googleb2757ebb443295f5 Masa Depan Cerah: Kebutuhan Utama Seorang Anak

Kamis, 10 Mei 2012

Kebutuhan Utama Seorang Anak

1. Kebutuhan Utama Seorang Anak

“…perkembangan kejiwaan akan memungkinkan anak- anak hidup dalam masyarakat dan mencari nafkah, tetapi perkembangan rohani akan memungkinkan mereka mengerti arti hidup.”

DR. Paul D. Meier

Suatu saat dalam hidup saya sebagai seorang pendeta, saya merasa cemas melihat kehidupan anak-anak saya yang meningkat dewasa. Saya cemas karena saya menyadari bahwa anak saya memiliki suatu kebutuhan yang penting, yang saya tidak dapat memenuhinya. Tentu saya berusaha untuk memenuhi kebutuhansandang, pangan, pendidikan, rekreasi dan sebagainya. Tetapi saya tidak dapat memenuhi kebutuhan rohaninya. Padahal itu yang terpenting dalam hidup ini.

Saya telah memberikan pelajaran Alkitab untuk anak-anak saya, mengajarkan mereka untuk berdoa, membiasakan mereka beribadah di Gereja, tetapi sekalipun demikian saya tidak dapat menciptakan suatu kehidupan rohani di dalam diri mereka. Yang dapat saya lakukan adalah menciptakan kebiasaan agamawi di dalam diri anak-anak saya.

Anak-anak, seperti juga orang dewasa, membutuhkan lebih dari sekedar kebiasaan agamawi yang baik, mereka membutuhkan suatu kehidupan rohani yang sejati. Kehidupan rohani yang sejati hanya dapat dikerjakan oleh Tuhan di dalam batin kita yang terdalam. Tanpa Tuhan yang memulai di dalam diri kita, maka yang ada hanyalah kehidupan agamawi belaka. Kita membutuhkan lebih dari sekedar kehidupan agamawi, kita membutuhkan kehidupan rohani.

Mengapa kehidupan rohani penting bagi seorang anak? Hal tersebut penting, sebab ada banyak masalah dalam kehidupan ini yang bersumber dari kehidupan rohani yang tidak benar. Dengan kata lain , ada banyak persoalan hidup yang bila diurut akar masalahnya ialah dosa. Dosa menyebabkan kematian rohani yang berdampak keluar kepada hidup kita sehari-hari. Dosalah masalah utama di dalam kehidupan ini, masalah kehidupan yang pelik dan membawa penderitaan bersumber dari dosa. Oleh karena itu pengenalan akan Allah menjadi faktor penting dalam kehidupan seorang anak.


2. Anak-anak membutuhkan lebih dari sekedar pengetahuan Alkitab dan rutinitas agamawi. Semua itu penting tetapi tanpa kelahiran secara rohani, maka semua hal penting tersebut hanya akan menjadi kegiatan agamawi yang tidak mampu merubah kehidupan manusia.

Awal dari kehidupan rohani yang bertumbuh adalah kelahiran secara rohani. Tidak ada pertumbuhan sebelum terjadi kelahiran lebih dahulu. Demikian juga didalam kehidupan rohani, harus ada kelahiran lebih dahulu baru ada pertumbuhan. Semua aktifitas agamawi seperti, ibadah ke Gereja, baca Alkitab, berdoa, dan sebagainya akan bermanfaat besar bila kita lebih dahulu mengalami ‘kelahiran’ rohani.

Kelahiran rohani

Saya mendefinisikan kelahiran rohani sebagai pengalaman batin yang mendalam yang berakibat kepada perubahan orientasi hidup kita. Salah satu contoh jelas di dalam Alkitab ialah Paulus. Sebelum Paulus bertemu dengan Allah secara pribadi di tengah perjalanannya ke Damsyik, ia adalah seorang yang membenci Kristus dan pengikutnya. Tetapi setelah peristiwa itu, ia menjadi orang yang sangat berdedikasi terhadap Kristus dan mengasihi pengikut-pengikutNya. Peristiwa yang merubah kehidupan Paulus itulah yang dapat kita sebut sebagai kelahiran rohani.

Mungkinkah kita dapat menentukan kapan kelahiran rohani seseorang terjadi? Hal ini sudah menjadi perdebatan yang berkepanjangan, karena masing-masing tradisi memiliki alasan teologis sendiri-sendiri. Sebagian percaya bahwa kelahiran rohani terjadi pada waktu baptisan. Sebagian lagi bersikeras bahwa anak mengalami kelahiran rohani ketika mereka mengalami pengalaman ‘kelahiran baru’, yaitu ketika mereka menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Namun akhirnya para pakar pendidikan Kristen dan para teolog menyadari bahwa yang penting bukanlah ‘ritual’ agamawi tertentu melainkan suatu pengalaman pribadi yang mendalam.


3. Havighurst dan Keating di dalam bukunya yang berjudul, “The Religion of Youth“ mengatakan: ”Suatu bentuk pengalaman yang tepat ialah sebuah pengalaman langsung akan kehadiran Allah. Jelaslah bahwa anak-anak yang mempunyai pengalaman yang seperti itu akan diperlengkapi secara berlainan untuk perkembangan keyakinan iman mereka dibandingkan dengan anak-anak yang belum pernah mendapat suatu pengalaman langsung yang melampaui akalnya dan menyentuh batinnya.”

