googleb2757ebb443295f5 Masa Depan Cerah: PERSOALAN LEBIH DARI RUMAH IBADAH, Arti manusia di dalam itu kepada sesama

Sabtu, 21 September 2013

PERSOALAN LEBIH DARI RUMAH IBADAH, Arti manusia di dalam itu kepada sesama

Kitab Suci, Surat Roma
15:1 Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri.
15:2 Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya.

Kitab Suci, Injil, Surat Matius
5:13 "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.
5:14 Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.

Ada hal dianggap persoalan bersama yang “sangat penting” umat Kristiani di negeri ini: “KESULITAN MEMBANGUN RUMAH IBADAH”. Namun sesungguhnya apa betul itu hakekat persoalan di tengah kita?

Mari kembali dulu kepada asal kata ibadah. Ibadah adalah kata yang sama saat Tuhan memberi perintah kepada Adam dalam Kitab Kejadian 2:15,yaitu untuk “mengusahakan dan memelihara” Taman yang Tuhan jadikan.

Sementara tanpa berpikir diartikan sempit menjadi sangat agamawi: pergi untuk sejauh duduk mendengar ceramah di rumah ibadah lalu "termotivasi" dan "adduh berkesan senengnya ketemu saudara seiman". Itu lah kebanyakan kita lakukan seumur hidup, dalam waktu satu atau dua kali seminggu selama beberapa jam. Jadi praktek ibadah kita ini sangat bergeser pengertiannya.

Mengapa? Mungkin karena yang mengajar Cuma berlatar belakang ajaran tradisi agama saja, bukan makna dan teladan hidup orang beriman. Belajarlah dari isi dan TUHAN yang berfirman dari Injil itu sendiri, bukan kulitnya saja yaitu "dari kata orang".

Kitab Suci INJIL, Surat Matius
28:16 Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka.
28:17 Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu.
28:18 Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi

Sesungguhnya perlu usaha untuk memelihara apa yang baik yang Tuhan telah karuniakan, yang kita miliki dan memberkati komunitas sekeliling kita. Dalam Perjanjian Baru, Tuhan berbicara tentang talenta, sesuat yang bernilai yang dititipkan untuk diusahakan. Kelak, pelipatgandaan nilai itu yang Tuhan tagih dan pertanyakan secara pribadi kepada semua orang.

Nah di tengah-tengah umat Tuhan saat ini jarang ada yang berpikir Surat Roma 15:1-2 di atas. Kita berpikir individual dan mengukur dan mentargetkan secara individual parsial pula.

Singkat cerita, “diam-diam” semua berpikir kesuksesan menurut perspektifnya. Jadi, gembala jemaat hanya berpikir keberhasilannya sebagai rohaniawan yang berhasil memanfaatkan banyaknya jemaat/pengikutnya mendukung kegiatan agamawinya.

Namun para jemaat yang ada juga “diam-diam” menyimpan hasrat keinginan meraih semua target pribadinya dengan jalan diberkati Tuhan melalui ketaatan hadir di “ibadah” yang dipercayainya, tanpa pertimbangan apa hakekat ibadahnya itu kelak bila ditanya Tuhan kepada diri masing-masing.

Teman-teman, ibadah anda adalah persoalan kontribusi kekuatan anda di tengah komunitasmu. Tidak banyak kita yang memperhatikan komposisi anggota komunitasnya masing-masing lalu menerjemahkannya kepada kebutuhan untuk saling melengkapi.

Berapa banyak diantara kita yang terampil dan Terdidik lalu peduli kebenaran mengasihani yang belum terampil dan belum terdidik, agar terjadi perbaikan dan saling meningkatkan kompetensi semua? Namun tidak terpikir sedikitpun untuk share/berbagi akan “kekuatan”nya tersebut kepada orang lain di sekelilingnya.

Kita jangan berbicara uang atau materi saja. KEKUATAN ANDA ADALAH SKILL ANDA. Dan sesungguhnya kita tidak akan jadi miskin bila share skill dan kompetensi, sebaliknya dunia kita akan jauh lebih indah karena semua tambah hari lebih baik keadaannya.

Paling sederhana, yang bisa mengemudikan mobil, maukah mengajar mengemudi kepada yang ingin bisa mengemudi tapi tidak ada yang mengajari?

Ada banyak Kompetensi di tengah komunitas jemaat, namun tidak terpikir untuk saling berbagi untuk menolong yang lebih lemah. Yang sudah fasih di berbagai bidang seni, paramedis, berbahasa, ekonomi, computer, soft skil atau hard skill. Masing-masing setidaknya bisa sebagai relawan mengajari para muda-mudi atau siapa yang membutuhkan, melalui kompetensinya masing-masing.

Apakah sudah pernah di listing kumpulan kompetensi dan yang masih lemah dalam berbagi kompetensi? Siapa yang mau peduli?

