googleb2757ebb443295f5 Masa Depan Cerah: Musik Rock Dalam Gereja ???

Senin, 30 April 2012

Musik Rock Dalam Gereja ???

U2: kelompok musik lahir baru
Worship Essay oleh Jacob Soesilo

PENDAHULUAN

Gereja adalah kumpulan beragam orang. Tua-muda pria-wanita tinggi-pendek gemuk-kurus kaya-miskin. Keragaman ini disertai kultur latar belakang yang berbeda-beda pula. Ada etnis jawa yang tenang sabar, etnis Batak yang meledak-ledak, Sunda yang kenes, dsb. Semua bercampur baur di gereja. Kombinasi ini menghasilkan preferensi selera yang berbeda-beda pula. Ada yang suka makanan asin, ada yang senang manis, suka pedas, dsb. Bahkan yang tanggal lahirnya sama pun bisa berbeda selera. Saudara sekandung kembar juga bisa jadi berbeda selera.
Perbedaan juga terjadi di preferensi selera musik. Beberapa suka dangdut, beberapa klasik, beberapa lainnya keroncong, dsb. Bahkan mereka yang sama-sama suka dangdut, pasti ada perbedaan juga. Yang satu suka dangdut Rhoma Irama (gaya India), yang satu dangdut nya Camelia Malik (gaya latin), yang lain dangdut Inul (gaya rock).

Perbedaan preferensi musik dalam gereja akan berujung pada perbedaan ‘derajat kenyamanan’ untuk menyembah Tuhan di gereja. Beberapa merasa sangat nyaman bila musik gereja terdengar dalam gaya jazz. Beberapa lainnya merasa sulit berkonsentrasi dengan musik jazz itu. Demikian sebaliknya. Tetapi semuanya sepaham mengakui bahwa sulit bagi mereka untuk berkonsentrasi melakukan penyembahan bila musik yang terdengar bukanlah musik yang lazim di telinga mereka. Sebagaimana cerita Dan Kimball dalam Vintage Faith (rambling of passion.blogspot.com) menceritakan hal ini : Sebuah surat bertahun 1863 mengajukan protes mengenai lagu Charlotte Elliot “Just As I am” (dicipta tahun 1835) sbb. :

“I am no music scholar, but I feel I know appropriate church music when I hear it. Last Sunday’s new hymn – if you can call it that – sounded like a sentimental love ballad one would expect to hear crooned in a saloon. If you insist on exposing us to rubbish like this – in God’s house! – don’t be surprised if many of the faithful look for a new place to worship. The hymns we grew up with are all we need.”

Surat lainnya bertahun 1890 komplain tentang lagu “What A Friend We Have in Jesus”. Lirik lagu ini berasal dari puisi Joseph Scriven untuk menguatkan bundanya yang terbaring sakit di luar negeri. Puisi ini baru dijadikan lagu tahun 1868. Bunyi complain surat tersebut sbb. :

“What is wrong with the inspiring hymns with which we grew up? When I go to church, it is to worship God, not to be distracted with learning a new hymn. Last Sunday’s was particularly unnerving. The tune was un-singable and the new harmonies were quite distorting.“

Memang jaman itu adalah jaman puncak kejayaan lagu-lagu bapa rohani sebelumnya (Martin Luther, Isaac Watts, dll.). Kejayaan lagu-lagu himne bapa-bapa rohani tersebut termaktub dalam buku Hymns Ancient and Modern tahun 1861 yang sangat best-seller (bahkan hingga hari ini !). Menurut Colin Mawby (music-for-church-choirs.com) buku lagu ini merupakan kitab himne yang sangat diagungkan pada jaman tersebut. Jadi jelas mengapa kedua lagu tersebut di atas kurang dihargai. Karena muncul setelah kitab himne ini terbit.

Kimball melihat bahwa preferensi pribadi bisa mendikte seseorang untuk mengiyakan atau menolak gaya musik tertentu dalam gereja. Kimball sendiri mengakui bahwa dia menjadi bias dalam menilai berbagai gaya musik karena preferensi pribadinya. 100 tahun kemudian, sejarah membuktikan bahwa kedua penulis surat tersebut salah. Kedua lagu yang dikomplain tersebut, telah menjelma menjadi himne legendaris yang telah menolong puluhan ribu orang bertobat. Just As I Am adalah himne yang membuat Billy Graham bertobat tahun 1934. Dia menggunakan lagu ini selama separuh abad pelayanan KKR nya. Bahkan bukunya pun berjudul demikian.

