googleb2757ebb443295f5 Masa Depan Cerah: Hati-hati menonton The Twilight Saga: Breaking Dawn Part 2

Senin, 19 November 2012

Hati-hati menonton The Twilight Saga: Breaking Dawn Part 2

Konon, ketika si ular menggoda Hawa, ia menyodorkan I-pad 5 dari Apple yang menunjukkan sebuah klip seorang perempuan yang sangat bahagia karena memiliki pengetahuan yang baik dan yang jahat, dan karena yakin bahwa apa yang ia lihat dalam klip itu adalah kenyataan, ia pun makan I-pad 5 itu (he...he...he...bercanda).

Tapi bukankah benar bahwa tawaran imaginasi kita sangat berpengaruh dalam berbagai keputusan yang kita buat, dan bahwa film mempunyai daya yang kuat dalam membentuk imaginasi dan persepsi dalam pikiran kita? Karena itu, hati-hati dengan apa yang Anda pilih untuk ditonton. Mata adalah gerbang hati.

Pengalaman saya menonton Twilight adalah ketika ipar saya datang bekunjung di tempat tinggal kami di West Virginia. Menurut pengakuannya, ia adalah salah seorang penggemar film Twilight. Kebetulan film The Twilight Saga: Breaking Dawn Part 1 sedang diputar di bioskop, sehingga kami bertiga sepakat untuk pergi menonton, sekalipun saya dengan berat hati.

Saya memang bukan tipe orang yang menyukai film dengan karakter vampir, apalagi akhir-akhir ini saya merasa alergi dengan film-film Barat karena kurang nilai positifnya sementara juga yang ditonjolkan adalah keglamouran, tapi memang tak bisa dipukul rata. Ada juga film-film Barat yang memberi cerminan hidup dan pesan kebajikan yang mendalam.

Kadang saya bertanya, apakah banyaknya film yang kurang berbobot (kurang pemaknaan hidup) sekarang ini menunjukkan sikap meremehkan dari para produser film di Hollywood terhadap konsumennya atau selera konsumen yang mendorong dibuatnya lebih banyak film seperti ini? Saya belum punya jawabannya.

Demi menyenangkan istri dan menghargai ipar saya ikut menonton. Pikiran saya: sebuah buku yang makan waktu untuk dibaca, dapat dilihat dalam sebuah film dalam waktu satu jam. Inilah potensi film yang tak boleh dianggap remeh.

Jujur saja, film itu cukup membuat saya ngeri. Istri dan terutama ipar saya sepertinya menikmatinya, sekalipun akhirnya istri saya mengaku ia juga tak suka film vampir.

Saya merasa 'trauma' menonton film itu :-) Apakah itu karena perbedaan budaya atau pemikiran? Saya tidak tahu. Di Indonesia pasti ada juga orang yang biasa saja setelah menontonnya.

Memang waktu itu di Manado, Indonesia, surat kabar lokal menyoroti gerakan kultis yang dalam ritualnya memakan janin bayi hasil aborsi dan meminum darah. Mungkin karena hal itu, perut saya muak karena beberapa adegan dalam film itu.

Yang sangat memprihatinkan bagi saya adalah ketika ketika kurang lebih lima menit ditunjukkan adegan seks dari dua tokoh utama dalam film ini (mengapa adegan itu diberi durasi yang panjang?). Banyak orang menganggap itu karena budaya Barat yang demikian, dan hal ini hanya menunjukkan bagaimana film membentuk persepsi (karena sebenarnya tidak benar demikian, namun bisa jadi demikian).

Yang saya maksud bukan hanya adegan itu sendiri, tapi film yang diarahkan pada anak muda ini (apa ada yang tahu untuk tujuan apa?) diberi rating PG-13 (Parental Guidance – Bimbingan Orangtua untuk anak-anak umur 13 tahun ke bawah), maksudnya anak-anak boleh nonton tapi dengan pendampingan orang tua, supaya orang tua dapat menjelaskan pada anak-anak bahwa… (sementara bingung).

Tapi memang saya hanya sedih karena ketika film itu 'selesai' (karena masih ada sambungannya), saya juga melihat anak-anak keluar dari bioskop itu, dan tentu saja di bioskop tidak boleh ada yang bercakap-cakap. Saya hanya menarik nafas dengan harapan semoga saja orang dewasa yang mendampingi mereka akan ingat untuk mengambil waktu membicarakan beberapa adegan dalam film itu, sekaligus menuntun mereka untuk mengambil pesan yang baik dari film itu (kita dapat belajar dari contoh yang baik dan yang buruk).

Saya belum melihat seri Twilight yang baru (dan memang tidak ada niat untuk itu, kecuali ipar datang lagi), tapi tulisan ini sekedar mengingatkan saja supaya jangan sampai Anda sudah mengeluarkan uang untuk menopang industri perfilman (Amerika), Anda masih juga dirugikan jika tidak bersikap kritis.***



Dikutip dari sumbernya: menarapenjaga.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan menuliskan komentar Anda. Kami akan segera menanggapinya. Terimakasih, Tuhan memberkati.