googleb2757ebb443295f5 Masa Depan Cerah: Mempersiapkan diri untuk menerima mujizat

Sabtu, 28 April 2012

Mempersiapkan diri untuk menerima mujizat

Apasaja yang perlu diketahui untuk melihat suatu Mujizat dalam hidup kita? Kita sering mendengar adanya mujizat-mujizat di sekitar kita. Tetapi kenapa kita tidak pernah mendapat mujizat itu dalam kehidupan kita? Ada beberapa ayat penuntun di Markus 6:35-44 ini bisa membantu anda :

Markus 6:35-44 :
6:35 Pada waktu hari sudah mulai malam, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya dan berkata: "Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam.
6:36 Suruhlah mereka pergi, supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa dan di kampung-kampung di sekitar ini."
6:37 Tetapi jawab-Nya: "Kamu harus memberi mereka makan!" Kata mereka kepada-Nya: "Jadi haruskah kami membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?"
6:38 Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!" Sesudah memeriksanya mereka berkata: "Lima roti dan dua ikan."
6:39 Lalu Ia menyuruh orang-orang itu, supaya semua duduk berkelompok-kelompok di atas rumput hijau.
6:40 Maka duduklah mereka berkelompok-kelompok, ada yang seratus, ada yang lima puluh orang.
6:41 Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, supaya dibagi-bagikan kepada orang-orang itu; begitu juga kedua ikan itu dibagi-bagikan-Nya kepada semua mereka.
6:42 Dan mereka semuanya makan sampai kenyang.
6:43 Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti dua belas bakul penuh, selain dari pada sisa-sisa ikan.
6:44 Yang ikut makan roti itu ada lima ribu orang laki-laki.


Setelah Yesus berkotbah dihadapan 5000 orang laki-laki (Mereka mungkin tidak datang sendirian, mungkin juga datang bersama-sama dengan keluarganya untuk melihat sang Messias, mungkin mereka datang bersama-sama dengan istrinya dan anak-anaknya, dan percayalah besar kemungkinan pasangan suami istri itu mempunyai 2-3 anak, maka tidak mengherankan jika mereka itu jumlahnya sekitar 25,000 bahkan lebih!. Hari makin larut, Yesus dan murid-muridnya tahu bahwa orang-orang ini perlu makan. Haruskan Yesus menyuruh orang-orang itu pergi?

Saya suka ketika Yesus menjawab kepada murid-muridnya “berikan mereka sesuatu untuk dimakan”. “Tetapi? Bagaimana kita bisa melakukannya? Mereka itu setidaknya berjumlah 25,000 orang! Kalau memasak sendiri bisa-bisa menelan waktu 1 bulan kalau ini dilakukan oleh murid Yesus yang 12 orang itu. Biayanya juga akan banyak, ini tidak mungkin Yesus, apakah Engkau serius?


Perhatikan ini :

Prinsip 1 : Mengetahui bahwa anda butuh sesuatu
Prinsip 2 : Temukan apa yang sudah kita punya
Prinsip 3 : Memberikan kepada Tuhan apa yang sudah kita punya
Prinsip 4 : Mengharapkan Tuhan untuk memperbanyak apa yang kita persembahkan.



Prinsip 1: Mengetahui bahwa anda butuh sesuatu

Apabila ada ingin mendapat sesuatu untuk diberikan kepadamu, mintalah. Sangat sederhana sekali, apakah alasannya sehingga kita tidak mau meminta?

1. Kita suka menunda-nunda (lihat ayat 35 Pada waktu hari sudah mulai malam, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya dan berkata: "Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam.)

2. Kita lupa siapa yang ada di samping kita; Yesus, Sang Pencipta Alam Semesta



Prinsip 2 : Temukan apa yang sudah kita punya

“berapa roti yang kamu punya” Tanya Dia, Pergi dan lihatlah “ketika mereka menemukan, mereka menjawab, "Lima roti dan dua ikan."

Didalam Yohanes 6:6 kita temukan bahwa “Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya.”

Mengapa Yesus mencobai kita? Yesus ingin kita mempercayaiNya dengan sebuah benih dan Dia bisa memenuhi kebutuhan kita. Tuhan selalu melihat apa yang ada dalam genggaman kita, jarang sekali Firman Tuhan bekerja dengan sendirinya, tetapi selalu dengan kerjasama dari manusia.

Wow! Saya kira hanya 3kali bahwa Tuhan bekerja sendirian di Alkitab, tanpa kerja-sama dari manusia :

1. Ketika Tuhan menciptakan alam semesta
2. Ketika ada hujan api dan belerang di Sodom dan Gomorah
3. Ketika Yesus bangkit dari kematian.