What A Friend We Have in Jesus adalah himne yang sudah diterjemahkan ke banyak bahasa. Lagu ini menjadi lagu yang paling populer untuk upacara pernikahan di Jepang. Jepang sendiri telah menulis ulang lirik lagu ini dengan 4 judul yang berbeda. Di Indonesia bahkan melodinya diadopsi menjadi lagu nasional “Ibu Pertiwi”.

Preferensi selera seseorang merupakan produk dari latar belakang. Datang dari kebiasaan puluhan tahun. Bila dari kecil anda sudah dibiasakan makan pedas, maka semua makanan yang tidak pedas akan kurang lezat di lidah anda. Demikian juga dengan selera musik gereja. Terbiasa untuk mendengar suara organ akan  menyebabkan anda kurang nyaman waktu mendengar suara gitar elektrik dalam gereja.

Masalahnya tampak jelas kini : terbiasa atau tidak terbiasa (familiar atau unfamiliar). Rasanya ada yang kurang pas bila tidak sesuai dengan kebiasaan kita. Kata orang “Rasanya tidak lebaran bila tidak pulang kampung” atau dalam kasus di atas “Rasanya tidak di gereja bila bukan lagu himne klasik”, dst.

Farouk Radwan (2knowmyself.com) menyatakan bahwa preferensi musik juga bisa datang dari keadaan hati (inner feeling) seseorang. Bila anda sedang jatuh cinta, maka preferensi musik anda adalah lagu-lagu romantis bukan ? Jadi kini kita dapat mengerti mengapa seseorang menyukai lagu rock. Karena sesuai dengan keadaan hatinya. Yang lucu, keadaan hati dapat berubah-ubah. Sudah tentu preferensi musik beliau juga akan berubah-ubah sesuai perubahan inner feeling nya.

Berbagai kebiasaan (familiarity) dan keadaan hati yang berbeda di antara jemaat, menjadikan preferensi musik lebih komplek lagi di dalam gereja. Preferensi musik yang berbeda ini dapat menyebabkan terjadinya perselisihan dalam gereja. Perselisihan sekecil apapun, bila tidak diselesaikan, berpotensi untuk memecah gereja. Untuk menghindari resiko ini, maka perlu dicari sebuah gaya musik yang dapat diterima seluruh anggota gereja.


SOLUSI : GAYA MUSIK YANG SESUAI UNTUK GEREJA

Sejarah memperlihatkan bahwa salah satu alasan timbulnya berbagai masalah fatal di gereja adalah
karena tidak tercapainya kesepakatan dalam preferensi gaya musik. Elmer Towns (mylordandmyblog.wordpress.com) mencatat bahwa di tahun 200an, beberapa gereja menolak musik
instrumental diperdengarkan di gereja, karena waktu itu musik instrumental adalah musik yang dimainkan di rumah bordil. Tetapi tidak semua gereja setuju dengan hal ini. Beberapa gereja terlibat dalam perdebatan sengit tentang musik instrumental ini.

Martin Luther di tahun 1500an sangat mementingkan nyanyian jemaat. Dia menggunakan lagu-lagu rakyat dalam ibadahnya. Hal ini juga menyebabkan pertentangan besar pada jamannya, karena sebagian jemaat terbiasa dengan kebiasaan gereja Katolik untuk hanya diam mendengarkan lagu dan tidak pernah terlibat menyanyi.

Tahun 1700 an di Inggris muncul Isaac Watts yang menulis berbagai lirik lagu kontemporer Kristen. Pada masa itu gereja hanya menyanyikan lagu-lagu dengan lirik dari Mazmur saja. Watts melakukan hal ini karena dia merasa Mazmur kurang gamblang menjelaskan tentang doktrin Kristen. Secara sederhana pekerjaan Isaac Watts adalah ‘menterjemahkan Mazmur ke dalam bahasa sehari-hari’. Contohnya adalah lagu “Joy to The World” yang diambil Watts dari Mazmur 98. Banyak yang mencerca lagu Watts sebagai ‘himne buatan manusia’. Bahkan gereja pecah karenanya. Robert Morgan (revelife.com) mencatat bahwa ‘masalah antara menyanyi himne Watts dengan menyanyi Mazmur memecah gereja’ Sebenarnya Watts bagi Inggris, Luther bagi Jerman, adalah sama seperti Daud bagi Israel (truthinhistory.org). Tetapi sebagian gereja menolak lagu-lagu mereka (kecuali Daud yang tidak jelas disebutkan di Alkitab) karena tidak familiar.

