googleb2757ebb443295f5 Masa Depan Cerah: Penglihatan dan Penyataan yang Diterima Paulus

Senin, 16 April 2012

Penglihatan dan Penyataan yang Diterima Paulus

2 Korintus 12:1-6 Paulus menerima pengelihatan dan pernyataan

12:1 Aku harus bermegah, sekalipun memang hal itu tidak ada faedahnya, namun demikian aku hendak memberitakan penglihatan-penglihatan dan penyataan-penyataan yang kuterima dari Tuhan.
12:2 Aku tahu tentang seorang Kristen; empat belas tahun yang lampau -- entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya -- orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga.
12:3 Aku juga tahu tentang orang itu, -- entah di dalam tubuh entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya --
12:4 ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia.
12:5 Atas orang itu aku hendak bermegah, tetapi atas diriku sendiri aku tidak akan bermegah, selain atas kelemahan-kelemahanku.
12:6 Sebab sekiranya aku hendak bermegah juga, aku bukan orang bodoh lagi, karena aku mengatakan kebenaran. Tetapi aku menahan diriku, supaya jangan ada orang yang menghitungkan kepadaku lebih dari pada yang mereka lihat padaku atau yang mereka dengar dari padaku.


Penjelasan :

Aku harus bermegah, sekalipun memang hal itu tidak ada faedahnya, namun demikian aku hendak memberitakan penglihatan-penglihatan dan penyataan-penyataan yang kuterima dari Tuhan.(2 Korintus 12:1).

Paulus sebenarnya merasa "malu" (dalam artian sikap kerendahan hati) untuk menceritakan pengalamannya yang paling indah dan suci dari segala pengalamannya sebagai seorang Kristen. Kalaupun ia berkata tentang dirinya, maka itu dilakukannya karena terpaksa. Mungkin rasul-rasul palsu itu telah bermegah atas penglihatan yang diterima mereka, yang sebenarnya pura-pura saja. Paulus sedikit pun tidak bermaksud bersaing dengan mereka mengenai penglihatan dan penyataan yang diterimanya. Ia malah masih tetap ingin bermegah atas kelemahannya.

Paulus ingin menceritakan penglihatan dan penyataannya itu untuk menjelaskan tentang kelemahannya, yaitu sebuah duri di dalam tubuhnya. Ia menceritakan hal itu supaya musuhnya jangan mencela dia mengenai kelemahannya itu. Jadi, maksudnya bukanlah untuk memegahkan dirinya, melainkan memegahkan kasih karunia Tuhan kepadanya.

Aku tahu tentang seorang Kristen; empat belas tahun yang lampau -- entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya -- orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga.Aku juga tahu tentang orang itu, -- entah di dalam tubuh entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya – (2 Korintus 12:2-3).

Untuk menunjukkan bahwa Paulus tidak bermaksud memegahkan dirinya dalam ayat ini, ia seolah-olah berbicara tentang orang lain, padahal ia sedang berbicara tentang dirinya sendiri. Ia berkata "seorang Kristen". Jika seseorang ada di dalam Kristus, ia seorang Kristen. Paulus tidak tahu apakah ia berada di dalam tubuh, atau di luar tubuh ketika peristiwa itu terjadi.

Penglihatan dan penyataan itu terjadi empat belas tahun sebelum surat ini ditulis, mungkin pada tahun 44. Tetapi Paulus tidak menyatakan dengan jelas kapan peristiwa itu terjadi. Penyataan itu terjadi bukan pada waktu ia berjalan menuju ke Damsyik, atau pada waktu ia berada di Negeri Arab, atau pada waktu ia dirajam di Listra sebab peristiwa-peristiwa itu tidak cocok dengan waktunya. Mungkin penyataan itu terjadi pada waktu ia berada di Antiokhia, tempat ia tinggal setahun lamanya (Kisah 11:26). Tetapi tidak ada seorang pun yang dapat memastikan tentang hal itu. Di mana dan bagaimana penyataan itu terjadi, tidak dapat diketahui dengan pasti.

Yang dimaksudkan dalam ayat ini ialah tentang diangkatnya Paulus ke sorga lalu diberi penglihatan dan penyataan. Paulus tidak tahu apakah jiwa dan tubuhnya yang diangkat ke sorga atau tubuhnya saja yang diangkat. Hanya ayat ini menyatakan keyakinan Paulus bahwa tubuh dan jiwa orang di dalam Kristus dapat diangkat ke sorga. Keyakinan itu nyata dalam pengajaran Paulus mengenai kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali dan pengajaran itu dinyatakan kepadanya oleh Yesus Kristus sendiri. Bacalah I Tesalonika 4:15-17; Filipi 3:21; I Korintus 15:51-52; Matius 24:40-42; Yohanes 14:3.