Yang lain-lainnya, Tuhan selalu menggunakan campur tangan manusia : “berapa roti yang kamu punya?” Setiap perkara mujizat Allah selalu meminta apa yang ada di tanganmu, apa yang ada di genggamanmu? Apakah yang harus kita lakukan ? berikut ini contoh-contohnya :

a. Daud mempunyai 5 butir batu, hasilnya : kemenangan atas Goliat dan pasukannya

b. Nabi Nuh dan kayu, hasil : Penyelamatan makhluk dari bahaya air bah.

c. Nabi Musa dan pembantu-pembantunya, hasil : Pembebasan umat Israel dari perbudakan di Mesir.

d. Lukas 8:44 Ia maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya, dan seketika itu juga berhentilah pendarahannya.

e. Markus 2:4-5 Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!"

f. Matius 9:6-7 Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" --lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu--:"Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!" Dan orang itupun bangun lalu pulang.


Contoh-contoh diatas secara jelas menunjukkan kerjasama antara Allah dengan manusia. Tuhan memberikan mujizatnya ketika ada kerjasama dari umatNya. Allah ingin kita terlibat, Allah mau kita aktif.

Beberapa orang lebih suka duduk-duduk di sudut rumahnya, menunggu Mujizat Tuhan hadir dalam kehidupan mereka, sampai-sampai mereka mulai menggerutu “mengapa Tuhan tidak menjawab doaku?”

Saudaraku, Allah mau anda terlibat dalam pekerjaanNya, Dia mau bekerjasama denganmu, mengapa? Karena Allah mau mempunyai hubungan dengan manusia. Allah suka berhubungan dengan manusia, Allah itu bukan jin yang disimpan di botol.


Prinsip 3 : Memberikan kepada Tuhan apa yang sudah kita punya

Ini menegaskan apa yang tertulis dalam prinsip 2 diatas. Anda bisa bertanya “Apabila Allah itu berkuasa, mengapa Dia pertu 5 roti dan 2 ikan? Tidak bisakah Dia menyulap ikan dan roti dalam keadaan nyata dengan disajikan secara lezat untuk memberi makan 25,000 orang, dan masing-masing orang akan bisa makan menunya sendiri-sendiri?”

Tentu saja Dia bisa, tapi itu bukan gaya-nya Tuhan. Tuhan mau bekerja dengan campur tangan manusia. Tuhan punya bermacam-macam cara untuk menjawab permintaan kita, tetapi Dia selalu bekerja kalau ada campur tangan manusia.

Contohnya :
a. Lazarus ; gulingkan batu itu!
b. Cornelius ; pergi dari rumahmu dan beritakan injil kepada Paulus. Gaya Tuhan adalah “mari kita bekerja sama, aku ingin mempunyai hubungan baik denganmu, sahabatKu”

Anda mungkin ragu-ragu “tetapi Tuhan, apa yang bisa kuberi untukMu” Tanyalah kepada Tuhan, dan bangunlah hubungan dengan Tuhan, maka Tuhan akan memberitahukan kepadamu. Itu bisa dilakukan dengan ibadah, membangun hubungan dengan Tuhan, pergi ke Gereja, datang ke KKR. Ini bisa saja sudah ada dalam genggamanmu sekarang ini. Allah akan memberitahukanmu.


Prinsip 4 : Mengharapkan Tuhan untuk memperbanyak apa yang kita persembahkan

Yohanes 6:12-13
6:12 Dan setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang."
6:13 Maka merekapun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan.

Ini senada dengan 2 Korintus 9:6
Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.

Dapatkah anda bayangkan, hanya dengan 5 ketul roti dan 2 ekor ikan kecil dipersembahkan kepada Yesus. Setelah itu Yesus bukan hanya hanya bisa memberi makan 25,000 orang, murid-muridnya mengumpulkan kembali sisa-nya 12 bakul! Wow! Tuhan memperbanyak apa yang kita beri kepadaNya! Allah kita adalah Allah yang berkelimpahan.

Saya ingin berspekulasi tentang 12 bakul yang tersisa, ada yang mengatakan 1 bakul untuk masing-masing murid. Jujur saja saya pikir ini tidak fair, bukankan murid-murid ini tadinya ragu-ragu? Mengapa Yesus memberikan hadiah atas ketidak-percayaan mereka?

Spekulasi yang lain mengatakan bahwa 12 bakul itu untuk seorang anak yang telah mempersembahkan makanannya, ini bisa dimakan oleh keluarganya selama seminggu untuk bekal ketika mereka hadir dalam pertemuan besar itu, dan melihat mujizat lain atas kebutuhan-kebutuhannya.

Tetapi mungkin saja, 12 bakul itu untuk 12 muridnya. Walaupun mereka itu hanyalah sekumpulan orang yang ragu-ragu bahkan mereka adalah murid-murid Yesus sendiri. Bagaimana bila setiap murid itu membawakan sekeranjang roti kepada anak kecil tadi ke rumahnya? Tentu saja ini bisa menjadi pengajaran yang baik kepada murid-murid itu tentang pentingnya ketergantungan kepada Allah.

