googleb2757ebb443295f5 Masa Depan Cerah: High Dengan Musik Penyembahan

Kamis, 25 April 2013

High Dengan Musik Penyembahan

Sebuah penelitian pada tahun 2012 yang dilakukan oleh Universitas Washington, menyimpulkan bahwa gereja-gereja raksasa (megachurch) menyediakan perasaan high dan eforia biologis yang sama yang dihasilkan oleh acara-acara olahraga dan konser-konser (Ecumenical News International, 21 Agus. 2012). Penelitian tersebut, yang berjudul “God Is Like a Drug: Explaining Interaction Ritual Chains in American Megachurches,” dilakukan oleh Katie Corcoran dan James Wellman. Mereka menemukan bahwa perasaan ‘high’ saat ‘penyembahan’ terjadi karena “musik upbeat yang modern, kamera-kamera yang menyapu audiens dan menayangkan para penyembah yang tersenyum, berdansa, bernyanyi, atau menangis di layar besar, dan seorang pemimpin yang sangat berkharisma memiliki khotbah-khotbah yang menyentuh individu-individu pada tingkat emosional.” Mereka percaya bahwa hal-hal ini “memicu zat-zat kimia di otak untuk memberikan individu yang bersangkutan suatu ‘high’ emosional dan perasaan transenden sekaligus perasaan perlu untuk kembali lagi untuk mendapatkan dosis berikutnya.” 

Saya sudah sejak lama mengatakan bahwa para ‘penyembah’ kontemporer sebenarnya hanyalah ‘high’ dengan musik yang disuguhkan. Hal ini terlihat jelas dalam sebuah kunjungi riset ke City Harvest Church, gereja terbesar di Singapura, pada tanggal 8 Februari 2003. Musiknya adalah rock & roll yang sepenuh-penuhnya, dengan dua pemain drum, gitar-gitar elektrik, sebuah keyboard, dan bagian bass yang kuat. Beberapa pemimpin ‘penyembahan’ (worship leader), baik lelaki maupun wanita, bergoyang dan berjoget di depan panggung. Hampir semua orang bergabung secara antusias pada waktu penyembahan, bernyanyi, bertepuk tangan, melompat-lompat, bergoyang mengikuti musik yang kuat. 

Majalah gereja tersebut, edisi Juli-Desember 2002, memuat bagian tanya/jawab, dan salah satu pertanyaan yang diajukan sangatlah instruktif. Seorang anggota baru di gereja itu berkata bahwa dia (perempuan) “merasa tertarik ke dalam hadirat Allah, TERUTAMA PADA SAAT-SAAT PRAISE AND WORSHIP (pujian dan penyembahan).” Tetapi ketika dia mencoba untuk bertemu Allah dengan cara yang sama pada waktu renungan pribadinya, untuk ‘MERASAKAN HADIRAT YANG SAMA,’ dia selalu gagal. Dia tidak dapat memahami apa yang terjadi, tetapi sebenarnya sederhana saja. Musik yang sensual itulah yang menghasilkan perasaaan suatu “hadirat,” tetapi penyembahan yang sejati sama sekali tidak ada hubungannya dengan hal-hal ini. Hal-hal seperti ini mudah dipalsukan oleh daging dan Iblis. 

Penyembahan sejati adalah mengucap syukur kepada Allah dan melayani Dia dengan taat MELALUI IMAN TIDAK PEDULI APA PERASAAN SAYA SAAT INI ATAU KONDISI SITUASI. Apakah menurutmu Abraham merasakan perasaan hangat yang menggelitik saat dia berjalan ke Gunung Moria dengan Ishak, atau apakah Ayub mendapatkan perasaan hangat menggetarkan saat dia duduk di atas abu, menggaruk-garuk bisulnya dengan pecahan tembikar sambil memikirkan anak-anaknya yang meninggal, hartanya yang habis, dan serangan-serangan istrinya? Tidak, tetapi kedua tokoh itu melakukan tindakan penyembahan yang paling murni yang dicatat dalam Alkitab, dan mereka sama sekali tidak tergantung kepada musik. 


Sumber: 
Way of Life / STT GITS 
http://www.cakka.web.id/blog/high-dengan-musik-penyembahan/

3 komentar:

  1. Setuju dengan artikel di atas, penyembahan sejati tidaklah bergantung musik, tetapi ketaatan yang teguh pada FirmanNya.

    BalasHapus

Silahkan menuliskan komentar Anda. Kami akan segera menanggapinya. Terimakasih, Tuhan memberkati.