Dalam bidang serba IT saat ini semua orang perlu tambahan keterampilan, dan keterampilan tersebut sudah dimiliki setidaknya oleh beberapa orang, namun itu tidak (belum) di share kepada anggota komunitasnya, Contoh: kemampuan bermain alat musik, atau penguasaan paket software aplikasi disiplin ilmu telah beredar, ada yang mahir dan saat ini bisa mulai di share.

Teman yang memiliki “kekuatan” tersebut perlu dengan senang hati rela untuk mengajari teman lain yang perlu; agar yang lain juga bisa memiliki keterampilan tambahan. Bahkan satu sama lain bisa untuk saling berbagi kelebihan “kekuatan”nya tanpa berkurang sedikitpun hal itu dari dirinya.

Kitab Suci, Surat I Korintus
14:26 Jadi bagaimana sekarang, saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun.

Saya percaya, pengajaran disini selain berarti khotbah agamawi yang begitu klise (pengkhotbah atau yang dikhotbahi sama-sama lupa tuh khotbah tiga bulan apalagi tiga tahun lalu hi hi hi hi hi) bisa juga berarti ada berbagai kesibukan orang-orang sharing kompetensinya lebih dari sekedar pengajaran bertutur (tukang jual obat/kampanye JANJI tanpa pernah ada bukti==> ingat! hari gini masyarakat sudah malu deh kalau: manusia hidup capeknya cuma cuap-cuap tanpa makna lalu pulang diamplopin lagi).

Dan saat untuk berkumpul bisa juga by appointment. Karena disini hanya dikatakan bilamana kamu berkumpul.

Anda penganut sakralnya hari sabat atau hari minggu? Apa kata Isa al Masih mengenai hari sabat dan bait Allah?

Kitab Suci, Injil, Surat Matius

12:6 Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah.
12:7 Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah.
12:8 Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.

Mari kita lanjutkan.

Hidup ini akan menjadi lebih indah saat kita berbagi. Dan berbagai kompetensi keahlian yang dimiliki sudah saatnya untuk dibagikan untuk saling membangun sesama. Itu harus dimulai dari sekarang dan dari diri kita, melalui komunitas yang ada.

Namun ironis, semua masih berkumpul untuk duduk mendengar ceramah keagamaan monolog satu orang di depan banyak orang (untuk rada lupa lagi), terus menerus. Tanpa perubahan pikiran untuk saling memperhatikan kekurangan orang lain dan membantu mereka melalui keterampilan yang telah kita miliki, maka memang himpunan orang dan rumah ibadah itu sangat kecil arti dan kontribusinya bagi sesama apalagi bagi bangsa yang besar ini.

Dalam kondisi seperti ini, kehadiran dan bertambahnya rumah ibadah kristen tidak berbanding lurus dengan benefit bagi mayarakat luas yang membutuhkan.....Apakah anda yakin kekristenan ini merupakan rencana Tuhan sejak semula atau ....? ....aneh tapi nyata bukan?

Dalam perspektif parsial, harusnya kita terus bertanya apa kontribusi saya, kita, atau kami kepada “mereka” yang belum beruntung atau seperti saya.

Ini otokritik saya. Apakah arsitek kristen sudah berpikir menolong orang membangun rumah sehat lebih efisien dan ekonomis kepada orang di sekitarnya? Belum? Atau setidaknya mengajar beberapa aplikasi komputer sederhana kepada teman komunitas di sekitar anda.

Lalu bagaimana anda bisa berpikir orang akan peduli atau respek akan keberadaan status anda mentereng sebagai arsitek kristen? Selama belum dirasakan kontribusi nyata skill/kekuatan anda tersebut kepada sesama, diri anda bahkan uang anda rasanya kurang berarti (orang mual mau muntah melihat kekristenan yang ditunjukkan selama ini).

Saya agak sarkastis, tapi supaya lebih jelas cara orang lain yang idiot berpikirnya: kalau begini memang taik adanya, buat apa si arsitek kristen ini ada di bumi, bakar saja!

Atau anda terlalu profesional dan tidak mau karena takut ilmu anda jadi murahan? Setidaknya berpikirlah secara corporate social response seperti yang dipraktekkan dunia saat ini.

Kelak kita malu jika kebaikan kita tidak ada dibanding orang yang bahkan tanpa pengenalan yang jelas akan TUHAN (menurut kita) tapi sudah begitu luarbiasa berusaha memberi arti hidupnya bagi dunia.

Berikut adalah share sedikit dari ceramah ibu Lili Everin dalam sebuah pertemuan komunitas kami.

Buat manusia di kalangan paruh baya, perlu paham "empat S" fase hidup: 1. Struggling 2.Success. Tidak selesai disitu. Manusia 45 tahun keatas harus mengenal 2 fase berikutnya: 3.significant dan 4.surrender.

Wow keren valuenya bukan?

1. Struggling, Masa Berjuang. Kita semua kenal fase ini,sejak muda berusaha dan terus berusaha lebih berhasil lagi untuk sampai fase

2.Sukses . Banyak orang peraih-peraih sukses di usia paruh bayanya dan menikmati itu. Awas, ini bahaya.