Kita tidak akan pernah tahu apa maksud Tuhan tentang 12 bakul sisa makanan. Tetapi faktanya adalah terdapat “sisa” yang terkumpul. Allah adalah Allah Mujizat. Kita perlu Tuhan, maka janganlah lupa bahwa kita perlu menjalin hubungan baik dan bersekutu dengan Allah. Tanpa itu, anda lebih baik menunggu saja di sudut rumahmu menunggu mujizat yang tak kunjung tiba.

Maukah engkau mengundang hadirat Allah dalam hidupmu, dan memiliki persekutuan denganNya? Dia mengetuk pintu di hatimu. Maukah engkau mempersilahkanNya masuk? Tentukan sendiri jawabnya.


Sumber: Sarapanpagi.org

2 komentar:

  1. Mukjizat terpenting unt manusia yang telah mati secara rohani ini adl Keselamatan/hidup, Allah ingin kita mengerti tentang ini , sedang hal2 scr jasmaniah yg tertulis di FT dimaksudkanNya sbg kiasan, sangatlah sayang bila mata kita terarah pd yg jasmaniah ini, unt kemudian terlewat dr esensi karya keselamatan yang Dia kerjakan untuk kita.
    Walaupun hal2 jasmaniah itu Allah jg bisa lakukan, ttp bila di akhir zaman ini, Dia telah mengingatkan kita bhw iblispun bisa melakukan tanda2 heran, saya percaya bhw Allah kita tdk akan membuat kita menjadi bingung krn pada saat yg sama iblis dan Allah sama2 melakukan tanda2 heran.
    Kalau mislnya kesembuhan fisik menjadi fokus kita ,tidakkah nanti mati juga scr fisik?, kl kaya menjadi fokus kita ,tidakkah nanti ditinggal juga?.
    Alkitab diberikanNya sbg BerkatNya unt Rohani kita , sama sekali tdk dimaksudkan unt berkat jasmani.Gby

    BalasHapus
  2. Saya setuju dengan Sdr. Adhidarmawijaya. Mujizat paling hebat adalah ketika kita menerima Kristus. Inilah yang memberikan mujizat tertinggi, kehidupan kekal bersama Yesus.

    Mujizat jasmani memang hanya kiasan, dalam arti menjadi simbol dari kasih dan perhatian Tuhan kepada keutuhan "kesembuhan" manusia. Kesembuhan manusia secara utuh adalah penebusan jiwanya dari kebinasaan, selain yang sekunder yaitu kesembuhan fisik. Kesembuhan fisik hanya refleksi atau buah dari yang inti: yaitu kesembuhan yang kita alami di dalam batin - menjadi manusia baru dalam Kristus.

    Dengan tanpa mengurangi proporsinya dalam aplikasi kehidupan umat Tuhan, Mujizat jasmani haruslah menjadi batu loncatan saja untuk kita mengalami mujizat kekal (termasuk keselamatan kekal dan perubahan karakter/tabiat menjadi serupa Yesus).

    Dalam pekabaran injil pun, kita tak dapat meniadakan salah satu dari kedua jenis mujizat ini. Jika kita meniadakan mujizat keselamatan maka kita telah menjadi sesat. Jika kita meniadakan mujizat fisik dalam konteks pekabaran Injil, kita telah menjadi seperti para ahli taurat yang hanya berbicara mengenai teori tanpa praktek atau kuasa yang riil.

    Berbeda dengan Yesus Kristus, Ia dengan penuh wibawa dan kuasa mengusir setan yang menyebabkan orang sakit. Pengajarannya bukan kata-kata kosong yang penuh teori saja namun diteguhkan dengan mujizat dan tanda ajaib. Sekali lagi yang harus menjadi inti adalah pesan mengenai keselamatan dan pengampunan dosa. Mujizat hanya bersifat sekunder, yaitu hanya berfungsi meneguhkan berita utamanya. Mujizat fisik menjadi satu-satunya pintu utama yang relevan dalam konteks pemberitaan Injil yang efektif. Injil keselamatan Yesus Kristus tidak pernah bisa dipisahkan dari mujizat fisik, karena ini bukti konkrit kasih dan perhatian Tuhan kepada umat manusia. Untuk menyampaikan inti pesan kesembuhan rohani Tuhan selalu berbicara dengan bahasa yang manusia bisa pahami, yaitu bahasa "jasmani". Jadi tak heran jika pemberitaan Injil harus identik dengan mujizat fisik, karena pola yang demikianlah yang Tuhan Yesus contohkan.

    Sekarang masalahnya tinggal kepada hamba Tuhannya. Apakah Ia akan menekankan kepada kesembuhan/keselamatan rohani melalui darah Kristus ataukah mengagung-agungkan mujizat fisik itu sendiri, lebih dari Yesus Kristus Sang Penyembuh dan Penyelamat. Atau lebih parah lagi jika ia nebeng popularitas melaluinya ? ? ?

    Terimakasih Bro Adhidarmawijaya untuk komentarnya. Tuhan memberkati.

    BalasHapus

Silahkan menuliskan komentar Anda. Kami akan segera menanggapinya. Terimakasih, Tuhan memberkati.