memuaskan dan menghiburkan. Dalam buku kecil ini, ia berikan kepada kita beberapa pendapat, yang diberikan kepadanya, tentang hidup pada masa yang akan datang. Para pembaca akan menemukan dalam buku saya "Sundar Singh" sebuah biografi, penglihatan lengkap lain yang dilihat Sundar Singh. Bacalah dua pasal dalam bukunya yang berjudul "ORANG YANG HIDUP DALAM SURGA" (Pasal 12) dan "PENGLIHATAN DARI DUNIA ROH" (Pasal 16).

Bagi banyak orang, hidup yang akan datang itu tertutup oleh kabut ketidak-tentuan dan keragu-raguan. Untuk lebih banyak orang lagi, surga adalah tempat yang senang tetapi jauh sekali, sedangkan dunia sekarang ini lebih menarik. Tetapi bagi Sundar Singh surga adalah sesuatu yang nyata dan jelas. Kepercayaannya yang bercahaya kepada Allah yang Maha Kasih, memenuhi pandangannya kepada masa yang akan datang dengan bersinar. Kematian tidak memberikan ketakutan baginya, tetapi merupakan sebuah pintu terbuka untuk masuk ke dalam kehadiran Allah yang terang. Bahkan dalam hidup inipun Sundar Singh mengenal kenyataan dan sukacita persekutuannya dengan Allah. Pikiran tentang masa yang akan datang memberikannya penglihatan-penglihatan tentang suatu keadaan hidup dalam persekutuan dengan Allah yang berlangsung terus menerus, tanpa dihalangi oleh batas keadaan jasmani yang sudah biasa dalam dunia. Membaca buku ini adalah seperti dengan
bernafas udara gunung murni yang menyegarkan dan menghidupkan kita dan mengusir
cara-cara dunia yang melelahkan.

Tekanan dalam buku ini mengenai kemajuan manusia sesudah mati, memerlukan perhatian yang sangat teliti. Banyak di antara kita dipaksa untuk berpikir bahwa dengan berakhirnya hidup di dunia ini, semua kemajuan hidup akan berakhir juga. Tetapi Sundar Singh meyakinkan kita berulang-ulang, bahwa kemungkinan untuk maju dalam waktu yang akan datang tidaklah terbatas. Penglihatan mengenai perkembangan yang terus menerus ini tidak diselubungi dengan ketakutan akan masuk ke dalam suatu roda hidup dan mati, seperti dalam ajaran Hindu tentang penjelmaan kembali (reinkarnasi), akan tetapi suatu pertumbuhan terus menerus yang dikerjakan oleh keadaan rohani yang suka menolong.

Tekanan pertumbuhan terus menerus ini sangat berarti. Kami kutip kata-katanya akan kemajuan ini. "Ada suatu dunia roh yang menjadi tempat kediaman sementara, sesudah roh-roh itu meninggalkan tubuh mereka di dunia waktu mati. Ini adalah tempat perantara sementara, suatu tempat antara kemuliaan terang surga yang tertinggi, dan kabut kegelapan neraka yang terendah. Didalamnya ada banyak tanah datar dan jiwa itu dihantar ketempat datar sesuai dengan kemajuannya di dunia. Disana, para malaikat yang dikhususkan untuk pekerjaan itu, memberi petunjuk yang ditentukan, yang waktunya dapat lama atau cepat, sebelum ia pergi bergabung dengan masyarakat roh yang baik, dalam terang yang lebih besar, atau roh jahat dalam kegelapan yang lebih besar, yang sesuai dengan sifat pikirannya.

Bagaimana kita tahu bahwa semuanya ini benar ? Pertanyaan ini mungkin timbul bagi orang yang suka berpikir. Sundar Singh menjawabnya dengan sebuah perumpamaan yang khas. Dalam khotbah yang disampaikan di Swiss tahun 1922, ia berkata "Apabila anak ayam dalam telur mengatakan bahwa tidak ada apa-apa di luar telur, dan ibunya mengatakan, "Tidak, di dunia luar ada gunung-gunung, bunga-bunga dan langit yang biru, "maka anak ayam itu menjawab, "Ibu omong kosong, saya tidak bisa melihat sesuatupun".

Apabila tiba-tiba kulitnya pecah, barulah anak ayam itu melihat bahwa ibunya itu benar. Ini sama dengan kita. Kita masih berada dalam kulit dan tidak dapat melihat surga atau neraka. Tetapi suatu hari, kulit itu akan pecah dan kita baru melihat. Pada waktu yang sama, ada tanda-tanda tentang keadaan yang akan datang. Anak ayam selagi berada didalam kulit mempunyai mata dan sayap ; bagi mereka merupakan bukti yang cukup bahwa semua itu akan dibutuhkan dalam hidup yang akan datang. Mata diciptakan untuk melihat, tetapi apa yang dapat dilihat selagi berada kulit telur ? Sayap diciptakan untuk terbang, tetapi bagaimanakah dapat terbang, selagi masih berada dalam kulit itu ? Jelas sekali bahwa mata atau sayap itu tidak diberikan untuk hidup yang begitu sempait dalam kulit telur. Dengan cara yang sama, punya banyak keinginan dan kerinduan yang yang tidak dapat dipuaskan disini. Bagaimanapun, pasti ada jalan untuk memuaskan mereka, dan kesempatan itu adalah Kekal. Akan tetapi, sama seperti anak ayam itu perlu mendapat panas selama masih berada dalam kulit, demikian juga kita selagi hidup dalam dunia ini, perlu dipelihara dan dipanasi oleh kehadiran yang menghangatkan dari Api Roh Kudus. (Par Christ et pour Christ, hal
120).

Uskup Agung Fisher (bekas Uskup agung Canterbury) menulis dalam majalah Church Times (23 September 1966), "Saya tidak pernah berpikir tentang seorang teman yang sesudah mati seolah-olah beristirahat _ tidur penuh damai. Saya tidak dapat percaya bahwa ia masuk ke dalam suatu suasana yang tidak aktif, seperti yang dianjurkan dalam kata-kata tadi. Saya sangat yakin bahwa ia sudah masuk untuk hidup dan lebih aktif dalam suatu keadaan kesadaran rohani yang bertambah dan terlatih.

Rasul Paulus berpikir dengan jelas sedemikian juga ketika ia berkata "Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah untungku." Dan Tuhan kita bermaksud sedemikian juga dalam kata-kataNya di kayu salib kepada pencuri di sebelahNya yang bertobat. Apakah ini tidak pasti bahwa itu adalah benar bagi setiap orang, yang meninggalkan dunia ini masuk ke dalam seberang hidup yang akan datang?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan menuliskan komentar Anda. Kami akan segera menanggapinya. Terimakasih, Tuhan memberkati.