googleb2757ebb443295f5 Masa Depan Cerah: Evangelism is a way of life

Kamis, 03 Oktober 2013

Evangelism is a way of life

Apa yang langsung terlintas dalam benak anda saat mendengar kata penginjilan? Ada orang yang tidak mengerti apa itu penginjilan, ada pula orang yang langsung tegang atau ketakutan mendengar kata itu. Mengapa hal ini bisa terjadi? Sebab ternyata banyak orang Kristen yang takut bila harus mengabarkan Injil. Mereka takut mendapatkan penolakan atau bahkan penganiayaan dari masyarakat. Ada pula yang merasa diri tidak toleran terhadap agama lain, ada yang takut dicap fanatik dan lain sebagainya.

Dari pengalaman menggembalakan beberapa tahun yang lalu, kami terbeban untuk memperlengkapi jemaat untuk bukan saja bertumbuh kerohaniannya namun juga menjadikan mereka saksi Kristus yang efektif. Hingga kami bukan saja mengadakan pemuridan namun juga pelatihan misi & penginjilan. Kami berhasil mengutus jemaat untuk menjadi misionaris lokal, memberitakan kabar baik pada suku terabaikan. Namun kami juga tidak dapat memungkiri bahwa ada pula jemaat yang mengikuti pelajaran di kelas misi & penginjilan ini, hanya sekedar untuk mendapatkan “pengetahuan”. Dan hal ini tampak saat praktek lapangan “banyak yang berhalangan hadir”. Seolah memberitakan Injil merupakan sebuah tugas yang mengerikan.

Banyak juga orang Kristen beralasan panggilan Tuhan atas hidup mereka bukanlah penginjil, dan menaruhkan beban penginjilan sepenuhnya pada mereka yang terpanggil atau memiliki jawatan sebagai penginjil. Banyak orang percaya bahwa tugas penginjilan “hanya” bagi orang-orang tertentu dengan pengurapan khusus seperti Billy Graham, Luis Palau, Morris Cerullo, Reinhard Bonnke, Oral Roberts, Benny Hinn dan nama besar lainnya. Sebab mereka berpikir bahwa menginjili orang berarti mereka harus mengadakan acara kebaktian penginjilan atau KKR di stadion sepakbola dan lalu berkhotbah mengenai berita keselamatan bagi para hadirin. No wonder! Benarkah pandangan tersebut? Bagaimana di gereja atau tempat pelayanan anda?

Saya percaya bahwa ada jawatan penginjil, Alkitab menyatakan,”IA (Tuhan Yesus) lah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.”(Efesus 4:11-13)

Memang ada jawatan penginjil namun penginjilan bukanlah semata tugas dia seorang diri atau hanya sekelompok orang saja. Para penginjil ditugaskan bukan saja mewartakan Kabar Baik bagi yang terhilang tetapi mereka juga bertugas memperlengkapi umat Tuhan bagaimana cara mengabarkan berita Injil. Tuhan menugaskan kita semua untuk menjadi saksi-saksiNya. Dan inilah pesan Tuhan sebelum Ia naik ke sorga,”Kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiKU di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”(Kisah 1:8). Haloooo, ini tugas kita semua sebagai anak Tuhan.

”Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKU dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:19-20). Ini adalah sebuah amanat terakhir sebelum YESUS naik ke surga. Sebuah amanat agung yang harus gereja TUHAN lakukan. Namun apa daya, sebagian besar gereja di akhir zaman ini sudah melupakannya dan fokus hanya untuk kepentingan segelintir golongan. Akibat kemandulan gereja dalam mengemban amanat agung ini, lahirlah pelayanan atau organisasi penginjilan (parachurch) di luar institusi gereja.

