googleb2757ebb443295f5 Masa Depan Cerah: Nyaris Tiada Maaf (Bagian 2)

Rabu, 02 Mei 2012

Nyaris Tiada Maaf (Bagian 2)

James Dobson
Oleh: John Adisubrata

PERTOBATAN YANG ‘MENJIJIKKAN’

‘Tetapi firman TUHAN: “Layakkah engkau marah.” (Yunus 4:4)

Tampak tulus sekali, ketika ia mengutarakan kekuatirannya atas pengaruh-pengaruh kekerasan dan pemberontakan yang ditawarkan oleh film-film asal Hollywood. Ia yakin sekali berdasarkan pengalamannya sendiri, bahwa pengaruh mereka dengan mudah dapat merusak citra diri para remaja di dunia.

Menurut Ted, kombinasi dari pengaruh buku-buku serta majalah-majalah porno, minuman-minuman alkohol, dan ‘violence’ yang dilebih-lebihkan dalam film-film tersebut, yang disaksikan olehnya di masa remajanya, adalah penyebab utama ketagihannya akan nafsu-nafsu berahi yang tidak normal, nafsu-nafsu seksual yang hanya dapat dipuaskan melalui tindakan-tindakan kekerasan yang harus dilakukan olehnya pada para korban perbuatan kriminilnya.

Ia mengatakan, bahwa SEMUA penjarawan yang dikenal olehnya di sana sebagai pembunuh-pembunuh (serial) yang kejam dan tidak berperikemanusiaan, sangat terlibat dengan segala hal yang berhubungan dengan ‘hardcore’ pornografi di masa muda/remaja mereka. Bahkan sepanjang hidup mereka!

Patut sekali untuk diperhatikan, bahwa pada saat percakapannya dengan Dr James Dobson direkam awal tahun 1989, internet yang menawarkan situs-situs pornografi masakini masih belum ada!

“Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.” (Mazmur 119:9)

Pria muda tampan yang baru berumur 40 tahun lebih sedikit ini tampak amat cerdas, tenang, ‘normal’, bahkan menarik sekali, sehingga begitu mudah baginya untuk dapat menyusup masuk ke daerah kita, dan hidup bebas sebagai salah seorang tetangga kita, tanpa menimbulkan prasangka apa pun mengenai latar belakang kehidupannya yang sejati.

Lebih dari 10 tahun lamanya Ted Bundy berhasil mengelabui mata kedua orang tuanya, bahkan keempat saudara kandungnya, keluarga dan sahabat-sahabat karibnya, dengan menutup rapat rahasia hidupnya yang sangat mengerikan tersebut. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang menduga, bahwa ia sebenarnya adalah pembunuh serial ternama, yang sudah dirasuk setan pornografi, dan yang sedang dicari dan dikejar-kejar oleh FBI!

Salah satu momen mengharukan yang dipercakapkan oleh Dr James Dobson dan Ted Bundy di tengah-tengah wawancara mengesankan tersebut, adalah uraiannya tentang pengalaman indah pertobatan hidupnya.

“Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar.” (Mazmur 51:3)

John Tanner, seorang pengacara kristiani terkenal, sahabat karib Dr James Dobson, berhasil mendapatkan kepercayaan Ted pada masa proses pengadilannya yang berlangsung sangat lama. Bahkan ia dan isterinya, Marcia Tanner, berhasil menjalin persahabatan yang akrab dengannya. Melalui kesetiaan pelayanan kedua hamba Tuhan tersebut di dalam sel penjaranya selama bertahun-tahun, akhirnya mereka dapat melunakkan hati Ted, dan memenangkan jiwanya.


Di dalam surat kedua rasul Paulus kepada murid kesayangannya, Timotius, ia menasehati: “dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran, dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya.” (2 Timotius 2:25-26)

Ted Bundy, si ‘pembunuh serial berdarah dingin’ ternyata bersedia untuk bertobat! Suatu berita yang sangat menggemparkan masyarakat dunia!

Beberapa kali ia berusaha menelan ludah sambil menahan derasnya cucuran airmatanya, pada saat ia mengungkapkan penyesalan hatinya di depan kamera atas perbuatan-perbuatan tak berperikemanusiaan yang pernah ia lakukan, sebelum Ted bertemu muka dengan Tuhan Yesus dan memutuskan diri untuk menjadi pengikut Kristus.

“Ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada TUHAN, dan sampailah doaku kepada-Mu, ke dalam bait-Mu yang kudus.” (Yunus 2:7)

Ted mengakui dengan jujur, bahwa meskipun sebenarnya ia masih belum mau mati, hukuman yang harus ditimpakan kepadanya adalah setimpal dengan perbuatan-perbuatannya yang kejam. Tanpa ragu-ragu ia menyatakan, bahwa ia layak menerima hukuman terberat itu, sebab masyarakat dunia memang harus dilindungi dari orang-orang jahat seperti dia. Tetapi menurut Ted, meskipun dirinya dihukum mati, ia tidak akan dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan yang sudah diperbuat olehnya. Jelas para korbannya tidak akan dapat dibangkitkan lagi.