Bukan hanya gaya musik yang menjadi perdebatan. Bob Tuten (truthmagazine.com) mencatat bahwa penggunaan instrumen organ pun menjadi polemik tersendiri di dalam gereja di tahun 1800an. Lebih
parah lagi, ternyata hal sederhana seperti bangku piano (mohon dicatat : bukan pianonya) dapat menyebabkan jemaat Holy Creek Church terpecah menjadi dua kubu di tahun 1999 (landoverbaptist.org)

Sungguh sulit mendapatkan sebuah gaya musik yang tepat untuk seluruh anggota gereja, karena beragamnya preferensi jemaat. Dapatkah anda memahami kesulitannya ? Bagaimana jika penulis usul untuk memasukkan musik rock ke dalam gereja ? Dapatkah anda menerimanya ?

Masalah ini sebenarnya dapat dipecahkan dengan mempertimbangkan kepentingan kedua belah pihak yang terlibat dalam ibadah pujian gereja. Ada 2 pihak yang terlibat : Pihak yang menyanyi memuji, dan pihak yang menerima pujian. Pihak manusia sebagai penyanyi pemuji, dan pihak Tuhan sebagai yang dipuji. Siapa yang lebih penting ? Pemuji atau yang dipuji ? Manusia atau Tuhan ? Kita semua setuju bahwa Tuhan lah yang terpenting. Karena itu semua jenis musik yang ada di gereja seharusnya sesuai preferensi Tuhan !

Musik gaya apa yang disukai Tuhan ? Gaya timur tengah kuno ? Gaya rock atau jazz ? Klasik atau dangdut ? Atau disco ? Bagaimana kita bisa tahu ? Tidak pernah ada petunjuk jelas di Alkitab. Tetapi jelas kita bisa berpegangan pada Alkitab. Alkitab mengatakan sbb. :

Tuhan memberikan nyanyian baru dalam mulutku, untuk memuji Allah kita - Mazmur 40 : 1
Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah .. - Mazmur 98 : 1
Nyanyikan bagi Tuhan nyanyian baru ! Pujilah Dia dalam jemaah orang-orang saleh - Mazmur 149 : 1

Ayat-ayat ini menyatakan tiga hal :
1. Tuhan senang nyanyian baru.
2. Nyanyian baru datang dari Tuhan.
3. Tuhan senang jemaahNya memuji Dia

Point 3 sudah sangat jelas kita mengerti. Tetapi perhatikan point 1 : “nyanyikan nyanyian baru”. Apa maksudnya ‘nyanyian baru’ ? Kata baru (new) menurut kamus Webster (merriam-webster.com) berarti : berbeda dengan yang pernah ada, terkini, modern, made or become fresh, unfamiliar. Maksudnya adalah lagu yang belum pernah ada sebelumnya, atau lagu yang dikemas ulang dalam gaya musik / aransemen / alat musik modern, lagu dalam bentuk yang kita tidak biasa mendengarnya.

Gaya musik jazz adalah ‘nyanyian baru’. Jazz belum ada di jaman Daud atau Paulus. Jazz adalah gaya musik yang baru, dengan instrumen musik yang juga baru. Jazz adalah ‘nyanyian baru’ buat gereja. Apakah kini jazz dapat dipakai untuk memuji Tuhan ? Tentu bisa bila kita mengacu pada Alkitab.

Point 2 menunjukkan bahwa nyanyian baru juga ternyata ‘datang dari Tuhan’. Ciptaan Tuhan. Sudah tentu demikian, sebab ada tertulis “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yohanes 1 : 3). Jadi gaya musik jazz juga pasti ciptaan Tuhan. Demikian juga berbagai gaya musik baru lainnya. Pasti semuanya ciptaan Tuhan. Kalau gaya musik baru ini adalah ciptaan Tuhan, malah sudah seharusnya digunakan untuk memuliakan Tuhan.