Gereja harus berfokus pada menghasilkan murid (disciples) dan bukan sekedar pengikut (followers). Juan Carlos Ortiz dalam bukunya Murid Sejati menyatakan bukti kegagalan gereja menghasilkan murid Kristus adalah terlahirnya Sekolah Alkitab. Sebuah kritikan pedas namun dapat menjadi cambuk bagi tiap gembala sidang untuk mulai memperlengkapi jemaat Tuhan menggenapi Amanat Agung Tuhan Yesus. Sampai kini Sekolah Alkitab masih berdiri untuk menopang, puji Tuhan atas hal tersebut. Sekaranglah saatnya bagi gereja TUHAN untuk bangkit dan memperlengkapi umat Tuhan serta mengutus mereka menjadi garam dan terang dunia.

Ada perbedaan yang sangat mendasar antara seorang murid dan pengikut, seorang Pengikut Kristus yang hanya menginginkan berkat dan identik dengan sesuatu yang bersifat materi. Seorang pengikut akan memuji Tuhan kala segala sesuatu berjalan lancar sesuai kehendaknya. Namun ketika segala sesuatu menjadi sulit, ia dapat dengan mudah melupakan Kristus bahkan beralih iman. Tuhan tidak pernah terkesan dengan mereka yang bermulut manis, sebab IA tahu isi hati setiap manusia.

Sedangkan seorang murid Kristus tahu ketika ia melakukan kehendak Tuhan, maka berkat Tuhan maka berkat Tuhan sudah ada di atas kepalanya dan siap untuk dicurahkan. Seorang murid rela berkorban bagi Tuhan dan sesamanya.

Saya kagum pada kesungguhan dan ketulusan Bunda Teresa (almarhum), yang rela hidup apa adanya untuk dapat melayani kaum yang kurang beruntung di Calcuta, India. Dia tidak menunggu sampai ada pihak donatur datang dan baru bergerak melayani. Saat pimpinan rohaninya tidak mendukungnya, dia tetap percaya bahwa Tuhan yang akan menolong dan membuka jalan. Kala ia tidak memiliki kelas untuk mengajar, kala ia tidak memiliki kapur dan papan tulis; ia mengajar di alam terbuka, menggunakan sebatang kayu untuk menulis dan tanah sebagai media papan tulisnya. Ia mungkin bukan seorang yang cakap mengajar atau berkhotbah tentang kasih namun kasihnya terbukti dengan merawat mereka yang sakit kusta dan aneka penyakit lainnya. Kasihnya meluap dari hubunganya yang dekat dengan Tuhan Yesus. Sungguh kehidupan Bunda Teresa memberikan inspirasi yang luar biasa mengenai kasih Kristus di muka bumi.

Ada banyak strategi penginjilan yang diajarkan. Salah satu pelajaran penginjilan dasar, sebagai contoh ada metode 4 Hukum Rohani yang diperkenalkan oleh Para Navigator. Saya mengenal metode ini kala duduk di bangku Sekolah Alkitab. Dimana metode ini menjadi landasan pola penginjilan kami saat itu. Dimana kami harus praktek lapangan dengan menggunakan cara tersebut.

Di sini saya akan sedikit saja menjabarkan cara penginjilan 4 Hukum Rohani, agar anda memiliki gambaran:


ALLAH INGIN KITA TAHU BAHWA:

Semua orang adalah orang berdosa dan tidak dapat menyelamatkan diri kita sendiri. Sebagaimana ada tertulis “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23)”
Yesus Kristus sudah menyediakan jalan keselamatan. Sebagaimana ada tertulis,”Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16)
Kita harus bertobat dari dosa-dosa kita, mengakui dan meninggalkannya. Sebagaimana ada tertulis,”Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kitadan menyucikan kita dari segala kejahatan.(1 Yohanes 1:9)
Hal menerima atau menolak jalan keselamatan ini akan menentukan nasib kita di akhirat. Sebagaimana ada tertulis “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat pada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada atasnya.” (Yohanes 3:36)

Ada pula metode pengembangan yang hampir sama dari Explosion Evangelism (EE). Kala saya menggembalakan sebuah sidang jemaat di kota Surabaya, saya pun pernah mengutus beberapa staf gereja dan jemaat yang aktif untuk diperlengkapi di EE-Malang.

