googleb2757ebb443295f5 Masa Depan Cerah: “PERLUKAH GEREJA MODERN BERUBAH?”

Sabtu, 28 September 2013

“PERLUKAH GEREJA MODERN BERUBAH?”

Perubahan dalam dunia adalah sesuatu yang biasa. Kita perlu mengikuti perubahan yang terjadi di dalamnya. Dulu orang mengendarai kuda atau kereta kuda tetapi kini orang mengendarai sepeda motor atau mobil. Dulu orang menggunakan burung merpati untuk memberikan kabar berita lalu digantikan dengan cara surat menyurat atau pengiriman pesan melalui telegram tetapi kini orang dapat menggunakan pesawat telpon atau handphone untuk langsung berbincang-bincang, mengirimkan pesan singkat melalui SMS atau surat melalui e-mail atau berbincang melalui dunia maya yang dikenal dengan istilah chatting. Pada saat saya kuliah di perguruan tinggi di akhir tahun 80-an saya menggunakan mesin ketik manual untuk membuat tugas tetapi kini para mahasiswa menggunakan laptop dan printer. Dulu dapat memasang telpon pribadi di rumah sangat sulit dan mahal tetapi sekarang hampir semua orang memiliki telpon seluler. Siapa yang tidak mau berubah maka ia akan ketinggalan zaman, ia menjadi orang “jadul” (zaman dulu) dan gaptek (gagap teknologi). Begitu pula jika gereja tidak mau berubah bersama dengan Tuhan. Suka atau tidak gereja akan tertinggal, gereja akan dan harus mengalami perubahan. Tetapi sudah dapat diprediksikan bahwa pasti ada saja kelompok yang enggan berubah. Bagaimana menurut para pakar theologia tentang perubahan ini?

Beberapa pakar theologia dan riset memberikan beberapa saran perubahan:

DR. C. Peter Wagner, adalah pakar dalam bidang pertumbuhan gereja dan peperangan rohani, salah satu seorang pelopor gerakan Gereja Apostolik Baru, Dekan dari Wagner Leadership Institute (WLI) dan Presiden Global Harvest Ministry menyatakan ada 9 pergeseran paradigma yang tengah berkembang:

Dari Pemerintahan denominasi kepada pemerintahan apostolik atau rasuli.
Dari Reformasi Internal kepada pembaharuan apostolik.
Dari Visi gereja kepada visi kerajaan.
Dari Persekutuan gereja berdasarkan warisan (denominasi) kepada persekutuan gereja berdasarkan teritorial (kota).
Dari ekspansi gereja kepada transformasi masyarakat.
Dari bertoleransi pada setan kepada invasi terhadap kerajaan setan.
Dari Pendidikan theologia kepada memperlengkapi pelayan.
Dari muatan doktrin yang berat kepada muatan doktrin yang ringan.
Dari pengudusan Reformed kepada kekudusan Wesley.

George Barna, pakar riset dari Amerika Serikat dan pimpinan Barna Research, telah meneliti hubungan antara gereja dan budaya Amerika Serikat. Ia telah melihat perubahan yang muncul:

Otoritas: Dari sentralisasi kepada desentralisasi.
Kepemimpinan: dari dipimpin pendeta kepada dipimpin orang “biasa”.
Distribusi kuasa: dari vertikal pada horisontal.
Reaksi pada perubahan: dari menolak kepada menerima.
Identitas: dari tradisi dan aturan kepada misi dan visi.
Lingkup pelayanan: dari segala macam kepada spesialisasi.
Praktek: dari diikat oleh tradisi kepada diikat oleh relevansi.
Peranan umat: dari observasi dan support pada partisipasi dan inovasi.
Produk utama: dari pengetahuan kepada transformasi (perubahan)
Faktor sukses: dari ukuran, efisiensi, image kepada kemudahan akses, pemberian dampak dan integritas.
Tantangan utama: dari momentum, hubungan, kepemimpinan dan kepuasan kepada hubungan, kesatuan, kepemimpinan dan keseimbangan.
Efek teknologi: dari merebut perhatian kepada memfasilitasi pertumbuhan.
Sarana bertumbuh: lebih dari sekedar program-program yang dijalankan lebih baik kepada hubungan dan pengalaman yang lebih mendalam.
Prospek pertumbuhan: dari terbatas pada tanpa batas.