Mengapa kita biarkan kaum duniawi menggunakannya terlebih dahulu untuk kepentingan mereka ? Kita
harus menjadi yang pertama untuk mengembalikannya untuk memuliakan Tuhan bukan ?

Jadi dapat disimpulkan bahwa gaya musik jazz dapat digunakan di gereja karena 2 alasan :
1. Jazz adalah nyanyian baru untuk gereja. Tuhan suka nyanyian baru.
2. Jazz adalah ciptaan Tuhan, jadi pasti Tuhan bisa menerimanya. Bukan hanya menerimanya, tetapi kita berkewajiban menggunakannya untuk kemuliaan nama Tuhan !

Alasan kesimpulan ini sesuai benar dengan perkataan Paulus “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia dan oleh Dia, dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya !” (Roma 11 : 36). Tetapi, tentunya penggunaan gaya musik jazz di gereja harus dilakukan dengan tetap berpegangan pada syarat utama pujian : lirik lagu dan hati sang pelantun harus memuliakan Allah. Bagi Dialah segala kemuliaan ! Gaya musik jazz tidak boleh untuk memuliakan gaya musiknya ataupun si pelantunnya.

Jadi, semua gaya musik dapat digunakan di gereja. Syaratnya adalah : semuanya (semua unsur yang terlibat waktu mengaktivasikan gaya musik tersebut) harus memuliakan Tuhan.


GAYA MUSIK ROCK UNTUK GEREJA

Pertimbangan di atas dapat dipergunakan pula untuk gaya musik rock. Musik rock boleh digunakan di gereja karena musik rock juga ciptaan Tuhan. Musik rock juga musik yang baru ada. Terutama baru di gereja yang hanya familiar dengan musik klasik dan pop.

Tetapi mengapa banyak orang mengernyitkan dahi mendengar hal ini. Untuk membuat pernyataan tersebut obyektif, maka penulis merasa perlu mengadakan survey. Survey diadakan dalam skala sederhana di lingkungan STTRII dengan meminta responden memilih lalu menjelaskan alasan pilihannya (reasoning). Seluruh responden beragama Kristen dan mayoritas berusia antara 15 – 34 tahun. Hanya 1 orang berusia di atas 65 tahun. Penulis sendiri mengakui bahwa memang survey ini kurang sahih karena jumlah responden tidak memenuhi syarat. Tetapi penulis mengambil manfaat dari reasoning responden dan memilih untuk tetap menampilkan hasilnya dengan pertimbangan ‘lebih baik punya gambaran kabur daripada tidak ada gambaran sama sekali’.

Sebanyak 62 % responden (13 dari 21 responden) survey menolak penggunaan gaya musik rock di
gereja. Dari semua yang menolak rock, sebanyak 61 % (8 dari 13 responden) beralasan bahwa : “musik rock terlalu ramai / berisik sehingga sulit menyembah Tuhan”. Sedangkan 2 responden menolak karena prinsip asosiasi (rock diasosiasikan dengan musik yang ‘sejarah-tujuan-spirit’ nya bertentangan dengan Alkitab). 1 responden lagi tidak memberikan alasan sama sekali. Dan 1 responden menolak musik rock untuk ibadah umum, tetapi mengijinkan rock untuk ibadah Sekolah Minggu, remaja, pemuda, atau ibadah lain yang energik.

Dari semua yang menolak rock, 63% diantaranya tidak suka musik rock sama sekali. Jadi penulis
berprasangka bahwa penolakan terjadi karena unfamiliarity. Menurut penulis, alasan yang terbentuk karena familiarity adalah alasan yang tidak dapat digunakan, karena berarti responden subyektif berdasarkan preferensinya sendiri. Responden lebih memprioritaskan selera nya dibandingkan obyektifitas pendapatnya.

Untuk mendapatkan gambaran yang obyektif tentang musik rock, maka penulis melakukan penyelidikan
terhadap musik rock. Hasil penyelidikan ini seyogyanya akan memperjelas natur musik rock. Pengetahuan akan natur ini dapat digunakan untuk memperkuat atau memperlemah argumen penolakan responden.