Tetapi melalui percakapannya dengan Dr James Dobson tersebut, ia mengharapkan agar kesadaran umum mengenai akibat-akibat pengaruh pornografi, lembut ataupun keras, yang begitu mudah untuk didapatkan dan dibeli secara bebas di mana-mana, bisa ditingkatkan lagi. Agar peraturan-peraturan hukum mengenai masalah pornografi yang sudah tersebar luas tersebut, baik di negaranya maupun negara-negara barat yang lain, bisa direvisi dan diubah guna melindungi kesejahteraan hidup masyarakat dari orang-orang seperti dia, yang begitu mudah terpengaruh oleh kejahatan media ini.

Ted tidak bermaksud untuk menyama-ratakan semua kasus, bahwa setiap orang yang kecanduan pornografi pasti akan menjadi seorang penculik, pemerkosa atau pembunuh seperti dia. Tetapi kenyataannya adalah seperti yang sudah dijelaskan oleh Ted sebelumnya: Semua narapidana yang ia ketahui di penjara sebagai pembunuh-pembunuh (serial) yang kejam dan tidak berperikemanusiaan, sangat terlibat dengan segala hal yang berhubungan dengan ‘hardcore’ pornografi di masa muda/remaja mereka!

Ted Bundy menyadari kesulitannya untuk bisa mendapatkan pengampunan dari orang-orang, terutama dari keluarga korban-korbannya, mengingat perbuatan-perbuatan kejinya yang sudah menghebohkan masyarakat dunia. Ia mengakui kenyataan, bahwa ‘nasi sudah terlanjur menjadi bubur’! Mengikrarkan imannya Ted berkata, bahwa pengampunan atas dosa-dosanya hanya bisa didapatkan olehnya dari Tuhan saja.

Raja Daud melukiskan penyesalan dan pertobatannya: “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.” (Mazmur 51:19)

Dapat disimpulkan melalui hasil wawancara yang diabadikan tersebut, bahwa keotentikan pengakuannya pasti terjamin sekali.

Pertama: Karena Ted Bundy sudah lahir baru.

Kedua: Karena jawaban-jawabannya atas semua pertanyaan Dr James Dobson terdengar spontan dan bernada jujur, penuh emosi-emosi penyesalan yang transparan sekali.

Dan ketiga, yang terpenting: Siapakah di antara orang-orang yang sudah percaya, yang dalam waktu amat singkat (hanya beberapa jam kemudian) harus bertemu muka dengan Penciptanya, masih berani berdusta di depan umum?

Di awal dan akhir rekaman video yang berjudul ‘Pornography: Addictive, Progressive and Deadly’ dari kumpulan seri ajaran firman Tuhan untuk muda-mudi ‘Life on the Edge – Video #7′, Dr James Dobson mengatakan, bahwa orang-orang menganggap pertobatan hidup Ted Bundy adalah suatu tindakan yang amat ‘offensive’ (menjijikkan). Dan oleh karena itu, pengampunan dosa yang diterima olehnya, adalah suatu bukti ‘ketidak-adilan’ Tuhan. Bahkan banyak orang meragukan dengan sinis kemurnian pertobatan Ted, serta … motivasinya!

Menurut Dr James Dobson, banyak orang, bahkan orang-orang Kristen sendiri, berterus-terang mengutarakan kejengkelan hati mereka atas pertobatan Ted: “Enak saja, perbuatan jahatnya telah menghancurkan kehidupan berpuluh-puluh, bahkan beratus-ratus keluarga yang tidak bersalah. Kok gampang sekali bertobat, agar bisa diampuni dan masuk sorga! Bagaimana dengan korban-korbannya?”

Secara manusiawi, mungkin kita bisa mengerti, menyetujui dan membenarkan sikap ketidak-puasan mereka atas pertobatan Ted, seperti yang sudah pernah dilakukan oleh nabi Yunus atas pertobatan bangsa Niniwe.

Pada waktu nabi Yunus melihat, bahwa Tuhan mengampuni bangsa tersebut, ia menjadi marah sekali! (Yunus 4:1) Di luar rencana Tuhan, nabi Yunus telah mengambil keputusannya sendiri untuk menghakimi, bahwa bangsa itu tidak sepatutnya menerima karunia pengampunan dari Tuhan. Jadi ketika ia melihat, bahwa Tuhan justru tidak melakukan kehendaknya, ia menjadi amat sewot! Padahal ironis sekali, … nabi Yunus sendiri baru saja diampuni. Ia diberi kesempatan yang kedua oleh Tuhan!

“Lalu berfirmanlah TUHAN kepada ikan itu, dan ikan itupun memuntahkan Yunus ke darat.” (Yunus 2:10)


Klik disini untuk membaca:

Nyaris Tiada Maaf (Bagian 1)
Nyaris Tiada Maaf (Bagian 3)
Nyaris Tiada Maaf (Bagian 4)


Sumber: johnadisubrata.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan menuliskan komentar Anda. Kami akan segera menanggapinya. Terimakasih, Tuhan memberkati.