Lebih lanjut George Barna pun menyatakan mengenai 10 profil gereja abad 21:

Gereja abad 21 menolak agama mati.
Gereja abad 21 kembali menemukan sukacita mendengar suara Tuhan.
Gereja abad 21 bergerak dalam penginjilan lintas budaya.
Gereja abad 21 peduli hubungan dari pada program dan organisasi.
Gereja abad 21 memberi keleluasaan pada kreatifitas.
Gereja abad 21 menaruh perhatian terhadap rekonsiliasi.
Gereja abad 21 memiliki pemahaman yang matang tentang peperangan rohani.
Gereja abad 21 menerima konsep “Gereja seKota”
Gereja abad 21 memberikan perhatian kepada pelayanan sosial.
Gereja abad 21 menyembah Allah dengan bebas.

Lain lagi pernyataan Eddie Gibbs, Profesor pertumbuhan gereja di School of World Mission di Fuller Theological Seminary:

Dari hidup di masa lalu kepada berurusan dengan masa kini.
Dari berorientasi terhadap “pasar” kepada berorientasi pada misi.
Dari birokrasi hirarki kepada jaringan apostolik.
Dari menyekolahkan profesional kepada mentoring pemimpin.
Dari mengikuti selebritis rohani kepada menjumpai orang kudus.
Dari menarik pengunjung kepada mencari yang terhilang.
Dari belonging (menerima/keanggotaan) ke believing (percaya/pemuridan).
Dari orthodoxy yang mati kepada iman yang hidup.
Dari jemaat generik kepada komunitas yang berinkarnasi.
Sedangkan Wolfgang Simson dari DAWN Ministries memberikan 15 tesis tentang reinkarnasi gereja (dalam bukunya yang fenomenal Houses That Changes The World):

Gereja adalah gaya hidup, bukan seri pertemuan agamawi.
Waktu untuk merubah sistem.
Reformasi ke tiga (reformasi struktur)
Dari bangunan bait Allah ke gereja yang bertemu di rumah.
Gereja harus menjadi kecil untuk bertumbuh menjadi besar.
Tidak ada gereja yang hanya dipimpin oleh seorang gembala saja.
Potongan yang benar – dipersatukan dengan cara yang salah.
Allah tidak meletakkan gereja di tangan kependetaan yang birokratif.
Dari kekristenan yang terorganisir menjadi kekristenan yang organisme.
Dari menyembah penyembahan menjadi penyembah Allah.
Berhenti membawa orang ke gereja dan mulai membawa gereja ke orang-orang.
Menemukan kembali “perjamuan Tuhan” sebagai perjamuan yang nyata dengan makanan yang nyata.
Dari berbagai denominasi kepada perayaan sekota.
Mengembangkan roh tahan uji terhadap aniaya.
Gereja yang pulang ke rumah.

Robert Fitts, pimpinan Outreach Fellowship International dan penulis buku Church in the House (Gereja di Rumah) memberikan pandangan 40 tren perubahan terhadap transformasi gereja, sebuah buah pemikiran pada kealamiahan dan fungsi gereja:

1. Dari kehidupan berpusat pada pertemuan kepada kehidupan berpusat pada Kristus. (teladan Yesus adalah melayani secara spontan, setiap hari, situasi dimana saja tanpa perencanaan, setiap saat.)

2. Dari Kekristenan kepada Kristus. (Bukan sebuah filosofi, sistem, pergerakan atau agama, tetapi seorang pribadi . . . KRISTUS DALAM DIRIMU!)



3. Dari gedung gereja kepada gereja di rumah. (Menjadi sederhana untuk mudah bermultiplikasi)



4. Dari pertumbuhan yang meningkat hanya dari dalam kepada pertumbuhan dari dalam dan luar yang meningkat. (Baik akibat pertambahan maupun multiplikasi)

5. Dari pelayanan seorang gembala (pendeta) kepada pelayanan lima jawatan (Kita memerlukan ke lima pelayanan jawatan tersebut.)

6. Dari keimamatan khusus kepada keimamatan setiap orang percaya (Membawa Tuhan kepada orang-orang melalui kesaksian kita dan doa syafaat)

7. Dari organisasi kepada organisme (Hati-hati! Lawan dari hirarki adalah anarki)

8. Dari penyembahan tiap minggu kepada penyembahan setiap saat. (Penyembahan itu lebih dari hanya sekedar menyanyi)

9. Dari membawa orang ke gereja kepada membawa gereja kepada orang-orang. (Doa yang membakar. "Bapa, bawa aku ke dalam jalan salibMu hari ini, bawalah aku hari ini bertemu dengan orang yang lapar akan Engkau atau sedang membutuhkan . . . ")