Kita dapat menarik kesimpulan dari ayat ini bahwa Paulus diangkat ke sorga dan ia melihat kemuliaan yang akan diterima oleh setiap orang yang di dalam Kristus. Petrus, Yohanes, (Yakobus juga mendapat penglihatan ketika Kristus di pemuliakan, tetapi pada waktu itu mereka berada di atas gunung. Rupanya kemuliaan yang telah dilihat oleh Paulus dan ketiga murid Yesus itu telah mendorong dan menguatkan mereka untuk menderita bagi Kristus. Paulus berkata, "Penderitaan jaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita" (Roma 8:18).

Para guru agama Yahudi mengatakan bahwa sorga itu terdiri dari tujuh tingkat, tetapi Alkitab tidak mengatakan apa-apa tentang hal itu. Nyatalah dari ayat 2 dan 4 bahwa Paulus menyamakan "tingkat yang ketiga dari sorga" dengan "Firdaus". Orang-orang Yahudi pada waktu itu mengerti bahwa "Firdaus" adalah surga (Lukas 23:43; Wahyu 2:7). Istilah bahasa Yunani "ouranos" yang dipakai oleh Paulus dalam ayat ini diterjemahkan menjadi "sorga" lebih dari 25 kali d"alam Perjanjian Baru dan hanya kadang-kadang saja diterjemahkan menjadi "langit'. Karena itu menurut kami, istilah "tingkat yang ketiga dari sorga" harus diganti dengan "sorga yang ketiga". Menurut Calvin, kata "tiga" dalam ayat ini menvatakan "yang tertinggi dan sempurna".

ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia.(2 Korintus 12:4).

Perkataan "Firdaus" berasal dari bahasa Persia, yang berarti "kebun". Di dalam Perjanjian Baru kata Firdaus hanya terdapat tiga kali. yaitu dalam ayat empat pasal ini: Lukas 23:4:3; Wahyu 2:7; dan semua ayat ini mempunyai arti yang sama. Pencuri yang disalibkan di sebelah Yesus Kristus masuk ke Firdaus bersama-sama dengan Kristus pada han itu juga. Paulus pun diangkat ke Firdaus. dan roh orang-orang yang beriman kepada Kristus diangkat ke sana pada saat mereka meninggal dunia (Filipi l:2-3). Para tokoh Kristen pada masa jemaat yang mula-mula yakin bahwa roh orang-orang Kristen berhimpun eli dalam Firdaus dan di sana mereka menunggu tubuh kebangkitan dinyatakan pada hari kebangkitan (l Korintus 15:51-53; Filipi :3:20-21; 1. Tesalonika 4:16-17). Firdaus bukanlah "kamar tunggu", melainkan tempat tinggal di dalam sorga yang mulia di hadapan Anak Allah (Wahyu 7:9-17; 22:1), Mereka yang sudah berada di sana tidak dapat disentuh lagi oleh dosa mau diusir seperti yang terjadi di Taman Eden. Di Firdaus mereka menantikan tubuh kebangkitan, dcngan demikian pekerjaan Allah digenapi di dalam mereka. Sementara Paulus hidup di dunia ini, ia diberi kesempatan masuk sorga untuk melihat kemuliaan sorga dan mendengar perkataan yang tidak boleh diceritakannya kepada siapa pun. Penglihatan dan penyataan yang ajaib itu sangat mempengaruhi serta mendorong dia dalam usahanya memberitakan Kristus yang tiada bandingnya itu di antara para pengikut Kristus di berbagai tempat.

Atas orang itu aku hendak bermegah, tetapi atas diriku sendiri aku tidak akan bermegah, selain atas kelemahan-kelemahanku. Sebab sekiranya aku hendak bermegah juga, aku bukan orang bodoh lagi, karena aku mengatakan kebenaran. Tetapi aku menahan diriku, supaya jangan ada orang yang menghitungkan kepadaku lebih dari pada yang mereka lihat padaku atau yang mereka dengar dari padaku. (2 Korintus 12:5-6).

Paulus tidak bermaksud memegahkan dirinya kecuali atas kelemahan-kelemahannya. Ia boleh bermegah karena penglihatan dan penyataan itu sebab hal itu semata-mata karunia dari Allah, dan kemegahannya itu pun benar. Tetapi, ia juga takut jangan-jangan orang mengira bahwa ia menyombongkan dirinya lebih daripada yang seharusnya.

