googleb2757ebb443295f5 Masa Depan Cerah: Nyaris Tiada Maaf (Bagian 3)

Kamis, 03 Mei 2012

Nyaris Tiada Maaf (Bagian 3)

Oleh: John Adisubrata

PATUTKAH IA DISELAMATKAN?

‘Ada suatu kesia-siaan yang terjadi di atas bumi: ada orang-orang benar, yang menerima ganjaran yang layak untuk perbuatan orang fasik, dan ada orang-orang fasik yang menerima pahala yang layak untuk perbuatan orang benar. Aku berkata: “Inipun sia-sia!” (Pengkhotbah 8:14)

Bukankah kita juga harus mengakui dengan jujur, bahwa seringkali kita menunjukkan sikap yang serupa seperti sikap nabi Yunus terhadap bangsa Niniwe, ketika suatu kasus kejahatan sedang menimpa diri kita atau keluarga kita. Kendatipun kasus tersebut mungkin tidak sebanding dengan kasus kejahatan Ted Bundy yang sudah menggemparkan dunia. Mereka yang menyebabkannya langsung kita ‘cap’ dan kita masukkan ke dalam ‘black list’ orang-orang yang tidak kita sukai!

Apabila seseorang telah melakukan suatu kejahatan cukup serius terhadap kita atau keluarga kita, yang tampak terlampau berat untuk menerima pengampunan dari kita, apalagi amnesti dari Tuhan, biasanya kita akan merasa kesal sekali, jika kesempatan untuk bisa menyaksikan orang tersebut menderita, setimpal penderitaan kita gara-gara kejahatannya, menjadi musnah! Pikiran manusia akan selalu menuntut pembalasan atas perbuatan-perbuatan jahat ‘musuh-musuh’ kita, lebih berat lebih memuaskan! Terasa kurang ‘sreg’, jikalau mereka bisa terbebas dari dosa-dosa atau hukuman, hanya gara-gara pertobatan mereka.

Pikiran kita yang sangat terbatas, tidak mungkin dapat menyelami pikiran dan rancangan Allah bagi keselamatan hidup segenap umat manusia. Rencana kita tidak akan pernah sama dengan rencana-Nya, apalagi jika rencana tersebut merupakan salah satu dari rancangan-rancangan ‘jahat’ pikiran kita bagi orang-orang lain yang tidak kita sukai, apa pun motivasi atau penyebabnya.

Alkitab mencatat, bahwa Tuhan selalu mengampuni semua dosa, tidak ada perkecualiannya. Jika kita mau datang menghadap kepada-Nya, dan mengakui dosa-dosa kita dengan segenap hati, Ia berjanji akan mengampuni semuanya serta menyucikan kita.

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1 Yohanes 1:9)

Peristiwa perempuan yang dikenal oleh seluruh penduduk kota sebagai seorang berdosa, tetapi mempunyai ketabahan untuk datang menghadap Yesus, pada waktu Ia sedang duduk makan di rumah seorang Farisi, bernama Simon, sudah membuktikan kebenaran firman tersebut. Perempuan itu membasahi kaki-kaki Tuhan Yesus dengan cucuran air matanya, lalu menyeka mereka dengan rambutnya.

Tetapi tindakan selanjutnya, di mana ia menciumi kedua kaki Yesus serta meminyaki mereka dengan minyak wangi yang mahal berasal dari dalam buli-buli pualam, telah membuat pribadi wanita berdosa itu menjadi termasyhur sekali, seperti yang ‘dinubuatkan’ oleh Tuhan Yesus sendiri kepada Simon, di hadapan para tamunya. (Matius 26:13; Markus 14:9; Yohanes 12:7) Bahkan peristiwa yang amat mengesankan tersebut sudah diabadikan di dalam keempat Injil Perjanjian Baru.

Yesus juga mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh Simon! Ketika Ia mengamati, bahwa orang Farisi tersebut memperlihatkan sikap tidak senang, karena Ia membiarkan perempuan berdosa itu melakukan semua tindakannya secara bebas, Yesus segera menegur Simon dengan suatu kisah yang sederhana!

Di depan para tamu yang hadir di rumahnya, Ia menceriterakan sebuah perumpamaan tentang dua orang yang meminjam uang. Yang seorang berhutang banyak, dan yang lain hanya sedikit. Karena mereka tidak sanggup untuk melunasinya, si pemilik uang membebaskan hutang mereka berdua. Yesus bertanya kepada orang Farisi itu: “Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?” (Lukas 7:42b)

Kita semua tentu sudah mengetahui dengan fasih jawaban Simon terhadap pertanyaan Tuhan Yesus, karena jawabannya memang terdengar logis sekali. Apakah kita tidak akan memberi jawaban yang serupa, jika pertanyaan Yesus tersebut ditujukan kepada kita?

Yesus mengakhiri kisahnya dengan mengatakan: “Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah berbuat banyak kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit pula ia berbuat kasih.” (Lukas 7:47)

Jikalau kita mempelajari awal riwayat hidup Ted Bundy sesuai dengan uraiannya kepada Dr James Dobson, kita akan mengetahui, bahwa ia sebenarnya berasal dari sebuah keluarga Kristen, yang menurut pengakuannya sendiri, adalah keluarga baik-baik dan ‘normal’, yang setiap hari Minggu pergi beribadah ke gereja.

Ted menekankan, bahwa sedari kecil ia bukan seorang anak ‘luar biasa’ yang patut dijadikan teladan anak-anak lainnya, karena jelas ia bukan malaikat. Ted hanya seorang anak biasa-biasa saja bagaikan anak-anak lain sebayanya, yang dididik dalam sebuah keluarga Kristen yang stabil, dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh kedua orang tuanya. Ted bukan berasal dari suatu keluarga yang hancur berantakan, seperti yang sudah diduga, disebar-luaskan, dan ‘disahkan’ oleh masyarakat dunia.

Seperti umumnya terjadi pada keluarga-keluarga biasa lainnya, kedua orang tuanya juga mengasihi dan selalu berusaha melindungi kehidupan kelima anak mereka dari pengaruh-pengaruh jahat dunia yang dapat menyesatkan dan merusak masa depan mereka.

Kendatipun kedua orang tuanya harus menanggung rasa malu yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata lagi, karena mempunyai seorang anak yang dijuluki ‘monster’ oleh masyarakat dunia, apakah mereka sebagai orang-orang percaya, akan berhenti mengasihi dia? Apakah mereka akan berhenti berdoa untuk keselamatan hidupnya?

Apakah jemaat gereja lokal mereka, dan juga orang-orang Kristen yang mengenal keluarga tersebut, tidak ikut berdoa untuk anak Tuhan yang sangat hilang ini?

Roh Allah selalu bekerja dengan penuh keajaiban, yang terlalu misterius untuk dapat dimengerti begitu saja oleh keterbatasan pikiran kita.

Di sinilah KUASA DOA orang-orang kudus untuk pertobatan Ted Bundy dibuktikan oleh Tuhan sendiri!

“Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.” (Roma 6:22)


Klik disini untuk membaca:

Nyaris Tiada Maaf (Bagian 1)
Nyaris Tiada Maaf (Bagian 2)
Nyaris Tiada Maaf (Bagian 4)


Sumber: johnadisubrata.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan menuliskan komentar Anda. Kami akan segera menanggapinya. Terimakasih, Tuhan memberkati.