MUSIK ROCK

Musik rock berkembang tahun 1950 an di Amerika dan Inggris dan dicirikan dengan dominasi instrumen elektrik gitar (wikipedia.org). Elektrik gitar dalam rock ditemani oleh vokal, drum, dan elektrik bas. Kadang-kadang musik rock juga ditemani keyboard. Semua instrumen musik (elektrik gitar, elektrik bas, drum, keyboard, vokalis) ini adalah instrumen yang umum ada di band jenis musik apapun juga. Gaya musik pop, reggae, country, keroncong, dangdut, dsb. yang menggunakan band, pasti menggunakan alat musik yang sama. Jadi musik rock tidak dapat dipersalahkan karena alat musiknya.

Teknik bermusik rock (pilihan nada, chord, beat, dan cara memainkan) juga tidak menggunakan teknik khusus. Semua teknik bermusik rock juga ada di gaya musik lainnya. Hal ini membuktikan bahwa tidak ada yang salah dalam teknik bermusik rock.

Lirik-lirik lagu rock biasanya berkisar seputar cinta dan pemberontakan. Cinta adalah tema yang umum dalam semua gaya musik. Sedangkan pemberontakan adalah tema yang memang jarang diusung gaya musik lain. Pemberontakan terhadap kemapanan, gaya hidup, dsb. merupakan ciri khas lagu-lagu rock.

Banyak lagu rock juga menyuarakan kepedulian sosial, pemberontakan terhadap pemerintahan yang arogan, korup, dsb. Allan Bloom (associatedcontent.com) berkomentar bahwa lirik rock merusak generasi muda karena hanya berfokus pada pemuasan nafsu belaka, dan tidak kepada kemampuan argumentasi kita. Padahal kemampuan berargumentasi adalah dasar dari pengambilan keputusan yang sehat dalam hidup kita.

Menurut penulis, pandangan Bloom ini tidak obyektif, karena lirik hedonis (pemuasan nafsu) yang sama juga dapat menggunakan media gaya musik ‘tenang’ seperti klasik, jazz atau country. Semua lirik lagu bersifat netral dalam pengertian dapat menggunakan gaya musik apa saja sebagai media. Kebetulan saja penemu lirik tersebut musisi rock, sehingga medianya rock. Tetapi tidak semua pemusik rock melulu menghasilkan lirik hedonis. Jadi rock tidak dapat dipersalahkan karena liriknya juga.

Sebagai catatan tambahan, beberapa rockstar juga menghasilkan lirik rohani. Contohnya Santana, rocker terkenal dari Meksiko, yang mengaku sudah lahir baru dan membuat album Milagro (miracle) tahun 1992 tentang Yesus Kristus (guitarmasterclass.net). Dalam wawancara dengan majalah Rolling Stones, Santana mengaku mendengar suara Tuhan waktu dia hendak bunuh diri. Ini adalah lirik “Somewhere in Heaven” (lyricbox.com), salah satu lagu Santana dalam album tersebut :

Somewhere in Heaven
There is a place
Waiting for you and me
He made a promise
Gave every drop of blood
Died on the cross, so we'd be free

Cliff Richard, rockstar Inggris dengan total hits song melebihi gabungan hits The Beatles dan Rolling Stones (jesuscentral.com), malah menciptakan 7 buah album rohani sepanjang karirnya.

Bagian suara Yesus dalam rekaman opera rock terkenal “Jesus Christ Superstar” malah dinyanyikan oleh Ian Gillan, penyanyi grup rock Deep Purple (wikipedia.org). Walaupun kekudusan para pengisi opera ini sangat dipertanyakan, tetapi lirik dalam lagu-lagu opera ini bersifat positif.

Beberapa pemusik rock melibatkan obat bius untuk mendukung mereka dalam mencari ide dan penampilan. Tetapi sebenarnya hal yang sama juga berlaku terhadap pemusik jenis musik lainnya. Beberapa pemusik klasik dan jazz pun menggunakannya, walaupun tidak sebanyak pemusik rock. Website head-fi.org mencatat pengakuan beberapa pemusik klasik yang menggunakan obat-obatan sebelum penampilan mereka. Bahkan seorang pemain biola klasik, Nigel Kennedy (heraldsun.com.au) menyatakan bahwa banyak pemusik klasik menggunakan obat-obatan untuk membantu penampilan mereka.

