googleb2757ebb443295f5 Masa Depan Cerah: Minim Game Positif, Bocah 13 Tahun Ciptakan Game Sendiri

Jumat, 08 Juni 2012

Minim Game Positif, Bocah 13 Tahun Ciptakan Game Sendiri

Bahaya laten video game sejatinya disadari oleh para orangtua yang memiliki anak-anak di abad modern ini. Namun beda halanya dengan Fahma Waluya Rosmansyah. Bocah yang baru berusia 13 tahun ini sadar betul bahwa game yang beredar saat ini banyak yang tidak mendidik. Selain hanya mengandalkan kecekatan pemainnya, game-game saat ini sering kali hanya mengumbar kekerasan. Pemainnya tidak diajak untuk belajar.

Kondisi ini akhirnya membuat Fahma memutuskan untuk membuat game-game sendiri. Syarat game ciptaannya hanya dua, berfilosofi dan memiliki manfaat. Keprihatinan akan minimnya game-game yang edukatif dan kecintaan kepada adiknya membuat Fahma menciptakan beberapa aplikasi dan game.

Sejak belia Fahma terus berkarya, karya pertamanya merupakan buah cinta terhadap adiknya yang saat itu berusia 3 tahun. Saat ini Hania Pracika Rosmansyah adik Fahma, sudah berusia 7 tahun. Saat itu ia ditantang ayahnya untuk membuat aplikasi game edukatif agar adiknya dapat belajar sekaligus bermain, melihat sang adik suka sekali main ponsel ibunya. Kemudian ia dibelikan buku dan CD tutorial untuk membuat aplikasi oleh ayahnya. Jadilah sebuah aplikasi yang ia beri nama "My Mom's Mobile Phone as My Sister's Tutor" (Ponsel Ibuku Untuk belajar adikku). Disini Hania dibuatkan aplikasi tentang mengenal warna, huruf dan angka, dalam proses pembuatannya Hania dilibatkan sebagai pengisi suara.

Semua game dan aplikasi buatannya walaupun sederhana namun dapat menjadi alat belajar untuk anak-anak. English for Children (Enrich) misalnya, adalah sebuah aplikasi yang mengajak pemainnya untuk belajar bahasa Inggris. Tidak hanya berupa teks dan gambar, aplikasi ini juga memiliki suara.

“Jujur apa yang menginspirasi saya untuk membuat game dan aplikasi adalah dia (sambil menunjuk adiknya Hania). Saya buat ini biar adik saya belajar. Itulah sebabnya game atau aplikasi buatan saya adalah game atau aplikasi edukasi,” ungkap siswa yang masih duduk di bangku SMP Al Farisi Bandung ini.

Hania juga dilibatkan dalam proses pembuatan game dan animasi. Selain menjadi sumber inspirasi, sang adik juga menjadi pengisi suara dan tester dari setiap aplikasi atau game yang dibuat. Menjadikan adiknya sebagai partner membuat Fahma yakin ide-ide yang dimilikinya dalam pembuatan aplikasi dan game tidak akan dibajak oleh orang lain.

“Saya lebih suka kerja bareng adik sendiri. Pernah sih kepikiran untuk bikin tim dengan temen. Tapi saya kurang cocok. Karena kalau dengan adik kan sudah tahu apa keinginannya, apa kebutuhannya. Dan terus bareng-bareng. Kalau dengan teman kan kadang suka susah ketemu, dan ngga semua temen bisa jaga rahasia. Itu yang penting,” ungkapnya.

Pada usia sekarang ini Fahma telah mendapat penghargaan sebagai programmer termuda versi Ovi Nokia, selain beberapa penghargaan lain seperti Juara 1 the Asia Pasifik Information and Communications Technologi Awards (APICTA), Juara 1 Indonesia Information and Communication Technology Award (INAICTA), bersama adiknya ia juga mendapat SCTV Award, Si Bolang Award, Habibie Award serta berbagai penghargaan lainnya. Sampai saat ini sudah lebih dari 45 aplikasi dibuat oleh Fahma, termasuk aplikasi ponsel, Ipad dan komputer. Beberapa aplikasinya bahkan sudah bisa diunduh di OVI Store Nokia.

Sosok Fahma tidak lepas dari dampingan orangtua. Ini menjadi pembelajaran bagi kita pentingnya peran orangtua dalam mengenalkan sesuatu yang baik pada anaknya, kemudian menstimulasinya. Jika saat ini Anda mempunyai putra/putri dan nyaman ketika mereka menghabiskan waktu dengan menonton televisi atau bermain game, cobalah kurangi kebiasaan ini. Mengenalkan komputer sejak usia dini adalah suatu hal yang positif. Sebagai orangtua mari dampingi tumbuh kembang anak-anak dengan situasi dan stimulan terbaik.


Sumber: Jawaban.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan menuliskan komentar Anda. Kami akan segera menanggapinya. Terimakasih, Tuhan memberkati.