Manusia cenderung untuk memuja pahlawan, namun Paulus tidak menghendaki hal itu, walaupun ia adalah pahlawan Kristen yang termasyhur. Meskipun ada gereja tertentu yang telah mengangkat para rasul mereka sebagai pahlawan serta memberi sebutan tertentu, namun para rasul itu sendiri tidak mau disebut demikian. Mereka sadar, bahwa mereka hanyalah manusia biasa yang sifatnya sama seperti kita (Yakobus 5: 17). Tetapi Roh Kudus telah mengubah sifat orang-orang itu dan memenuhi serta menguasai mereka untuk melakukan hal-hal yang ajaib, yang tidak dapat dilakukan dengan kuasa mereka sendiri. Kuasa itu juga disediakan bagi kita pada masa sekarang jika kita merindukan kuasa yang sama seperti Rasul Paulus.


-----


* 2 Korintus 12:7-10 Duri dalam daging
12:7 Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.
12:8 Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku.
12:9 Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.
12:10 Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.


Penjelasan :

Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.(2 Korintus 12:7).


Di dalam ayat ini Paulus menyatakan alasannya mengapa ia berkata tentang pengangkatannya ke sorga yang tertinggi, yaitu untuk menerangkan tentang "duri di dalam dagingku". Sebenarnya Paulus merasa malu untuk menceritakannya, oleh karena itu ia lebih dulu berkata-kata tentang kemuliaannya yang terbesar.

"Duri" di dalam tubuh Paulus telah memmbulkan perdebatan yang besar di antara para penafsir. Apa yang dimaksudkan dengan "duri" Rasul Paulus Itu, tidak ada seorang penafsir pun yang dapat menjawabnya dengan pasti. Para penafsir telah mengemukakan banyak jawaban atas persoalan ini, tetapi semua praduga Itu tidak mempunyai bukti yang jelas. Rupanya Allah menghendaki supaya Jemaat Kristus tidak perlu tahu dengan jelas apa dun itu mungkm lebih berfaedah bagi jemaat itu apabila mereka tidak mengetahuinya daripada mereka mengetahuinya dengan jelas. Dalam buku sejarah tentang perkembangan Jemaat Kristus, kadang-kadang para penafsir menyamakan pencobaan-pencobaan yang dialami para anggota jemaat dengan "duri" Rasul Paulus ini.

Banyak hamba Kristus telah berdoa kepada Tuhan agar mereka dilepaskan dari "duri di dalam daging mereka", yang diizinkan oleh Tuhan supaya orang itu merendahkan dirinya dan menyambut kasih karunia Tuhan, lalu setia di dalam pekerjaan-Nya. Hal ini khususnya berkenaan dengan para pemberita Injil. Kita harus mengetahui bahwa kasih karunia Allah sering dinyatakan di dalam tubuh yang lemah. Dengan demikian, persoalan mengenai duri di dalam diri Paulus mungkin menjadi berkat bagi kita.

Paulus berkata secara terus terang bahwa duri itu adalah utusan Iblis yang menggocoh nya (memukulnya). Tetapi Paulus tidak menyatakan bagaimana atau dengan apa ia dipukul oleh utusan Iblis itu. Kita membaca bagaimana Ayub diserang oleh Iblis dengan seizin Tuhan dan kita Juga tahu bahwa akhirnya Ayub mendapat berkat-berkat Allah yang lebih besar. Allah menghajar kita dengan bermacam-macam cara, dengan maksud "supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya" (Ibrani 12:10).

Dengan tubuh yang sakit, Paulus telah memberitakan Injil kepada orang-orang Galatia (Galatia 4:13-14). Mereka menerima Paulus dengan baik dan tetap menyambut dra sama seperti menyambut malaikat Allah walaupun penyakit itu menjadi "pencobaan" kepada mereka. Sungguh aneh pada waktu Paulus diserang oleh Iblis, ia diterima dan disambut oleh orang-orang Galatia sama seperti mereka menerima dan menyambut malaikat Allah. Apakah duri itu berasal dari "utusan Iblis" sehingga Paulus berkata, "Kami telah putus asa juga akan hidup kami" (2 Korintus 1:8)? Juga pada waktu Paulus hendak mengunjungi orang-orang Tesalonika, dua kali Iblis telah mencegahnya (1 Tesalonika 2: 18). Mungkin semua itu dapat membantu kita untuk menerangkan "duri di dalam daging" Paulus. Dalam ayat 1 ditulis tentang penglihatan-penglihatan dan penyataan-penyataan itu. Mungkin Paulus membicarakan lebih dari satu penglihatan dan penyataan. Hendaklah kita belajar dari Rasul Paulus supaya kita jangan memegahkan diri sendiri, melainkan memegahkan kasih karunia Allah.

Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. (2 Korintus 12:8-9).

Tiga kali Paulus memohon kepada Tuhan supaya Ia membuang duri itu dari dia, tetapi Tuhan menjawab, "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu." Tuhan Yesus juga tiga kali memohon kepada Bapa-Nya supaya cawan itu diundurkan dari Dia. Apakah kira-kira jawaban Allah Bapa kepada Yesus di dalam Taman Getsemani? Mungkin sama dengan ayat ini. "Cukuplah kasih karunia-Ku bagi-Mu" (lihat Ibrani 5:7).

Paulus ingin supaya dilepaskan dari serangan-serangan utusan Iblis itu. yang menghalangi pekerjaannya. Doa Paulus didengar, diperhatikan dan dijawab Tuhan, tetapi tidak seperti yang dikehendakinya. Tuhan memang menjawab "tidak", tetapi yang diberikan-Nya itu jauh lebih baik, yaitu "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu". Jadi duri itu tetap ada, dan kasih karunia Tuhan itu juga tetap ada.

"Sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna" (ayat 9). Itulah isi utama surat ini. Dari isi utama surat ini kita dapat merangkum semua yang tertulis di dalamnya dan akan mengerti lebih jelas isinya. Kekuatan dan kuasa Tuhan dinyatakan di dalam hamba-Nya yang lemah. dan dengan kelemahannya itu, Paulus memegahkan kuasa Tuhan. Semakin besar kelemahannya, semakin besar pula kuasa dan kasih karunia-Nya.

Sungguh besar kasih karunia Tuhan kepad.a Paulus sehingga ia lebih suka menderita daripada minta dilepaskan dari duri itu. Jika penderitaannya Itu memuliakan Tuhan, Paulus lebih senang menderita Sebab itu Ia lebih suka memegahkan diri di dalam kelemahannya supaya kuasa Kristus turun ke atasnya, Kuasa itu dipergunakan untuk menggenapi segala maksud dan. pekerjaan Tuhan supaya jelas bahwa kuasa itu berasal dan Tuhan. Dengan kebodohan pemberita Injil itu. Tuhan menyelamatkan orang-orang yang percaya. Dengan dua belas orang yang "lemah", yaitu murid-murid Yesus Kristus. Ia membangun Jemaat-Nya sampai ke ujung dunia.

Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat. (2 Korintus 12:10).

Paulus merasa senang di dalam penderitaannya sebab semua itu menvatakankuasa Allah, dan kuasa Allah disempurnakan di dalam kelemahan manusia. Penderitaan yang dimaksudkan di sini bukanlah penderitaan yang sengaja ditimpakan oleh seseorang ke atas dirinya dengan harapan bahwa perbuatannya itu akan mendatangkan keselamatan. Tidak. Yang dimaksudkan di sini ialah penderitaan karena Kristus.

Paulus merasa kuat pada waktu la menanggung penderitaan itu. Apabila kita lemah dan menyadari kelemahan kita, barulah kita dapat menerima kuasa Allah. Apabila kita mengosongkan diri kita, barulah kita dapat dir!enuhl dengan kuasa Allah. Orang yang menyangka bahwa Ia cukup kuat untuk mengubah kan hatinya, untuk mengampuni dosanya dan untuk mengatasi kuasa kejahatan dengan kekuatannya sendiri, akan dibiarkan oleh Tuhan bersandar kepada kekuatan dirinya sendiri.

Berkat Tuhan tidak pernah meninggalkan orang yang menderita karena Kristus. Perhatikanlah apa yang telah ditulis oleh Chrydodtom berikut ini: "Penderitaan itu sangat berfaedah karena sekarang kami merasa damai dan karena kami merasa lemah, kami senantiasa berserah saja kepada Allah. Apabila kita menderita, barulah kita merasa kuat, mau pergi ke gereja, dan mei dengarkan firman Tuhan."


Sumber :
1. J Wesley Brill, Surat Korintus, Yayasan Kalam Hidup, 2003, p 167-179.
2. Sarapanpagi.org

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan menuliskan komentar Anda. Kami akan segera menanggapinya. Terimakasih, Tuhan memberkati.