Pemusik rock juga dituduh sebagai pemuja setan. Banyak dari antara rockstar memperlihatkan secara terbuka bahwa mereka memihak setan. Illuminati-news.com banyak menceritakan tentang para rocker pemuja setan ini. Tetapi tidak semua pemusik rock pemuja setan. Kebanyakan menggunakan isu setan untuk popularitas dan pengukuhan diri sebagai pemberontak. Banyak juga rocker yang sudah lahir baru. Selain Santana, adherents.com mencatat ada Bono, Adam Clayton, dan Larry Muller dari grup rock terkenal U2 sebagai pemusik Kristen lahir baru. Roger McGuinn ‘The Byrd’, Dave Mustein ‘Mettalica’, dan Alice Cooper juga sudah lahir baru. Mark Farner ‘Grand Funk Railroad’, Kerry Livgren ‘Kansas’ juga mengaku sudah lahir baru (charismamag.com).

Sekarang kita lihat pengaruh dari musik rock tersebut. Banyak mitos menganggap bahwa para pendengar rock lebih agresif, lebih bodoh, berprestasi buruk, rentan depresi, rentan bunuh diri, dan rentan obat bius. Riset Jennifer Copley (suite101.com) memperlihatkan bahwa semua hal di atas betul terjadi pada responden yang tidak suka musik rock. Bila responden tersebut suka musik rock, maka hal sebaliknya lah yang terjadi. Mereka jadi lebih positif setelah mendengar musik rock kesayangannya. Jadi mitos tersebut tidak berdasar sama sekali.

Penelitian Valerie N. Stratton (users.muohio.edu) terhadap 47 siswa-siswi college (perguruan tinggi) memperlihatkan bahwa rock jenis apapun (heavy metal, modern rock, classic rock, dsb.) disukai oleh para responden dan membuat mereka menjadi ‘optimistic, joyful, friendly, relaxed and calm’.

Lebih lanjut Stratton menyatakan bahwa kemungkinan besar semua emosi diatas terbentuk karena perubahan ritme otak. Ritme otak seseorang akan berubah karena detak jantung nya yang berubah sesuai musik yang didengarnya. Sayangnya Stratton tidak menggunakan responden lebih banyak dan mencakup usia yang lebih senior (di atas usia college). Pemilik usia senior mungkin memperlihatkan hasil yang berbeda. Bila hasil kaum senior berlawanan, bisa jadi alasan familiarity berada di balik argumen mereka. Tetapi sebenarnya natur gaya musik rock juga dapat menstimulasi reaksi positif pendengarnya !

Semua argumen di atas (instrumen, teknik, lirik, pemusik, dan reaksi yang ditimbulkan) memperlihatkan bahwa gaya musik rock sama netralnya seperti gaya musik klasik, jazz, atau lainnya. Jadi sebenarnya gaya musik rock dapat diterima di gereja, seperti semua musik ‘nyanyian baru’ yang juga dicipta Tuhan.

Satu-satunya masalah dalam rock adalah tingkat kekerasan suaranya (loudness). Rock memang mengandalkan suara yang sangat loud dalam penampilannya. Tabel kekerasan Galen Carol (gcaudio.com) memperlihatkan bahwa suara musik rock yang terkeras dapat mencapai 150dB (desibel), padahal bagian paling keras klasik hanyalah 137dB. Bandingkan dengan suara mesin gergaji yang hanya 110dB dari jarak 3 inci. Rock sungguh memekakkan telinga !

Hal ini memang betul. Keberatan terhadap rock hanyalah loudness. Hal ini disetujui oleh responden survey penulis, yang menyatakan bahwa “musik rock terlalu ramai / berisik sehingga sulit menyembah Tuhan”. Jika ingin memasukkan rock ke dalam gereja, maka loudness nya harus sangat dikurangi.