Sampai difase Sukses saja adalah awal kehancuran manusia paruh baya. Pria sukses diparuh baya sering tergelincir dan binasa di banyak dosa saat mulai bisa dan leluasa mencicipi ini dan itu "yang baru" dari kenikmatan maknyus dunia. Sekedar nostalgia, semasa SMA dulu, teman-teman masuk diskotik dan berlarian keluar. Karena bertemu ayah teman (seorang kristen) punya jabatan BUMN lagi asyik di dalam.

Anak dan ayah sangat mungkin bertemu di comberan. Tanpa terus melangkah ke fase significant, Berarti ( bagi sesama) sukses hanyalah jerat dunia belaka.

Hanya sampai pada puas dan bangga mengenai pencapaian diri adalah sinting kalau bukan gila.Tanpa signifikansi, kekristenan equivalent dengan nol

3. Fase signifikan justru penting. Ada contoh menarik dari significant. Dua pria terkaya di dunia ini sudah masuk ke dunia significant mereka yaitu Bill Gates dan Warren Buffet. Mereka melangkah menjadi philantroupe, hidup untuk membaktikan diri dan sukses yang diraihnya kepada umat manusia seluruh dunia.

Mungkin karena begitu rahasianya, sulit menceritakan siapa orang kristen anak bangsa yang berniat mulia bagi sesama dan tenang menunjukkan siapa dirinya. Mungkin Oom William pendiri Astra. Mereka tidak sibuk menghitung suksesnya saja, namun terus menyempurnakan definisi suksesnya. Bahkan value itu hidup, bahkan sampai si foundernya sudah tidak ada. Kenapa? karena prinsip 4S ini. Bahkan banyak orang kaya di negara barat yang sudah menyadari ini, memutuskan untuk tidak semena-mena menghibahkan kekayaannya sebelum keturunannya mengenal fase struggling itu sendiri. Mereka sadar,tanpa struggling, melepas kesuksesan hanya berarti membunuh masa depan keturunannya.

Gampangnya buat kita adalah mengasihani diri sendiri dan menyalahkan dunia. Dunia kejam, tidak adil, dsb. Tapi itu suara pecundang. Salib itu bukti teladan Junjungan kita Isa Al Masih, sama sekali bukan pecundang.

Namun signifikani juga belum selesai, karena kesombongan dan keangkuhan juga siap menjerat dan menghadang orang-orang di fase ketiga ini. Dalam sukses dan berhasilnya John Lenon pernah berkata: sekarang lihat, The Beatles lebih terkenal dari Yesus.

Tanpa publikasi luas, namun akhirnya meluas Kita tahu sampai akhir hidupnya dia berjuang mencari identitas dan tenggelam dengan drugs, bahkan hidupnya berakhir dibunuh justru oleh fans fanatiknya sendiri. Tragis.

Puas dan bangga diri dekat kepada Keangkuhan. Itu adalah pelukan maut yang mematikan. Ingat kisah raja Babel Nebukadnezar, emperor (raja besar), harus menanggung hina dan gila saat menyombongkan diri dan tidak tunduk pada Tuhan, atau King Herod mencoba berkata sebagai suara Tuhan. Amblassshh sampai ke jurang maut.. Takutlah akan Tuhan.

Kitab Suci, Surat Amsal Solaiman
8:13 Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat

Kitab Suci, Surat Amsal Solaiman
10:27 Takut akan TUHAN memperpanjang umur, tetapi tahun-tahun orang fasik diperpendek.

Kitab Suci, Surat Amsal Solaiman
14:2 Siapa berjalan dengan jujur, takut akan TUHAN, tetapi orang yang sesat jalannya, menghina Dia.

Kitab Suci, Surat Amsal Solaiman
14:26 Dalam takut akan TUHAN ada ketenteraman yang besar, bahkan ada perlindungan bagi anak-anak-Nya.

Fase keempat buat insan paruh baya adalah 4. Surrender, berserah (menyerahkan hidup) kepada TUHAN. Pelayanan Isa Al Masih dalam menyenangkan dan taat bagi Bapa di awal dan akhir adalah menyerahkan kehendakNya.

Awal pelayananNya dicatat sebagai berikut.

Kitab Suci, Injil, Surat Matius

3:14 Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya: "Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku?"
3:15 Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: "Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah." Dan Yohanes pun menuruti-Nya

Di akhir masa pelayananNya pun tidak berubah

Kitab Suci, Injil, Surat Matius
26:42 Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!"

Tidak ada teladan lain: Isa Al Masih, Yesus Kristus. Penyerahan kepada Kristus yang tersalib bagi kemuliaan Bapa, memastikan siapapun kita bebas dan sanggup terus melangkah bahkan untuk mengulang dan meraih banyak sukses atau pun signifikansi tanpa tersandung kesombongan yang sia-sia.

Hope you all be blessed my dear friends

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan menuliskan komentar Anda. Kami akan segera menanggapinya. Terimakasih, Tuhan memberkati.