10. Dari simbolis kepada substansi perihal Perjamuan Makan (Suci) (Lakukan sesering mungkin)

11. Dari denominasi kepada jejaring yang dipimpin Roh Kudus (Mengidentifikasi diri dengan gereja sekota)

12. Dari kehormatan sosial kepada menjadi GARAM & TERANG (Menggonjang-ganjingkan dunia)

13. Dari pertunjukan oleh kaum imam profesional kepada I Korintus 14:26. ("Setiap orang yang memiliki pengajaran. .

.") 14. Dari berdasarkan program kepada gereja berdasarkan rumah (Liturgi, Penginjilan, Informal)

15. Dari sistem pendidikan seminari kepada sistem pemuridan (Sekolah Alkitab sederhana)

16. Dari perpuluhan kepada memberikan semuanya sesuai Perjanjian Baru (Kedermawanan dengan janji penghargaan)

17. Dari penundukan diri secara selektif (hanya pada denominasinya) kepada penundukan diri total (tunduk kepada otoritas yang ditunjuk Allah)

18. Dari jabatan kepada fungsi ("Jangan memanggil seorang pun guru, ayah, rabi, dll. . .")

19. Dari gereja independent kepada gereja inter-dependent (terhubung dengan gereja se-kota untuk saling menolong, menguatkan dan menasehati)

20. Dari keanggotaan tersurat kepada anggota Tubuh Kristus (kita merupakan anggota dari seorang dengan yang lainnya)

21. Dari sistem roda kepada pokok anggur (mengutus tim penanam gereja sederhana di rumah-rumah)

22. Dari kesatuan organisasi kepada kesatuan rohani (hanya tinggal satu langkah menuju kesatuan. . .SALING MENERIMA)

23. Dari Safeway atau Circle K kepada Safeway dan Circle K (menerima semua yang Tuhan terima). CATATAN: Safeway dan Circle K merupakan gerai mini market, maksudnya keragaman “nama” gereja modern.

24. Dari “kita dan mereka” kepada “kita” (Menolak untuk mengizinkan roh pemecah belah dalam persekutuan kita)

25. Dari hanya menanam gereja bergedung kepada menanam gereja dimana saja secara spontan. (menyadari ekklesia dapat bertemu dimana saja)

26. Dari belenggu kepada kemerdekaan bagi kaum wanita (Kis 2:17-18 , Gal. 3:26-28)

27. Dari sistem presbiteri (majelis) tanpa orang-orang kepada majelis bersama orang-orang (Kis 15:22)

28. Dari kesewenang-wenangan kepada petunujk alkitabiah dari penatua-penatua yang telah ditetapkan (I Tim. 3, Titus 1)

29. Dari “gembala saya” kepada “gembala-gembala saya” (guru-guru, penginjil-penginjil, rasul-rasul, nabi-nabi)

30. Dari membangkitkan pemimpin-pemimpin kepada mengangkat para hamba. (Kerajaan Allah bertanah rata)

31. Dari visi lokal kepada visi dunia (tiga cabang kepercayaan dalam gereja)

32. Dari membangun kerajaan saya kepada membangun KerajaanNya (Mari saya menolongmu untuk menggenapi visimu.)

33. Dari gereja bertembok kepada gereja se-kota. (Mereka memenuhi Yerusalem dengan pengajaran mereka)

34. Dari rasa takut mengalami pencurian domba kepada takut memiliki domba (Kis 20:28-31)

35. Dari berpusatkan pada gembala kepada membuat semua orang menjadi gembala. (Kis 20:28-31)

36. Dari menggunakan kata “gereja” kepada menggunakan frase “tubuh Kristus." (Kis 19:32-41)

37. Dari pembatasan kepada persekutuan yang tidak dirintangi. ( Saya anggota dari tiap gereja di dalam kota.)

38. Dari diliputi kelalaian kepada ketenangan. (tanaman tomat, api, starter motor)

39. Dari tipe kuliah kepada tipe belajar Alkitab secara interaktif. (Tubuh melayani dirinya sendiri dengan kasih.)

40. Dari piramid kepada kue pancake dalam pengertian kita akan penundukan diri terhadap otoritas. (Saya tunduk kepada Raja segala Raja dan setiap otoritas rohani yang Tuhan utus dalam hidup saya.)


Saya rasa pernyataan dari para pakar di atas cukup banyak untuk menjadi bahan permenungan kita semua. Saya berharap dari hasil permenungan tersebut kita semua dapat berubah ke arah yang lebih baik sebab makin mengerti kehendak Tuhan yang sempurna.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan menuliskan komentar Anda. Kami akan segera menanggapinya. Terimakasih, Tuhan memberkati.