PRINSIP ASOSIASI

Secara umum, musik rock diasosiasikan sebagai musik yang menghasilkan karakter pemberontak, suka
obat bius, suka sex bebas, dan memuja kesenangan diri (hedonis). Abdul Rojaq (blog.uin-malang.ac.id) menyatakan bahwa :

Musik rock memang menghadirkan sejumlah besar masalah.
Lirik-liriknya buruk dengan tema berkisar amarah, seks, bunuh diri, obat bius, dan kematian.
Walaupun kata-katanya kedengaran baik, namun videonya
sering menunjukkan kekerasan dan pemutarbalikan.
Masalah lain yang berkaitan dengan musik rock ialah kehidupan para bintangnya.
Kebanyakan pemusiknya secara terang-terangan mempraktekkan hubungan seks
secara tidak lazim dan campur baur, penggunaan obat bius, dan
gaya hidup yang anti kristiani dan anti sosial.


Bila dikaji lebih lanjut, tampak nyata bahwa yang salah adalah lirik dan pemusiknya. Bukan gaya musik rock itu sendiri. Hal yang sama sebenarnya bisa juga terjadi pada gaya musik lain. Musik jazz dengan lirik buruk juga sama efeknya. Musik klasik dengan tokoh yang gaya hidupnya berantakan juga akan berefek buruk pada penggemarnya. Jadi gaya musik rock sebenarnya tetaplah netral.

Banyak juga lagu rock yang berlirik positif cinta perdamaian, protes kekerasan, protes pelanggaran hak asasi, mendukung kebebasan, dan sebagainya. Tidak semua lirik lagu rock merusak. 

Sebanyak 82 % responden (19 dari 23 responden) dari survey penulis mengasosiasikan musik rock dengan tema-tema positif berikut : anak-muda, pesta, kegembiraan, konser, fun kebersamaan. Hanya 1 responden mengasosiasikan rock dengan perang. 1 responden lagi mengasosiasikannya dengan keadaan stres / marah-marah. 2 responden lainnya menyatakan tidak tahu.

Hasil survey Stratton dan survey penulis bersama-sama memperlihatkan bahwa rock adalah gaya musik yang netral dan cenderung positif, sama seperti gaya musik lainnya, sama seperti ciptaan Tuhan lainnya.

Gaya musik rock adalah gaya musik yang sungguh dapat digunakan di gereja !


SARAN

Melihat sifat netral dan manfaat positif gaya musik rock (optimistic, joyful, friendly, relaxed and calm), serta kemampuannya untuk menjangkau generasi muda rock-mania (anak muda dengan preferensi musik rock), maka penulis menyarankan agar gaya musik rock mulai dipergunakan di dalam gereja.

Syarat pemakaian gaya musik rock di dalam gereja adalah sebagai berikut :

1. Dipergunakan hanya bilamana dirasa adanya kebutuhan untuk meningkatkan sukacita jemaat atas penyertaan Tuhan. Jemaat yang kurang sukacita hidup di dalam Tuhan dan kurang beriman kepada Tuhan, adalah tipe-tipe jemaat yang butuh gaya musik rock.

2. Lirik lagu rock yang digunakan harus memuliakan Tuhan dengan doktrin sesuai Alkitab.

3. Dibawakan oleh tim pemusik yang keteladanan hidupnya memuliakan Tuhan.


Untuk melatih jemaat agar dapat menerima gaya musik rock sebagai salah satu preferensi musik yang juga dapat mendukung penyembahan mereka, maka penulis menyarankan langkah-langkah berikut :

1. Perlu diberi penjelasan kepada jemaat tentang posisi netral musik rock sebagai salah satu ‘nyanyian baru’ ciptaan Tuhan (Mazmur 149 : 1, dsb.).

2. Memulai ibadah dengan menggunakan lagu yang sesuai dengan inner feeling kebanyakan jemaat. Yaitu lagu-lagu yang berkarakter ‘soft-slow to medium tempo’. Kebanyakan jemaat datang ke gereja dalam keadaan mental letih, banyak masalah, dan mencari pelepasan dari Tuhan. Musik pada awal ibadah perlu menyesuaikan diri dengan inner-feeling ini agar jemaat merasa damai dengan Tuhan dan diterima di rumah Tuhan.

3. Setelah musik tune-in (sesuai) dengan inner-feeling jemaat, maka kita bisa mulai menggunakan lagu-lagu yang berkarakter ‘mid loud-medium to fast tempo’ untuk mengubah inner-feeling jemaat. Pengubahan ini bukan bertujuan membuat jemaat merasa senang gembira, tetapi untuk menyiapkan hati jemaat untuk bersuka-cita memuliakan Tuhan.