Kelahiran rohani dan perkembangan rohani seorang anak diprakarsai dan dilakukan oleh Roh Kudus. Semua ini bukan hasil pekerjaan manusia, tetapi hasil karya Allah sendiri. Kita tidak dapat menciptakan suatu kehidupan rohani yang sejati di dalam diri seseorang. Yang dapat kita lakukan adalah menciptakan suasana yang kondusif agar anak dapat mengalami Tuhan secara pribadi.

Pengaruh kehidupan dalam keluarga

Bila iman anak-anak dipupuk sejak kecil melalui doa dan pengajaran Alkitab di dalam kehidupan keluarga yang penuh kasih dan membangun, maka kemungkinan besar mereka akan mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Namun sekalipun demikian hal itu tidak terjadi secara otomatis. Karena bagaimanapun juga semua itu adalah anugerah Allah semata-mata, bukan karena perbuatan kita.

Kestabilan rohani orang tua sangat mempengaruhi kehidupan anak. Suami istri yang hidup rukun dan stabil dalam iman akan memberikan suasana yang mendatangkan kekuatan dan motivasi bagi anak untuk hidup takut akan Tuhan.

Sebaliknya orang tua yang kerohaniannya naik turun dan penuh konflik dalam rumah tangga akan menciptakan kebingungan bagi anak. Anak akan belajar dari sinyal yang diberikan oleh orang tuanya dan itu akan mempengaruhi perkembangan rohaninya.

Dua belas tahun pertama dalam kehidupan anak adalah masa yang sangat penting dan menentukan perkembangan rohani mereka selanjutnya. Alkitab mengatakan: “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” (Amsal 22:6).


4. Sedikitnya ada tiga hal yang diperlukan oleh anak di dalam keluarga yang akan menciptakan suasana yang mendorong perkembangan rohani. Yang pertama adalah kasih, yang kedua menerapkan nilai-nilai Alkitabiah dan yang ketiga penerimaan.

Kasih

Anak perlu bertumbuh didalam kasih. Kasih tidak berarti tidak ada disiplin, tetapi justru sebaliknya: disiplin yang dilakukan dengan kasih. Artinya harus ada disiplin di dalam keluarga, tetapi hal itu dilakukan dengan semangat mengasihi bukan membenci. Disiplin di dalam kasih artinya disiplin di dalam pengampunan.

Bukti bahwa anak-anak membutuhkan kasih dapat terlihat dari sejak mereka lahir. Seorang bayi akan bertumbuh baik bila ia tidak hanya mendapatkan makanan yang cukup tetapi juga mendapatkan belaian kasih sayang orang tua. Mereka membutuhkan pemenuhan keperluan biologis seperti makanan yang sama pentingnya dengan pemenuhan keperluan jiwanya yaitu kasih sayang.

Kasih yang diberikan kepada anak haruslah kasih yang ilahi, artinya kasih yang tanpa syarat. Agar orang tua dapat memenuhi kebutuhan anak-anak mereka akan kasih, maka mereka sendiripun harus hidup dalam kasih Allah yang tanpa syarat. Keluarga yang hangat oleh kasih akan menjadi tempat yang baik bagi anak untuk mengenal Allah.

Kehidupan dalam nilai-nilai Alkitabiah

Banyak keluarga Kristen yang tidak menganut nilai-nilai kristiani dengan sungguh-sungguh sehingga menciptakan kebingungan yang menyebabkan anak belajar untuk munafik dan kompromi dengan pola hidup duniawi. Tanpa disadari ada banyak orang tua yang sedang menjerumuskan anaknya sendiri. Mereka mengajarkan keburukan kepada anak-anak di dalam keluarga dengan menjalani kehidupan yang penuh kompromi dan jauh dari Tuhan.


5. Anak-anak belajar melalui keteladanan lebih dari pada melalui kata-kata. Bila seorang ayah mengajarkan kepada anak-anaknya bahwa hari Minggu mereka harus pergi ke Gereja, namun ia sendiri pergi memancing, maka ia sudah tidak menjadi teladan bagi anak-anaknya. Bahkan tindakannya itu dapat merusak kehidupan anak. Ketika orang tua tidak konsisten dan tidak dapat dipercayai, seorang anak belajar untuk tidak mempercayai lingkungannya maupun Allah.

Penerimaan

Banyak keluarga yang tidak dapat menerima anaknya apa adanya. Mungkin anak kita punya kekurangan, tetapi kita harus menghargai mereka dan menerima mereka serta mengasihinya. Orang tua sering berambisi menjadikan anaknya seperti yang diinginkan hatinya. Dengan tindakan seperti itu, seolah-olah orang tua ingin mengatakan bahwa mereka baik dan disayang bila dapat memenuhi ambisi orang tua. Hal seperti ini akan merobek hati anak dan meninggalkan luka di dalam hati mereka yang berpengaruh kepada perkembangan rohani.

Banyak anak yang tumbuh menjadi pemberontak karena mereka hidup dalam penolakan. Orang tua perlu mengerti bahwa anak-anak adalah unik, mereka mempunyai kepribadian dan kemampuan yang berbeda-beda. Tetapi mereka semua adalah ciptaan Tuhan yang dipercayakan kepada kita. Terimalah anak-anak sebagaimana adanya maka jiwa mereka akan bertumbuh sehat dan mereka akan belajar mengenal anugerah Allah.


Sumber:
Institute for Community and Development Studies Artikel
Penulis : Rev. H. Petrus Nawawi
Direktur Nasional Yayasan Compassion Indonesia
Hak Cipta & Penerbitan milik ICDS College


gksweekapoda.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan menuliskan komentar Anda. Kami akan segera menanggapinya. Terimakasih, Tuhan memberkati.