Ke dua pelayanan ini secara luar biasa dipakai oleh Tuhan dan memberikan fondasi untuk penginjilan yang efektif dalam mengabarkan Injil baik secara individu maupun kelompok. Masih ada juga cara Roman’s Road (pola Jalan Roma), yang sempat saya pelajari saat mengikuti pendidikan theologia.

Saya pernah melakukan penginjilan dengan membagi-bagikan traktat di jalan-jalan, ada pula metode “hit and run”, yang diprakarsai oleh pelayanan JTC melalui traktat bergambarnya yang menarik (Di Indonesia traktat ini dicetak oleh pelayanan Nafiri Allah Terakhir). Dan ada pula traktat tertulis yang dicetak oleh penerbit Gandum Mas. Namun ini semua bukan satu-satunya metode dalam penginjilan. Ada begitu banyak ragam dalam mengabarkan Kabar Baik bagi mereka yang terhilang. Sebagai informasi traktat merupakan penjabaran berita Injil melalui tulisan atau gambar cetak.

Cara-cara di atas ini baik, namun bagi beberapa orang cara tersebut membutuhkan nyali besar atau bahkan kadang menakutkan. Kebanyakan cara penginjilan yang diajarkan di kelas-kelas pemuridan atau school of ministry, mirip dengan salah satu pola di atas. Saya pun mengajar hal ini di kelas penginjilan. Metode itu menjadi salah bila menjadi satu-satunya cara untuk mengabarkan Injil. Tuhan kita kreatif dan dinamis, IA tidak kaku, kuno ataupun statis. Di saat saya merasa frustasi dan gagal memperlengkapi jemaat untuk menggenapi Amanat Agung, saat itulah Tuhan mewahyukan hal-hal baru dan semuanya itu saya tuangkan dalam buku ini.

Buku ini ditulis untuk menyadarkan pada setiap anak Tuhan bahwa penginjilan merupakan tugas kita semua. Tuhan memanggil kita untuk mengikuti teladan hidupNya dan menghasilkan buah bagi Kerajaan Tuhan. Penekanan dalam buku ini adalah penginjilan bukan sebagai sesuatu yang menegangkan apalagi menakutkan. Kita akan belajar mengenai pola penginjilan yang natural dan bersahabat sehingga dapat diimplementasikan dengan mudah oleh semua orang.

Apakah anda pernah membaca bagaimana jemaat mula-mula merupakan jemaat yang disukai dan setiap hari jumlah mereka ditambahkan Tuhan(Kisah 2:47)? Mengapa jemaat mula-mula dapat mempengaruhi dunia dalam waktu yang singkat? Padahal kebanyakan dari mereka hidup di tengah aniaya hingga mengungsi keberbagai kota (Kisah 8:1b)?

Bagaimana cara mereka mewartakan berita Injil? Apakah strategi khusus mereka? Metode apa yang mereka gunakan? Darimana mereka memiliki keberanian untuk mengabarkan Injil di tengah situasi yang sesulit itu? INGAT: PENGINJILAN bukanlah sesuatu yang menakutkan sebab merupakan bagian kehidupan kita. Ketika anda hidup dalam ketaatan, berita Injil itu sudah ada dan nampak dalam hidup sehari-hari anda.

Saya percaya bahwa sebenarnya penginjilan bukanlah sesuatu yang menakutkan, tidak perlu biaya besar, tidak perlu keahlian dan pelatihan bertahun-tahun, yang diperlukan adalah hati yang penuh dengan belas kasihan terhadap mereka yang terhilang. Sebagaimana pandangan mata BAPA terhadap mereka yang belum mengenal putraNYA yang tunggal, YESUS KRISTUS atau bahkan mereka yang telah meninggalkan DIA dengan alasan mereka sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan menuliskan komentar Anda. Kami akan segera menanggapinya. Terimakasih, Tuhan memberkati.