4. Setelah inner-feeling jemaat meningkat, maka kita dapat mulai menggunakan lagu rock yang memuliakan Tuhan. Lagu rock ini harus dijaga level loudness nya agar tidak melebihi suara jemaat menyanyi. Dengan demikian konsentrasi jemaat menyembah Tuhan tidak akan terganggu.

5. Setelah itu, ibadah dapat dilanjutkan dengan lagu-lagu lainnya yang dapat mendukung jemaat memuliakan Tuhan.

Dengan mengikuti langkah-langkah ini, niscaya semua jemaat dapat merasakan manfaat dari gaya musik rock yang diciptakan Tuhan dengan indah. Selain itu, anggota jemaat yang rock-mania akan merasa tidak tersisih dan dapat diterima di gereja. Rock for God !


Website yang dikutip :

www.rambling of passion.blogspot.com
www.music-for-church-choirs.com
www.wikipedia.org
www.merriam-webster.com
www.truthinhistory.org
www.landoverbaptist.org
www.revelife.com
www.gcaudio.com
www.users.muohio.edu
www.charismamag.com
www.adherents.com
www.Illuminati-news.com
www.heraldsun.com.au
www.head-fi.org
www.lyricbox.com
www.jesuscentral.com
www.guitarmasterclass.net
www.associatedcontent.com
www.blog.uin-malang.ac.id

Artikel yang dikutip :

Arron, Worship and Controversy, www.mylordandmyblog.wordpress.com, 2009
Bob Kauflin, Worship Matters, Sovereign Grace Ministries, 2008, LLB 2010
Bob Russel, Resolving Worship Controversy, www.BuildingChurchLeaders.com
Bob Tuten, The Dawning of Instruments In Worship, www.truthmagazine.com, 1979
Farouk Radwan, Psychological Effect of Music III, www.2knowmyself.com, 2011
Jennifer Copley, Psychology of Heavy Metal Music, www.suite101.com, 2008
Pastor Tom, Christian Music Controversy, www.armchair-theology.blogspot, 2008

Sumber: forumkristen.com

2 komentar:

  1. setuju banget, tetangganya Hillsongs, Planetshakers jg mengusung irama rock. band rock 80an yg sampe sekarang masih eksis "Stryper" jg mengusung lagu rohani.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya saya juga suka Hillsong/Planetshakers. Akan tetapi terlebih penting menekankan pujian penyembahan sehari-hari yang tidak diiringi musik sekalipun karena dilakukan di dalam roh dan kebenaran.

      Sebagai informasi saja, puluhan juta jemaat yang beribadah di rumah-rumah di negri China, mereka melakukan pujian penyembahan tanpa iringan band musik sebagus dan semodern semacam Hillsong atau planetshakers akan tetapi mereka bisa dengan penuh semangat dan kesungguhan melakukannya, bahkan di tengah tekanan dan aniaya pihak pemerintah komunis, serta ancaman penjara yang selalu mengintai saudara-saudari kita disana karena aktivitas ilegal - yaitu bersekutu, berdoa di dalam nama Tuhan Yesus.

      Demikian pula saudara-saudari kita di puluhan negara-negara berlatar belakang komunis atau Islam garis keras mengalami hal yang sama, namun mereka mengalami dinamika rohani yang lebih dahsyat dan otentik daripada apa yang dialami oleh gereja-gereja modern barat yang "westernized".

      Jadi menurut saya: musik adalah sekunder dan hanya pendukung saja. Kalau toh tidak ada juga tidak menjadi persoalan sama sekali, karena esensi kehidupan kekristenan bukanlah itu, namun dengan totalitas hidup kita (kekuatan, akal budi, jiwa dan hati) memuliakan Tuhan dimanapun kita berada, sebagaimana Rasul Paulus dan Barnabas yang dipenjara Filipi, mereka memuji Tuhan dengan segenap kekuatan dan hati, maka terjadi intervensi ilahi sehingga pintu-pintu penjara terbuka.

      GBU

      Hapus

Silahkan menuliskan komentar Anda. Kami akan segera menanggapinya. Terimakasih, Tuhan memberkati.